Kamis, 14 Juli 2011

Burung Rajawali Rendra

(Catatan: Artikel kritik sastra ini disusun 25 tahun yang lalu dan sudah dimuat dalam Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia (terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa), Nomor 3, Tahun 7, September 1986, halaman 138-145. Sengaja ditampilkan kembali di sini sebagai  “bentuk rasa hormat”  kepada sastrawan besar Indonesia, W.S. Rendra,  yang pada 6 Agustus 2011 ini genap dua tahun meninggal dunia).

BURUNG RAJAWALI RENDRA

Oleh Yohanes Sehandi

SAJAK RAJAWALI
Sebuah sangkar besi
tidak bisa merubah seekor rajawali
menjadi seekor burung nuri
Rajawali adalah pacar langit
Dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan
tanpa sukma
Tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara
Rajawali terbang tinggi
memasuki sepi
memandang dunia
Rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
Dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka
(W.S. Rendra, Kompas, 5 Agustus 1979).


1. Pendahuluan
            Puisi yang dianalisi ini adalah “Sajak Rajawali” karya penyair W.S. Rendra, yang pernah dimuat dalam harian Kompas edisi 5 Agustus 1979. Penulis tertarik untuk menganalisis puisi ini, bukan saja puisi ini karya seorang penyair kenamaan, tetapi karena puisi ini menurut penulis mengemban suatu misi atau pesan yang selayaknya perlu disimak. Misi atau pesan yang diemban puisi ini tentu tidak bisa ditafsirkan sebagai pesan politis, tetapi dalam pengertian pesan puitis. Dikatakan pesan puitis karena segala makna dan nilai puisi ini akan selalu dapat dikembalikan ke dalam makna dan nilai puisi itu sendiri sebagai suatu karya sastra yang mempunyai ciri-ciri tersendiri sebagai  karya imajinatif yang otonom, yang mesti dilihat dari sudut imajinasi pula.
            Misi yang diemban “Sajak Rajawali” ini sanggup membawa imajinasi kita sebagai pembaca ke dalam alam atau suasana batin yang mendasar dan bersifat murni-manusiawi, karena mengemban misi kebenaran dan kemanusiaan. Pesan puitis yang murni-manusiawi itu sanggup menggedor hati sanubari kita tentang kedirian kita sebagai manusia yang sering terbelenggu karena terjepit oleh berbagai keadaan buruk dan tidak manusiawi. Selain itu, pesan puitis yang diemban puisi ini sanggup menyadarkan kita akan eksistensi manusia sebagai makhluk Tuhan yang dikaruniai kebebasan dan kemerdekaan.

2. Puisi Protes Sosial
            Diakui oleh sebagian pengamat dan kritikus sastra Indonesia yang mempunyai minat terhadap perkembangan puisi-puisi W.S. Rendra, seperti kritikus Dami N. Toda, A. Teeuw, Harry Aveling, Rainer Carle, dan lain-lain, bahwa karya puisi Rendra mengalami “pergeseran” tema yang sangat mendasar, dari kumpulan puisi pertama Ballada Orang-Orang Tercinta sampai dengan puisi-puisinya yang diciptakan pada tahun-tahun terakhir ini, seperti yang terhimpun dalam kumpulan Pamplet Penyair dan Potret Pembangunan dalam Puisi, serta beberapa puisi yang lain. Tema puisi Rendra bergeser dari tema yang lembut, melankolis, dan ramah-manis ke tema yang keras, getir, dan agresif!
            Puisi-puisi mutakhir Rendra sangat jelas menunjukkan tema yang keras, getir, dan agresif itu, yang oleh kebanyakan pembaca dinilai sebagai “puisi protes sosial.” Puisi protes sosial Rendra semakin jelas disadari pembaca (awam) dari istilah yang diberikan Rendra sendiri, yaitu “puisi pamplet.” Namun, dalam menghadapi puisi Rendra, perlu disadari benar oleh pembaca bahwa betapapun keras, getir, dan agresifnya suasana dan tema yang ditampilkan Rendra lewat puisi-puisinya yang mutakhir itu, puisi Rendra tidak bisa  ditafsirkan dalam kacamata politis. Puisi Rendra tetap memiliki dunia yang otonom, segala makna dan nilai puisi itu akan selalu dapat dikembalikan ke dalam makna dan nilai puisi itu itu sendiri sebagai karya yang bersifat imajinatif. Karena itu pula, dalam menafsir dan memahami puisi Rendra, sebagai pembaca kita menggunakan “peralatan ilmu sastra” dan bukan “peralatan ilmu sosial atau ilmu politik.”

