Kamis, 09 Mei 2019

Mengenal 5 Buku Antologi Puisi Sastrawan NTT


Oleh Yohanes Sehandi
Penulis Buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT

Dalam catatan saya, sampai dengan tahun 2019 ini, baru ada lima buku antologi puisi karya para sastrawan NTT yang telah diterbitkan. Dilihat dari segi banyaknya penyair dan banyaknya puisi yang terhimpun di dalamnya, kelima buku antologi puisi ini bisa dinilai sebagai “representasi” karya para penyair  NTT yang berkiprah di panggung sastra Indonesia modern. Kelima buku antologi tersebut diperkenalkan secara singkat berikut ini.

Pertama, buku puisi Senja di Kota Kupang (2013), tebal 219 halaman. Buku ini menghimpun 104 judul puisi karya 33 penyair NTT. Diluncurkan pada Temu 1 Sastrawan NTT di Kupang pada 30-31 Agustus 2013. Sebagian besar penyair yang karyanya terhimpun dalam buku ini hadir pada Temu 1 Sastrawan NTT tersebut.

Kedua, buku puisi Ratapan Laut Sawu (2014) diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dengan Editor Yoseph Yapi Taum, tebal 308 halaman. Buku ini memuat 261 judul pusi karya 43 penyair NTT. Di samping menyusun Kata Pengantar, Yapi Taum juga menyusun Prolog, sedangkan Pater Paul Budi Kleden menyusun Epilog. Yoseph Yapi Taum adalah Dosen Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, sedangkan Pater Paul Budi Kleden adalah Dosen Filsafat pada STFK Ledalero, Maumere.

Ketiga, buku puisi Nyanyian Sasando (2015), tebal 207 halaman. Buku ini memuat 153 judul puisi karya 32 penyair NTT. Diluncurkan pada Temu 2 Sastrawan NTT di Universitas Flores, Ende, pada 8-10 Oktober 2015. Editor buku Yoseph Yapi Taum dan Maria Matildis Banda, yang juga bertindak sebagai kurator puisi untuk buku ini. Yoseph Yapi Taum menulis Prolog, Maria Matildis Banda menulis Epilog. Yoseph Yapi Taum adalah Dosen Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, sedangkan Maria Matildis Banda adalah Dosen Sastra pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Denpasar.

Keempat, buku puisi Nusa Puisi (2016), tebal 209 halaman. Buku ini memuat 75 judul puisi karya 58 penyair NTT. Diterbitkan Penerbit Kandil Semesta Bekasi. Editor buku Julia Daniel Kotan. Dewan kurasi Joko Pinurbo, Alexander Aur Apelaby, dan Dhenok Kristianti. Prolog disusun Pater Paul Budi Kleden, dan Epilog disusun Alexander Aur Apelaby. Pater Paul Budi Kleden adalah Dosen Filsafat pada STFK Ledalero, Maumere, sedangkan Alexander Aur Apelaby adalah Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan, Jakarta.

Kelima, buku puisi Bulan Peredam Prahara (2018), tebal 328 halaman. Buku ini memuat 225 judul puisi karya 53 penyair NTT. Diterbitkan oleh Komunitas Rumah Sastra Kita (RSK) bekerja sama dengan Penerbit Kosa Kata Kita, Jakarta. Komunitas RSK adalah sebuah komunitas sastra orang-orang NTT yang bergabung dalam grup media sosial WhatsApp (WA) dibentuk pada 1 Januari 2018. Editor buku Alfred B. Jogo Ena. Dewan kurasi Mezra E. Pellondou, Yoseph Yapi Taum, dan Julia Daniel Kotan. Prolog ditulis Yoseph Yapi Taum, Dosen Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. *


Kamis, 21 Maret 2019

Pesona dan Nilai Tulis-Menulis


Oleh YohanesSehandi
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,  
Universitas Flores, Ende

Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
(Pramoedya Ananta Toer)

Menulis adalah memahat peradaban dan pembaca adalah jantung buku saya.
(Helvy Tiana Rosa)

Segala sesuatu akan musnah berkalang tanah, kecuali perkataan yang tertulis.
(Yohanes Sehandi)


Dunia tulis-menulis atau karang-mengarang memiliki keunggulan dan keunikan tersendiri dibandingkan dengan jenis kegiatan atau profesi mana pun. Hampir semua orang tergoda untuk menggelutinya, meski hanya sebagian kecil saja berhasil meraihnya. “Menulis adalah memahat peradaban dan pembaca adalah jantung buku saya,” kata Helvy Tiana Rosa, sastrawan yang merintis pembentukan komunitas sastra di Indonesia. “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,” tulis sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), dalam novel Rumah Kaca (1988).
         
