Selasa, 28 Februari 2017

Teknik dan Gaya Menulis Artikel Opini



Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia (PBSI), Universitas Flores, Ende

Berita SMK Nomor 12, Tahun I, Mei 2016 telah menurunkan opini saya tentang artikel opini dengan judul “Kebiasaan Menulis Artikel Opini: Melatih Kecerdasan Berpikir dan Kecermatan Pilih Kata.” Berita SMK kali ini saya melanjutkan telaah tentang artikel opini dengan menitikberatkan penjelasan pada teknik dan gaya penulisan artikel opini. Berikut penjelasannya.

Teknik Menulis Artikel Opini

Banyak calon penulis kita yang merasa sulit dalam memulai menulis artikel opini. Dia merasa bahwa ada banyak ide atau gagasan di kepalanya, tetapi persoalannya adalah bagaimana memulainya? Bahkan tidak sedikit orang merasa sudah pintar menulis pada waktu menceritakan bahwa dia akan menulis. Tetapi ternyata, begitu mulai menulis, dia tidak bisa menulis, maka gagallah dia menulis. Ide atau gagasan yang bagus di kepalanya tidak jadi dibagikan kepada orang banyak karena gagal menulis. Apakah ada tips yang dapat diberikan kepada para calon penulis seperti itu?

Seorang penulis artikel opini kaliber dari Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, Mudrajad Kuncoro dalam bukunya Mahir Menulis (2009, halaman 67), memberikan nasihat kepada para calon penulis artikel opini. Kuncoro menawarkan dua kiat atau teknik sederhana untuk mulai menulis. Kedua kiat itu adalah kiat re-writing (menulis ulang) dan kiat free-writing (menulis bebas). Kedua kiat ini gampang diikuti dan dikembangkan oleh siapa saja, baik oleh para calon penulis maupun penulis sudah mahir.

Pertama, teknik re-writing (menulis ulang). Menurut Kuncoro (2009, halaman 68) teknik re-writing adalah teknik menulis yang paling mudah. Proses yang dilakukan dimulai dengan mengumpulkan ide atau gagasan dengan jalan membaca banyak, yakni membaca buku-buku, majalah, surat kabar, kliping, dokumen, membaca internet, atau dokumen yang lain. Ide juga bisa dikumpulkan dari hasil diskusi dengan orang lain, ikut seminar, ceramah, perkuliahan, pertemuan, wawancara, hasil penelitian, pengalaman pribadi, dan lain-lain.

Ide atau gagasan yang terkumpul dan tersedia di kepala itu akan kita tuangkan dalam artikel opini kita. Kalau kita merasa ide sudah cukup di kepala, kita langsung saja mulai menulis, jangan tunggu lama-lama lagi.

Lebih dahulu menulis judulnya yang menarik perhatian kita. Judul ini nanti bisa saja diubah pada waktu opini diedit atau disunting. Setelah tulis judul, mulai tulis kalimat pertama pada paragraf pertama. Setelah paragraf pertama, lanjut menulis paragraf kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya sampai paragraf terakhir sebagai penutup artikel opini kita. Setelah semuanya selesai ditulis, dibiarkan dahulu untuk beberapa waktu, bisa untuk beberapa jam bisa pula beberapa hari. Setelah itu kita mulai mengedit atau menyuntingnya.

Kedua, kiat free-writing (menulis bebas). Dengan kiat free-writing seorang penulis artikel secara bebas memilih topik atau pokok masalah yang menarik perhatiannya, tanpa mempedulikan bagus atau tidaknya topik atau masalah tersebut. Pokoknya, begitu ada ide atau gagasan yang terlintas di kepala langsung saja menulis, terus menulis, menulis sampai tidak ada lagi yang mau ditulis tentang topik atau masalah tesebut.
Menurut Kuncoro, seseorang dalam kondisi tertentu, misalnya sedang marah, sedang gembira, atau dalam keadaan tertekan, secara psikologis, pikiran dan perasaannya terbuka. Momen tersebut merupakan peluang emas untuk menulis dengan menggunakan kiat free-writing. Hasil pertama tentu belum memuaskan karena tidak dilakukan secara teratur dan sistematis. Setelah semuanya selesai ditulis, dibiarkan dahulu untuk beberapa waktu, bisa beberapa jam bisa pula beberapa hari. Setelah itu kita mulai mengedit atau menyuntingnya. Tahap penyuntingan ini mutlak diperlukan dalam kiat free-writing ini.