3. Struktur Sajak Rajawali
            Sebelum kita menelusuri pesan puitis yang disampaikan “Sajak Rajawali” ini, terlebih dahulu kita mengamati keseluruhan struktur puisi tersebut. Hal ini dilakukan karena bagaimanapun suatu pesan puitis tidak muncul dengan sendirinya tanpa diselubungi satu-kesatuan struktur puisi yang utuh dan sempurna.
            Bila diamati, puisi ini terdiri atas satu-kesatuan bait yang utuh dan sempurna, dan bukan terdiri atas beberapa bait. Jumlah baris puisi yang dipergunakan penyair dalam menuntun pesan puitisnya sebanyak 22 baris. Ke-22 baris itu bila dipecahkan akan membentuk potongan-potongan kalimat yang berjumlah 9 kalimat. Pemecahan bait puisi ini ke dalam kalimat-kalimat terasa sangat jelas bila puisi ini dibaca dari awal sampai akhir, apalagi penyair secara sadar memasang huruf kapital (huruf besar) dalam mengawali setiap kalimat puisi. Setiap kalimat mempunyai satu-kesatuan makna sintaksis yang sempurna.
            Bila baris-baris puisi ini diperhatikan, maka akan terlihat ada baris atau larik yang pendek dan sebaliknya ada juga larik yang panjang. Larik puisi yang terpendek terdiri dari 2 buah kata seperti: /tanpa sukma/, /memasuki sepi/, /memandang dunia/, /duduk bertapa/, dan /mengolah hidupnya/. Adapun larik puisi yang terpanjang terdiri atas 6 buah kata, yakni: /wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka/.
            Dalam “Sajak Rajawali” ada beberapa buah kalimat yang sengaja dipecahkan penyair menjadi beberapa larik. Dengan membagi kalimat menjadi beberapa larik maka akan terasa adanya penekanan makna yang dipentingkan penyair. Misalnya saja, kalimat ke-6, yang berbunyi: /Rajawali terbang tinggi memasuki sepi memandang dunia/. Penyair membagi kalimat tersebut menjadi 3 larik, sehingga penekanan makna pada: /Rajawali terbang tinggi/, /memasuki sepi/, dan /memandang dunia/ terasa sangat intens. Demikian pula pada kalimat yang ke-7, yang dipecah penyair menjadi 3 larik, yakni: /Rajawali di sangkar besi/, /duduk bertapa/, dan /mengolah hidupnya/. Kalimat terakhir (kalimat ke-9) termasuk kalimat panjang (terdiri atas 12 kata); namun, penyair tidak memecahkannya menjadi 3 larik, tetapi menjadi 2 larik, dan untuk memberi penekanan makna pada kalimat panjang tersebut penyair memasang 2 buah tanda koma. Pemecahan kalimat yang terakhir itu oleh penyair menjadi 2 larik (tambah 2 tanda koma) dan bukan 3 larik, terasa cukup beralasan karena kalimat yang terakhir itu merupakan “suasana klimaks” puisi. Kalau puisi itu dibaca, “suasana klimaks” itu akan terasa dan sangat mendukung pesan puitis yang ditampilkan penyair secara tegar dan agresif.
            Kalau diamati secara sepintas puisi ini, penyair lebih banyak mencurahkan perhatian pada segi “pesan puitis” daripada rima dan irama puisi (persamaan dan permainan bunyi bahasa). Namun, kalau kita cermati secara saksama, ternyata penyair tidak sepenuhnya mengabaikan rima dan irama puisi. Rima dan irama puisi yang ditampilkan memperkuat pesan puisi secara keseluruhan. Bunyi bahasa yang digunakan penyair benar-benar bunyi yang mengemban nilai rasa yang tegar, agresif, dan memberontak. Bila diperhatikan bunyi-bunyi bahasa yang dipilih Rendra dalam puisinya pada tahun-tahun terakhir ini, menurut A. Teeuw (1983: 127)  banyak yang bersifat “retoris” dan bukan lagi bersifat “liris.”
            Bunyi-bunyi bahasa yang diperhitungkan Rendra dalam “Sajak Rajawali” ini dapat dilihat pada: sangkar besi – seekor burung nuri; rajawali – pacar langit; rajawali merasa pasti – langit akan selalu menanti; tujuh langit – tujuh rajawali; dan lain-lain. Selain itu, kita pun merasakan juga persamaan bunyi kata-kata berikut ini, seperti: besi – sepi – pasti –menanti – rajawali; dunia – setia – kedua; merasa – merubah – membela – menanti – mematuki.

4. Kata-Kata Simbol
            Pada dasarnya puisi “Sajak Rajawali” ini termasuk puisi yang mudah dipahami maknanya, dan dapat digolongkan ke dalam jenis puisi diafan. Hal ini terlihat karena kebanyakan kata, dan juga kalimat, yang dipergunakan penyair seringkali kita pergunakan dalam komunikasi sehari-hari. Mungkin hanya beberapa buah saja kata yang mengandung makna konotatif berupa perlambang, seperti kata: rajawali, burung nuri, sangkar besi, dan langit. Berikut akan dijelaskan makna kata-kata simbol itu secara singkat.
            Burung “rajawali” seringkali kita identikkan dengan orang-orang yang memiliki kepribadian yang anggun, perkasa, serta memiliki sifat keras hati, berani, dan penuh perjuangan tanpa kenal menyerah. Atau dengan kata lain, rajawali  merupakan lambang bagi orang-orang yang keras hati, agresif, dan pemberang, sekaligus memiliki sifat keberanian untuk membela dan berjuang, demi mewujudkan maksud yang dicita-citakan. Kalau burung rajawali merupakan lambang atau simbol bagi orang-orang yang keras hati, tegar, dan pemberang, sebaliknya “burung nuri” merupakan lambang bagi orang-orang yang berhati lunak, pasrah, dan hanya tahu menerima apa adanya.
            Selain kata “rajawali” dan “burung nuri,” kata yang termasuk kata lambang dalam puisi ini adalah “sangkar besi” dan “langit.” Sangkar besi merupakan lambang dari suatu keadaan dan suasana yang terjepit, terbelenggu, dan tidak mempunyai kebebasan. Keadaan dan suasana terjepit itu, sengaja atau tidak diciptakan oleh para pemegang hak dan pemegang kekuasaan. Sangkar besi merupakan lambang yang tepat bagi keadaan yang tertekan, keadaan yang sangat dibatasi oleh berbagai macam penindasan dan kesewenangan pihak yang merasa mempunyai hak dan kekuasaan.
            Kalau sangkar besi melambangkan keadaan dan suasana yang terjepit dan tertekan, tertindas dan terbelenggu, maka kata “langit” melambangkan suatu keadaan atau suasana yang penuh dengan kebebasan, kemerdekaan, dan harapan. Suasana bebas dan merdeka, tidak terikat, memang sering dilambangkan dengan memakai kata “langit” seperti pada: langit lepas atau langit luas. Kiranya hanya keempat kata itu saja yang terasa agak sukar dalam puisi “Sajak Rajawali” ini.

5. Pesan Puitis Sajak Rajawal
            Pesan puitis “Sajak Rajawali” ini adalah: mencari dan membela kebenaran dan kemanusiaan sejati! Dalam usaha mencari dan membela kebenaran dan kemanusiaan sejati tersebut, penyair yang dalam puisi ini  diwakili  burung rajawali, memekik dengan lantang dan terus terang, tanpa ragu-ragu. Penyair sangat sadar akan tugas kepenyairannya, yakni membela kebenaran dan kemanusiaan. Dengan suara yang keras dan  tegar penyair   melawan dan membongkar “perlakuan-perlakuan” yang tidak adil, tidak benar, dan tidak manusiawi. Keterusterangan suara penyair lewat rajawali ini karena di mata penyair “kebenaran” dan “kemanusiaan” kini sudah tercemar oleh tangan-tangan jahil, oleh para pencemar yang durhaka.
            Usaha burung rajawali dalam mencari dan mebela kebenaran dan kemanusiaan sejati ini merupakan usaha dan tugas kemanusiaan yang sungguh-sungguh. Di mata rajawali, sudah  banyak korban keadaan terbelenggu dan terjepit serta tertindas. Yang menjadi korban  itu tidak lain dan tidak bukan adalah rakyat kecil yang lemah, bodoh, terkebelakang, dan tak berilmu. Manusia-manusia seperti inilah yang selalu berada dalam keadaan “sangkar besi” yang terjepit dan tertindas. Lebih lanjut “sangkar besi” itu pulalah yang membuat rakyat kecil yang lemah, miskin, dan tak berdaya itu tidak mempunyai ruang gerak yang bebas, tidak mempunyai “langit” yang melambangkan kebebasan yang merupakan dambaan setiap insan.
            Kondisi yang terjepit dan terbelenggu itu biasanya disengaja atau tidak, diciptakan oleh oknum-oknum manusia sesama, manusia-manusia yang mempunyai hak atau diberi hak atau merasa memiliki hak dalam suatu tatanan sosial kemasyarakatan. Oknum-oknum manusia yang mempunyai hak atau merasa mempunyai hak inilah, yang menurut penglihatan sang rajawali menjadi sumber keadaan yang terjepit dan tertindas: merekalah “pencemar-pencemar” kebenaran dan kemanusiaan!
            Keadaan yang terjepit dan terbelenggu  oleh keserakahan antara sesama itu, mau tidak mau menguakkan suatu pertanyaan: tidakkah kebebasan dan kemerdekaan bagi mereka yang tertindas itu untuk memperjuangkan kebenaran dan kemanusiaan mereka demi langit baru mereka? Akan hilangkah hakikat, harkat, dan martabat mereka karena terbelenggu “sangkar besi?” Adakah harapan baru buat kaum tertindas dan terjepit itu untuk “menggapai” kebebasan yang manusiawi, untuk menggapai “langit baru” yang didambakan?
            Menyadari tugas kemanusiaan yang luhur, murni-manusiawi, menyebabkan rajawali dalam “Sajak Rajawaliu” ini terpanggil untuk menjadi pahlawan sejati  bagi sesama dalam  mencari dan membela kebenaran dan kemanusiaan yang sejati. Rajawali dengan  semangat pemberontakannya menerobos “sangkar besi” dan terbang menggapai “langit kebebasan,” karena sang rajawali menyadari sepenuhnya bahwa ia benar-benar adalah “pacar langit.” Rajawali dengan penuh yakin memastikan bahwa:
            Sebuah sangkar besi
            tidak bisa merubah seekor rajawali
            menjadi seekor burung nuri
            Rajawali adalah pacar langit
            Dan di dalam sangkar besi
            rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
            Keyakinan dan kepastian untuk meretas dan membongkar sangkar besi yang kemudian terbang menggapai “langit” kebebasan, adalah watak dasar burung rajawali dalam membela dan menegakkan kebenaran dan kemanusiaan. Bagi rajawali, sifat keberanian dan ketegaran harus dimiliki dan diperjuangkan, sebab tanpa keberanian dan ketegaran ibarat keluasan dan kebebasan tanpa sukma. 
Langit tanpa rajawali
            adalah keluasan dan kebebasan
            tanpa sukma
            Untuk mempertegas keberanian dan ketegaran membela kebenaran dan kemanusiaan, rajawali tidak tinggal diam. Rajawali “terbang tinggi” mengembara melewati: tujuh langit, tujuh cakrawala, dan tujuh pengembara! Rajawali yang menyadari akan tugas panggilan kepahlawanannya “memasuki sepi” dan dari sana ia memandang “penderitaan dunia” akibat penindasan, pembelengguan, dan keserakahan sesama. Penyair Rendra melukiskannya dengan sangat bagus.
            Tujuh langit, tujuh cakrawala
            tujuh rajawali, tujuh pengembara
Rajawali terbang tinggi
memasuki sepi
memandang dunia
Walaupun rajawali terkadang merasa diri dikejar-kejar oleh rantai “sangkar besi” ia tidak mau menerima kenyataan yang getir itu dengan pasrah dan menyerah kalah. Rajawali sebagai pahlawan kebenaran dan kemanusiaan sejati merasa tidak tega melihat penderitaan kaum tertindas. Keadaan itu membuat rajawali  prihatin, keprihatinan itu diolah dalam  renungannya  dalam perjuangan  “membela langit.”
Rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
Semangat pahlawan kebenaran dan kemanusiaan sejati terus berkobar  bahkan dengan gemuruh yang menggelegar penyair lewat burung rajawali, pada bagian akhir puisi dengan lantang “memvonis” dan memastikan bahwa rajawali akan mematuk kepala para pencemar langit, kaum yang durhaka. Dua larik penutup inilah menjadi klimaks kemarahan penyair W.S. Rendra lewat  Sajak Rajawali:
Dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

6. Penutup
            Setelah kita menelusuri “pesan puitis” puisi Rendra ini, maka kita ketahui bahwa “Sajak Rajawali” karya penyair besar Indonesia, W.S. Rendra, telah berhasil mengemban misi mencari kebenaran dan kemanusiaan yang sejati. Semangat pemberontakan Rendra tercermin dengan sangat bagus dalam “Sajak Rajawali” ini.

Kepustakaan
Junus, Umar. 1981. Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern. Jakarta: Bhratara.
Teeuw, A. 1967. Modern Indonesia Literature. The Hague: Martinus Nijhoff.
----------------. 1983. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.
              
             

 

2 komentar:

  1. helo sir, may i tag it ur writting regarding rajawli into my blog,thanks

    BalasHapus
  2. Pak, saya ada teks kliping Kompas tepat pada Sajak Rajawali karya Rendra yang di sebelahnya ada Satu karya Sutardji. Heran ada 2 karya raksasa dalam satu hari. Ya, pada tanggal itu, 5 Agustus 1979.

    Namun di situ ada baris: ...merjan-merjan kemungkinan... yang saya tak temukan di kutipan puisi bapak ini. Apakah ada dua versi sajak?

    BalasHapus