Keunggulan dan keunikan dunia tulis-menulis dibandingkan dengan kegiatan atau profesi manapun, membuat dunia tulis-menulis ini menyedot minat sebagian besar orang untuk menggelutinya. Keunggulan dan keunikan itu pulalah yang membuat dunia tulis-menulis dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, penuh dengan pesona dan mendatangkan berbagai nilai bagi kehidupan dan kemajuan peradaban manusia. Apa saja pesona dan nilai tulis-menulis itu?

Pesona Tulis-Menulis

Pertama, tidak memerlukan ijazah khusus dan gelar akademik. Dalam lapangan kerja atau profesi  lain, untuk dapat diterima menjadi pegawai/karyawan dituntut kualifikasi formal tertentu, seperti ijazah dan gelar akademik, bahkan rekomendasi (katabelece) dari seorang petinggi tertentu. Dalam dunia tulis-menulis, kualifikasi formal seperti itu tidak diperlukan. Yang diperlukan adalah hasil karya, yakni tulisan atau karangan seseorang, bermutu atau tidak.

Mutu tulisan seseorang memang seringkali tidak berbanding lurus dengan ijazah, gelar akademik, dan umur seseorang. Tulisan seorang doktor bisa sama mutunya dengan tulisan seorang tamatan SMA. Dalam rubrik opini surat kabar atau majalah, tulisan seorang profesor bisa bersandingan dengan tulisan seorang mahasiswa yang mungkin sedang mengikuti mata kuliah profesor  bersangkutan. Bobot tulisan profesor bisa dibandingkan oleh para pembaca dengan bobot tulisan mahasiswa anak didikannya. Inilah kekhasan dan keunikan dunia tulis-menulis, ukurannya pada mutu hasil karya, bukan pada ijazah dan gelar akademik.
          
Kedua, bebas jam kerja dan tempat tinggal. Seorang penulis tidak terikat pada jam kerja, seperti instansi pemerintah dan swasta, bekerja dari pukul 07.00 sampai pukul 14.00 atau pukul 17.00. Tidak terikat pula dengan tempat tinggal, tinggal di mana saja, jauh atau dekat dengan perusahaan penerbitan. Seorang penulis atau pengarang tidak mempunyai struktur kerja resmi. Seorang penulis tidak harus menjadi pegawai atau karyawan suatu perusahaan penerbitan, dengan menjadi pegawai tetap seperti pegawai di kantor pemerintah atau perusahaan swasta. Jangan lupa pula, dan ini unik, dalam dunia tulis-menulis tidak ada atasan dan bawahan. Dunia tulis-menulis adalah dunia bebas merdeka dari tekanan, baik tekanan dari atasan maupun dari bawahan. Bukankah ini sesuatu yang mempesona?
          
Ketiga, tidak mengenal pensiun. Kerja seorang penulis sepanjang hayat masih dikandung badan. Tidak mengenal pensiun atau purnabakti. Bahkan umur pensiun merupakan umur kematangan berpikir yang potensial menghasilkan karya-karya tulis bermutu. Sejauh otak masih bisa berpikir, mata masih bisa membaca, dan tangan masih bisa bergerak, seorang penulis atau pengarang akan tetap dan terus berkarya. Dalam keadaan lumpuh atau bisu sekali pun, seorang penulis  akan tetap berjaya dengan karya-karya tulisnya. Tidak ada kekuasaan manapun yang bisa memberhentikan atau memecatnya sebagai seorang penulis, kecuali dirinya sendiri. Sungguh pesona, bukan?
        
Keempat, menciptakan lapangan kerja sendiri. Di tengah susah-sulitnya lapangan kerja seperti sekarang ini, kegiatan menulis atau mengarang adalah lahan subur yang menawarkan lapangan kerja kepada siapa saja. Anda bisa menjadikan tulis-menulis sebagai bidang kerja atau profesi yang tidak kalah pamor dengan profesi lain, misalnya sebagai pengusaha rumah makan, pengusaha kios/toko, atau kontraktor. Bahkan profesi sebagai penulis terkesan sedikit bersih dan intelektual. Penghasilan seorang penulis tidak kalah juga dengan penghasilan profesi yang lain.

Seorang penulis tidak memerlukan modal khusus untuk membuka usaha, sebagaimana halnya dengan pengusaha rumah makan atau kios/toko atau kontraktor. Modal kerja seorang penulis cukup bisa mengoperasikan komputer/laptop, apakah milik sendiri atau sewa di warung internet (warnet) dengan mengandalkan flashdisk di saku. Karangan yang kita susun langsung diketik di komputer. Terus dikirim ke media massa lewat e-mail (surat elektronik). Sampailah tulisan kita di redaksi media massa dalam hitungan detik. Tergantung pilihan kita, apakah kirim ke media cetak atau media siber (online). Selanjutnya tinggal menunggu dalam hitungan hari, kapan tulisan kita muncul di media tersebut, dan kapan honorarium tulisan kita ditransfer ke rekening kita. Kalau kirim ke media siber tentu lebih cepat dimuat dibandingkan dengan media cetak. Gampang kan cara kerja seorang penulis? Bukankah ini sesuatu yang mempesona?

Kelima, ajang kreativitas pribadi. Dunia tulis-menulis adalah dunia yang memberi kesempatan  sangat luas kepada siapa saja untuk menguji kebolehan dan kemampuan intelektualnya. Dalam pengertian, kesempatan seseorang untuk menampilkan ide orisinal yang bernas, gaya penyajian tulisan dengan bahasa yang indah dan khas, mengemukakan gagasan  cemerlang, wawasan yang luas, menawarkan visi yang jauh ke depan. Tulisan juga untuk mencari solusi atas masalah atau kemelut dihadapi masyarakat, menggugah kesadaran atas suatu malapetaka atau bencana, dan mempengaruhi opini publik tentang isu sosial politik ekonomi yang krusial.

Tulisan atau karangan pulalah yang dapat mengukur sekaligus melegitimasi keunggulan atau kemampuan intelektual seseorang dibandingkan dengan orang lain. Dan jangan kaget, dengan bertebaran tulisan-tulisan Anda di berbagai media massa, nama Anda akan mudah dikenal orang, meskipun tampang muka Anda tidak dikenal pembaca. Ada pembaca fanatik yang senang membaca tulisan-tulisan seorang penulis idolanya, tetapi kecewa berat pada waktu bertemu langsung, tenyata tampang muka sang idola itu jelek. Sungguh unik, bukan?

Demikianlah kelima pesona dunia tulis-menulis yang dapat dikemukan dalam tulisan ini, Tentu saja masih banyak pesona dunia tulis-menulis yang lain. Di samping kelima pesona di atas, dunia tulis-menulis juga mendatangkan berbagai nilai yang dibutuhkan dalam pembentukan sumber daya manusia dan dalam membangun peradaban bangsa. Nilai-nilai itulah yang dapat memuaskan aneka kebutuhan seseorang. Nilai tulis-menulis yang dimaksudkan di sini adalah suatu keberhargaan yang timbul atau diperoleh seseorang sebagai hasil dari perbuatan, pengalaman, dan penerimaan yang dihasilkan dalam kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang.

Nilai Tulis-Menulis

Pertama, nilai kecerdasan. Seseorang yang sudah terbiasa menulis, sadar atau tidak, akan terbina dan berkembang dengan baik daya kritis dan kreatifnya, akan terbiasa berpikir kritis, sistematis, dan logis. Daya persepsi dan analisisnya pun dipertajam. Kebiasaan-kebiasaan yang demikianlah yang menyebabkan kemampuan kecerdasan atau intelektual seorang penulis terbina dan berkembang dengan baik. Menulislah yang mengasah kecerdasan sesorang dibandingkan dengan orang lain yang bukan penulis.

Kedua, nilai kependidikan. Seseorang yang terbiasa menulis, dengan sendirinya akan terbiasa dan terlatih dalam hal bekerja dan menghasilkan  karya apa saja dengan mengandalkan kemampuan diri-sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Menulis termasuk salah satu jenis kegiatan masyarakat modern yang keberhasilannya ditentukan oleh keuletan dan ketekunan diri-sendiri. Lekak-liku, jatuh-bangun, dan suka-duka perjuangan seorang penulis, mulai dari nol sampai                       menjadi seorang penulis/pengarang kawakan, tidak lain dan tidak bukan, melalui proses belajar yang tekun dan terus-menerus. Proses belajar yang tekun dan terus-menerus itulah yang melahirkan nilai kependidikan dalam kegiatan tulis-menulis.

Ketiga, nilai kejiwaan. Seseorang yang tekun berlatih menulis, lama-kelamaan akan bisa dan berhasil mengorbitkan tulisan atau karangan di berbagai surat kabar dan majalah atau dapat menerbitkannya menjadi buku. Karangan yang berhasil dipublikasikan itu tentu dibaca dan dinikmati banyak orang. Tentu pula akan mendapatkan banyak pujian atau penghargaan dari berbagai pihak. Keberhasilan yang diperoleh itu, akan dengan sendirinya memunculkan kepuasan batin, kegembiraan kalbu, kebanggaan pribadi, dan kepercayaan diri. Ini tentu tidak bisa diukur dengan nilai uang, termasuk nilai honor tulisan yang diberikan media massa atau penerbit buku. Perasaan puas, gembira, dan bangga itulah yang menimbulkan nilai kejiwaan dalam tulis-menulis.

Keempat, nilai kemasyarakatan. Nilai kemasyarakatan diperoleh dari berbagai tulisan seseorang yang tersebar luas dan dibaca masyarakat banyak. Seorang penulis yang profesional namanya tentu akan mudah dikenal banyak orang, dan tentu saja mendapat pujian atau penghargaan, apapun bentuk pujian atau penghargaan itu, meskipun juga terkadang mendapat kritikan dan caci-maki  segelintir pembaca. Tentu saja banyak pembaca yang senang membaca atau mengikuti tulisan-tulisan seorang penulis yang jempolan, dan memberikan pengaruh pada orang lain untuk berpikir atau bertindak. Masyarakat pembaca merasa terbantu dengan membaca tulisan seorang penulis yang berbobot dan enak dibaca. Di sinilah munculnya nilai kemasyarakatan dari tulis-menulis.

Kelima, nilai keuangan. Tulisan atau karangan yang dihasilkan seseorang, terutama yang telah dipublikasikan di berbagai media massa dan penerbit buku, tentu mendapatkan imbalan yang sesuai dan pantas. Jumlah honor yang diperoleh seorang penulis sangat ditentukan oleh besar-kecilnya media yang memuat tulisannya. Imbalan yang diperoleh dari hasil kegiatan tulis-menulis inilah yang memunculkan nilai keuangan dari kegiatan tulis-menulis.

Keenam, nilai kefilsafatan. Tentu sudah diketahui umum bahwa tulis-menulis adalah kegiatan yang paling ampuh mengabadikan buah pikiran dan perasaan umat manusia untuk diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ungkapan “Segala sesuatu akan musnah, kecuali perkataan yang tertulis” memang bukan tanpa berdasar. Perkataan (ajaran) dari tiga orang filsuf legendaris dunia, Sokrates, Plato, dan Aristoteles, sebagai contoh, menunjukkan bahwa perkataan yang tertulis itu tak pernah musnah, meski jasad orangnya sudah musnah berkalang tanah.
        
Demikianlah keenam nilai penting yang diperoleh dalam kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang. Rasanya amat sedikit hasil pikiran atau perasaan serta karya atau perbuatan umat manusia di dunia ini yang mengandung lengkap keenam nilai penting sebagaimana diperoleh lewat kegiatan tulis-menulis atau karang-mengarang.

Menulis Sebagai Hobi dan Profesi

Dalam dunia modern seperti sekarang ini, kegiatan menulis atau mengarang mempunyai kaitan erat dengan kegiatan rutin/harian seseorang, baik sebagai  kegemaran atau hobi maupun sebagai bidang kerja atau profesi. Tentang hobi dan profesi ini, The Liang Gie dalam bukunya Pengantar Dunia Karang-Mengarang (1992) menyatakan: Setiap orang untuk kegairahan hidupnya perlu mempunyai suatu kegemaran atau hobi, sedangkan untuk kelangsungan hidupnya harus memiliki suatu bidang kerja atau profesi. Hobi yang digeluti dengan penuh kegembiraan, membuat hidup ini menarik hati, dan profesi yang dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab, membuat hidup ini mengandung arti!

Aktivitas tulis-menulis yang merupakan salah satu aktivitas penting masyarakat modern pada saat ini, bisa dikelompokkan sebagai hobi atau kegemaran yang menggairahkan hidup, bisa pula sebagai bidang kerja atau profesi yang menjadi sumber penghidupan. Berkat kemajuan peralatan teknologi modern dewasa ini yang cukup banyak menggantikan tenaga manusia, menyebabkan banyak waktu seseorang menjadi longgar. Waktu yang longgar itu alangkah baiknya apabila diisi dengan kegiatan menulis atau mengarang, daripada ngobrol tak tentu arah atau gosipin tetangga sebelah rumah yang bisa merusak hubungan kekerabatan.        

Aktivitas menulis atau mengarang merupakan sebuah solusi atau alternatif. Duni tulis-menulis penuh pesona, mengandung nilai, bermanfaat, dan menyenangkan. Semua orang bisa melakukannya: pelajar, mahasiswa, dosen (apalagi), PNS, pegawai swasta, pejabat, guru, ibu rumah tangga, penganggur, pedagang, pensiunan, dan lain-lain. Orang yang sudah pensiun atau purnabakti, yang tentu sudah punyai tumpukan bekal pengetahuan dan pengalaman berharga, bagus sekali kalau dibagi-bagikan kepada pelbagai pihak lewat tulisan. Betapa indahnya hidup ini apabila bisa dan rela berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain, demikianlah salah satu ungkapan bijak dari Kahlil Gibran, seorang penyair kaliber dari Timur Tengah.     
        
Menulis sebagai hobi atau kegemaran tujuan utamanya untuk memperoleh kesenangan diri dan membuat kehidupan sehari-hari senantiasa menarik dan menggairahkan, apalagi kalau dilakukan dengan penuh keterlibatan diri. Melakukan sesuatu dengan serius dan penuh keterlibatan diri akan terjadi katarsis (chatarsis), yakni suatu proses kejiwaan sebagai pelepasan segala beban pikiran dan perasaan yang menimbulkan kelegahan batin. Kelegahan batin inilah yang mempengaruhi kesehatan jasmani dan rohani seseorang.

Menulis sebagai bidang kerja atau profesi, semakin nyata dan dibutuhkan berbagai pihak, tidak saja pada dewasa ini juga untuk masa-masa mendatang. Berkat kemajuan yang pesat di bidang penerbitan/publikasi, baik penerbitan buku, penerbitan majalah dan surat kabar, juga penerbitan media on-line pada akhir-akhir ini, membuat profesi menulis mendapat tempat terhormat dalam masyarakat, yang tidak kalah gengsi dengan profesi yang lain. *

(Tulisan ini dibawakan sebagai motivasi kepada mahasiswa peserta mata kuliah Dasar-Dasar Menulis pada Program Studi  Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores, Ende, pada 20 Maret 2019).

Selasa, 12 Maret 2019

Seruling Perdamaian dari Bumi Flobamora


Oleh Yohanes Sehandi
Penulis Buku Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esai

Damai yang terasing di kotanya sendiri
Mengusik sanubarinya
Untuk mengaisnya kembali
Dan kalau ia temukan
Ia ingin mendamaikan kembali kotanya
(Jhoni Lae)                                                    

Penggalan puisi yang dikutip di atas adalah bait pertama puisi berjudul “Mencari Damai yang Terasing” karya Jhoni Lae, mahasiswa Semester IV Fakultas Filsafat Unika Widya Mandira Kupang. Jhoni Lae juga seorang calon imam projo yang kini sedang menjalani masa formasi di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang.

Puisi “Mencari Damai yang Terasing” adalah salah satu dari 225 puisi yang terdapat dalam buku antologi puisi berjudul Bulan Peredam Prahara (2019) yang akan diulas dalam tulisan ini. Buku puisi ini memuat karya 53 penyair/penulis NTT dengan tebal buku 328 halaman. Diterbitkan oleh Komunitas Rumah Sastra Kita (Komunitas RSK) bekerja sama dengan Penerbit Kosa Kata Kita, Jakarta, dengan editor buku Alfred B. Jogo Ena. Kurator yang menyeleksi puisi-puisi yang diterbitkan dalam buku adalah sastrawan Mezra E. Pellondou, Yoseph Yapi Taum, dan Julia Daniel Kotan.

Adapun Komunitas RSK adalah sebuah komunitas sastra orang-orang NTT yang bergabung dalam grup media sosial WhatsApp (WA). Komunitas RSK dibentuk pada 1 Januari 2018 dengan Ketuanya Dr. Yoseph Yapi Taum, dosen sastra pada Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pada tahun 2017 Yoseph Yapi Taum yang kelahiran Lembata ini menerima penghargaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi sebagai Dosen Teladan I Tingkat Nasional dalam Bidang Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora.

 Di samping menerbitkan buku puisi Bulan Peredam Prahara, tahun 2018 Komunitas RSK juga menerbitkan buku antologi cerpen berjudul Perempuan dengan Tiga Senyuman (2018). Kedua buku ini diterbitkan RSK untuk memperingati Hari Sastra NTT yang jatuh pada 16 Juni 2018 lalu. Karena penerbitan kedua buku ini terlambat, peluncurannya tidak pada 16 Juni, tetapi pada 10 November 2018 di Kupang bekerja sama dengan Kantor Bahasa NTT.

Kedua buku antologi RSK ini mengemban tema dan pesan perdamaian: “dari Bumi Flobamora untuk Nusantara.” Sebagian besar puisi dan cerpen dalam kedua buku antologi ini mengajak segenap warga bangsa ini untuk menjalin kebersamaan dan mengubur perpecahan, menebar perdamaian dan meredam kebencian, dimulai dari Provinsi NTT sebagai provinsi  toleran di Indonesia.

Mengapa mengambil tema pesan perdamaian? Karena tahun 2018 dan 2019 adalah tahun politik nasional menuju Pemilu dan Pilpres 17 April 2019. Dalam tahun politik ini dinamika sosial politik Indonesia masyarakat sangat fluktuatif, terutama karena muncul wacana provokatif  yang menjadikan pesta demokrasi lima tahunan ini sebagai perang, perang antara para pendukung.

Pada era digital sekarang ini, lewat berbagai jenis media sosial, tak terbendung munculnya permusuhan, ujaran kebencian, dan berita bohong yang dipakai sebagai senjata ampuh menyerang kelompok yang berbeda pilihan politik. Akibatnya, modal sosial masyarakat berupa persatuan, kebersamaan, kerukunan, toleransi, gotong royong, dan perdamaian yang dibangun dengan susah payah puluhan tahun, menjadi terancam. Untuk itu, dalam memperingati Hari Sastra NTT 2018, anggota Komunitas RSK mengambil prakarsa “meniupkan seruling perdamaian” dari Bumi Flobamora untuk Indonesia lewat karya sastra. Itulah latar belakang RSK memilih tema perdamaian dalam penerbitan dua buku ini.

Dari 53 nama penyair yang ada dalam buku ini, ada banyak nama baru yang muncul ke permukaan. Memang ada yang sudah senior. Ada pula yang dikenal luas di media sosial, baik karena puisinya maupun karena ketokohannya. Para penyair itu, antara lain Agustinus Thuru, Alfred Jogo Ena, Aster Bilibora, Bernadus Barat Daya, Ian CK, Dokter Sahadewa, Ignas Kaha, Julia Daniel Kotan, Mario D.E. Kali, Milla Lolong, Nikolaus Loy,  Paulus Heri Hala, Usman D. Ganggang, Yandris Tolan, dan lain-lain.

Dalam tahun politik 2018 dan 2019 ini segenap warga bangsa dipenuhi rasa was-was atas sepak terjang dan perilaku para politisi yang berkeliaran. Mereka kini sulit dibedakan, mana malaikat, mana setan. Agustinus Thuru dalam puisinya yang berjudul “Kepada Presidenku” (halaman 44), menulis: //Beri aku hari-hari yang indah/ Tanpa bayang-bayang wajah para pemusnah/ Yang berkeliaran di balik topeng berwajah malaikat/ Beri aku negeri berwajah kemanusiaan/ Agar tak ada darah yang tertumpah sia-sia//.

Herisanto Boaz percaya bahwa lewat kekuatan puisinya ia bias menebar perdamaian di tahun politik ini. Dalam puisi  “Di Pantai Puisi Damai” (halaman 130-131) dia menulis: //di lubuk terdalam, layarku tercenung dan berisik/ “wajah politik ini niatnya baik, tapi caranya berisik”/ maka kubentangkan layar puisiku, semakin asyik/ dengan damai kuteriakan, “terbanglah puisiku/ seperti merpati perdamaian ini, terbanglah tinggi/ “hinggaplah tenang di tiap hati yang berpuisi”/.

Dengan terbitnya buku Bulan Peredam Prahara ini maka sudah terbit lima buku kumpulan puisi karya para penyair NTT sampai tahun 2019 ini. Sebelumnya sudah terbit empat judul buku, yakni Senja di Kota Kupang (2013), Ratapan Laut Sawu (2014), Nyanyian Sasando (2015), dan Nusa Puisi (2016). Dilihat dari segi banyaknya penyair dan banyaknya puisi yang terhimpun di dalamnya, kelima buku antologi puisi ini bisa dinilai sebagai “representasi” karya para penyair  NTT yang berkiprah di panggung sastra Indonesia.

Pertama, buku puisi Senja di Kota Kupang (2013), tebal 219 halaman. Buku ini menghimpun 104 judul puisi karya 33 penyair NTT. Diluncurkan pada Temu 1 Sastrawan NTT di Kupang pada 30-31 Agustus 2013. Sebagian besar penyair yang karyanya terhimpun dalam buku ini hadir pada Temu 1 Sastrawan NTT tersebut.

Kedua, buku puisi Ratapan Laut Sawu (2014) diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dengan Editor Yoseph Yapi Taum, tebal 308 halaman. Buku ini memuat 261 judul pusi karya 43 penyair NTT. Di samping menyusun Kata Pengantar, Yapi Taum juga menyusun Prolog, sedangkan Pater Paul Budi Kleden menyusun Epilog.

Ketiga, buku puisi Nyanyian Sasando (2015), tebal 207 halaman. Buku ini memuat 153 judul puisi karya 32 penyair NTT. Diluncurkan pada Temu 2 Sastrawan NTT di Universitas Flores, Ende, pada 8-10 Oktober 2015. Editor buku Yoseph Yapi Taum dan Maria Matildis Banda, yang juga bertindak sebagai kurator puisi untuk buku ini. Yoseph Yapi Taum menulis Prolog, Maria Matildis Banda menulis Epilog.

Keempat, buku puisi Nusa Puisi (2016) tebal 209 halaman. Buku ini memuat 75 judul puisi karya 58 penyair NTT. Diterbitkan Penerbit Kandil Semesta Bekasi. Editor buku Julia Daniel Kotan. Dewan kurasi Joko Pinurbo, Alexander Aur Apelaby, dan Dhenok Kristianti. Prolog disusun Pater Paul Budi Kleden, Dosen Filsafat STFK Ledalero, dan Epilog disusun Alexander Aur, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan, Jakarta. *

(Telah dimuat harian  Flores Pos (Ende) pada  Rabu, 13 Maret 2019)