Banyak penulis artikel opini yang terkenal memberikan nasihat dan saran agar calon penulis artikel opini tidak perlu takut salah pada waktu menulis. Pada saat menulis seseorang tidak boleh terjerembab dalam penyesalan atas setiap kesalahan yang dilakukannya dalam menulis. Terus saja menulis sampai akhir dengan mengalir tanpa harus merisaukan kesalahan apapun. Kesalahan yang terjadi dalam menulis nanti ada waktu khusus untuk memperbaikinya, yakni pada waktu mengedit atau menyuntingnya.

Ada dua jenis pengeditan, yakni pengeditan secara redaksional dan pengeditan secara substansial. Pengeditan secara redaksional bertujuan untuk memastikan bahwa artikel opini yang telah disusun tidak memiliki kesalahan bahasa, seperti kesalahan penggunaan tanda baca, penulisan huruf, penulisan huruf miring dan hurif tebal, penggunaan kata, penulisan singkatan, akronim, pengetikan, dan lain-lain. Ingat, artikel opini akan dibaca masyarakat luas sehingga kesalahan sekecil apapun harus dihindari.

Pengeditan secara substansial bertujuan untuk memastikan bahwa artikel opini itu terhindari dari kesalahan isi atau substansi yang dibahas. Pengeditan ini sangat penting agar kekuatan atau bobot artikel yang disusun bisa terjaga dan terjamin benar isinya. Hal yang mesti diperiksa adalah koherensi atau kepaduan dari keseluruhan isi artikel dari awal sampai akhir. Setiap kata dalam kalimat, setiap kalimat dalam paragraf, dan setiap paragraf dalam keseluruhan artikel harus memiliki kepaduan yang semuanya mendukung tema atau pokok permasalahan yang diangkat dalam artikel opini.
Jika semua unsur itu dirasa belum padu, editlah sekali lagi. Proses mengedit adalah proses yang terus-menerus dilakukan sampai penulis merasa bahwa semua unsur dalam artikel itu tidak ada lagi yang cacat, siap untuk dikirim ke media massa.

Ada banyak artikel opini yang ditolak oleh redaktur media massa karena tidak cermat dalam proses pengeditan. Ini tentu disayangkan, ide brilian yang terdapat dalam artikel opini kita yang perlu diketahui banyak orang, menjadi gagal dimuat media massa hanya karena kesalahan pengeditan atau proses pengeditan yang tidak matang.

Gaya Menulis Artikel Opini

Gaya penulisan adalah kecenderungan teknik penyajian artikel opini oleh seorang penulis dalam mengemukakan gagasan atau pandangannya kepada pembaca. Coba kita perhatikan gaya penulisan setiap artikel opini yang dimuat harian Kompas pada halaman 6 dan 7, Pos Kupang pada halaman 4, Victory News pada halaman 4, dan Flores Pos pada halaman 12.

Ada empat jenis gaya penulisan karangan, termasuk penulisan artikel opini, yakni gaya penulisan eksposisi, deskripsi, argumentasi, dan narasi. Masing-masing gaya penulisan mempunyai ciri-ciri tersendiri. Gorys Keraf membahas khusus keempat jenis gaya penulisan karangan ini dalam dua bukunya, yakni Eksposisi dan Deskripsi (Nusa Indah, 1981) dan Argumentasi dan Narasi (Gramedia, 1982). Keempat jenis gaya penulisan ini sering disebut orang sebagai jenis-jenis tulisan, sebuah sebutan yang salah. Yang benar adalah gaya penulisan, bukan jenis tulisan.

Dalam buku Mahir Menulis (2009, halaman 71-81) Mudrajad Kuncoro memberi catatan  bahwa gaya penulisan artikel opini tidaklah boleh membuat seorang penulis artikel merasa terikat dalam proses penulisan yang membuatnya kaku. Disarankan agar menulis saja secara bebas sesuai dengan kecendrungannya, setelah itu baru disempurnakan lewat proses penyuntingan. Setiap artikel opini ada gaya penulisan yang dominan yang mewarnai keseluruhan artikel tersebut. Gaya penulisan yang dominan itu biasanya ditunjang pula oleh gaya penulisan yang lain.

Pertama, gaya penulisan eksposisi. Eksposisi adalah uraian atau paparan yang bertujuan menjelaskan suatu maksud dan tujuan (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, 2001, halaman 290). Gaya penulisan ini bertujuan menguraikan, menjelaskan, mendidik, mengklarifikasi, atau mengevaluasi sebuah topik atau persoalan yang dibahas. Penulis berusaha memberi penguraian, pemaparan, penjelasan, keterangan informasi dan petunjuk atas suatu topik  kepada para pembaca.

Eksposisi mengandalkan strategi pengembangan paragraf dengan memberi contoh, proses, sebab-akibat, kalasifikasi, definisi, analisis, komparasi, dan kontras. Artikel opini eksposisi biasanya muncul untuk menjelaskan sebuah topik atau permasalahan agar mudah  diselami oleh pembaca, kemudian memunculkan solusi atas persoalan tersebut. Tulisan eksposisi terkadang dilengkapi dengan grafik, gambar, atau statistik untuk memperjelas uraian.    

Kedua, gaya penulisan deskripsi. Deskripsi adalah penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci (KBBI, 2001, halaman 258). Gaya penulisan ini bertujuan untuk memberi penggambaran atau pelukisan dengan kata-kata (secara verbal) terhadap suatu objek atau topik, baik menyangkut manusia, benda, penampilan, pemandangan, peristiwa atau kejadian.

Gaya penulisan deskripsi berusaha menggambarkan suatu objek sehingga membuat pembaca seolah-olah melihat, mendengar, merasakan, dan mengalami sendiri objek yang dideskripsikan itu. Artikel opini jenis deskripsi mengandalkan pencitraan yang konkret dan mendetail sehingga cenderung impresif dan hidup yang dapat memberi kesan atau menggugah hati para pembacanya. Menulis dengan gaya deskripsi mirip menggambar, tetapi dengan menggunakan kata-kata.

Ketiga, gaya penulisan narasi. Narasi adalah pengisahan suatu cerita atau kejadian (KBBI, 2001, halaman 774). Gaya penulisan ini bertujuan untuk mengisahkan atau merangkai kejadian atau peristiwa secara kronologis, baik yang berupa fakta (kenyataan) maupun yang berupa fiksi (rekaan).

Kata narasi sendiri berarti bercerita. Cerita adalah rangkaian peristiwa atau kejadian yang dikemukakan secara kronologis, bermula pada awal peristiwa terus berkembang menuju puncak (klimaks), kemudian menurun, akhirnya berakhir. Dalam artikel opini, gaya penulisan narasi sering digunakan untuk menjelaskan sebuah permasalahan atau kejadian yang tengah terjadi, dari awal sampai akhir. 

Keempat, gaya penulisan argumentasi. Argumentasi adalah alasan untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan (KBBI, 2001, halaman 64). Gaya penulisan argumentasi bertujuan untuk menunjukkan bukti kebenaran atau ketidakbenaran sebuah hal atau pernyataan. Dalam tulisan jenis ini penulis menggunakan berbagai strategi dan retorika sebagai alat untuk meyakinkan pembaca tentang suatu kebenaran atau ketidakbenaran tersebut.

Tulisan argumentasi mengandalkan berbagai pertimbangan untuk menguatkan argumentasi. Informasi, data, dan fakta menjadi variabel penting untuk menguatkan argumentasi yang dibangun. Biasanya tulisan jenis ini dilakukan oleh orang-orang yang menguasai persoalan atau ahli dalam bidangnya. Tulisan bergaya argumentasi secara tradisional terbagi dua, bersifat deduktif dan induktif.

Keempat jenis gaya penulisan di atas, bukan saja berlaku dalam penulisan artikel opini,  juga berlaku dalam penulisan berbagai jenis karangan yang lain. Masing-masing gaya penulisan tersebut juga bukan norma kaku yang mesti dipilih dan wajib ditaati. Pengetahuan ihwal tentang gaya penulisan artikel diperlukan sebagai pemandu agar penulis memiliki kepekaan gaya dalam proses penulisan sehingga gagasan yang disampaikan berhasil dimengerti oleh para pembaca.
Memahami pokok permasalahan yang dibahas dalam artikel jauh lebih penting, baru kemudian disajikan dengan gaya penulisan yang sesuai. Jika diibaratkan artikel opini adalah barang dagangan, sebagai penjual si penulis harus menghidangkan jualannya dengan cara yang semenarik mungkin agar para calon pembeli tertarik untuk membelinya. Cara yang menarik itulah yang disebut gaya penulisan. *

(Telah dimuat tabloid Berita SMK (terbitan SMK Kabupaten Ende), Edisi Nomor 19, Tahun II, Desember  2016 – Januari  2017).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar