Senin, 12 Desember 2016

Doa untuk Keselamatan Jiwa atau Keselamatan Arwah



Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Flores, Ende, Email: yohanessehandi@gmail.com.

Kita sering berdoa untuk orang mati atau orang meninggal dunia. Ketika anggota keluarga kita meninggal dunia, secara khusus selama beberapa hari kita berdoa untuk keselamatannya, berdoa agar dosa-dosanya diampuni, dan agar mendapat tempat yang layak dalam kerajaan surgawi (bukan surgani). Gereja Katolik secara khusus menjadikan tanggal 2 November setiap tahun sebagai hari mendoakan orang mati.

Orang Katolik percaya bahwa setelah hidup di dunia berakhir akan ada kehidupan baru di akhirat yang abadi dan tidak akan mati lagi. Namun untuk bisa hidup bahagia di akhirat, seseorang harus bebas dari segala dosa yang pernah diperbuatnya selama hidup. Orang yang mati itu sendiri tidak bisa berdoa untuk membebaskannya dari dosa. Yang bisa membebaskan orang mati dari siksaan dosa hanyalah orang-orang masih hidup, merekalah yang memohon pengampunan kepada Tuhan yang Maharahim.

Ada dua kata kunci yang sering kita pakai dalam mempersembahkan doa untuk keselamatan orang mati, yakni kata “jiwa” dan “arwah.”  Kedua kata kunci ini sering kita pakai secara bergantian bahkan bersaing. Itu terlihat pada beberapa kalimat contoh berikut, yakni (1) Marilah kita berdoa untuk keselamatan jiwa Bapa Gaspar Anu yang meninggal dunia tiga hari yang lalu, (2) Marilah kita berdoa untuk keselamatan arwah Bapa Gaspar Anu yang meninggal dunia tiga hari yang lalu. Atau dua kalimat contoh berikut (1) Semoga jiwa Bapa Gaspar Anu diterima dalam kerajaan surgawi, (2) Semoga arwah Bapa Gaspar Anu diterima dalam kerajaan surgawi.

Kata “jiwa” dan “arwah” dalam beberapa kalimat contoh di atas diperlakukan sama, seolah-olah kedua kata itu memiliki arti atau makna yang sama. Pokoknya pakai saja, mau kata “jiwa” atau “arwah” sama saja. Karena sudah terbiasa, sudah lazim, kita sepertinya tidak pernah merasa terganggu dengan kedua kata tersebut. Padahal, sesuatu yang lazim belum tentu benar, sesuatu yang benar harus dilazimkan. Kata “jiwa” dan “arwah” adalah dua kata yang maknanya berbeda. Selama ini kita sering salah kaprah menggunakan keduanya. Marilah kita menelusuri makna kedua kata tersebut.

Pertama, kata “jiwa.” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (disingkat KBBI, edisi IV, cetakan ke-7, 2014, halaman 586), “jiwa” diartikan antara lain sebagai (1) roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan seseorang hidup), nyawa, (2) seluruh kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan, dan sebagainya), (3) sesuatu atau orang yang utama dan menjadi sumber tenaga dan semangat. Berdasarkan pengertian KBBI ini, jiwa itu melekat secara otomatis pada raga atau jasmani atau badan manusia yang menyebabkan manusia itu hidup. Jiwa itu nyawa, sumber tenaga dan semangat, terjadi dari perasaan, pikiran, dan angan-angan.   

Dalam filsafat manusia, berdasarkan unsur kodratinya, manusia terdiri atas raga dan jiwa atau jasmani dan rohani (Herimanto dan Winarno, 2010, halaman 40). Raga atau jasmani adalah badan atau tubuh kita ini, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sedangkan jiwa adalah kekuatan penggerak atas raga atau jasmani. Tanpa adanya jiwa, badan kita ini mati. Wujud dari jiwa dalam diri seorang manusia adalah pikiran, perasaan, dan kehendak. Ketiga wujud itulah yang menandakan seseorang hidup.

Kedua, kata “arwah.” Dalam KBBI yang disebutkan di atas (2014, halaman 89), “arwah” diartikan sebagai jiwa orang yang meninggal atau roh orang yang meninggal.  Jadi, arwah adalah roh orang yang telah meninggal dunia.
Berdasarkan uraian di atas, maka ketahuilah kita bahwa pengertian “jiwa” dan “arwah” itu berbeda. Pada waktu kita masih hidup, kita memiliki raga dan jiwa atau jasmani dan rohani. Jiwa atau rohani inilah yang menandakan kita hidup. Begitu kita mati, maka raga atau jasmani atau badan kita berubah, namanya menjadi “mayat,” dan jiwa atau rohani kita berubah, namanya menjadi “arwah.” Arwah yang terlepas inilah yang dalam iman orang Katolik menghadap Sang Penciptanya di surga.

Menurut cerita guru agama Katolik kita, arwah ini yang mengetuk pintu surga  yang dijaga ketat Santu Petrus. Orang yang selama hidupnya saleh, berbuat baik kepada sesama, arwahnya langsung masuk surga. Orang yang dosanya besar, misalnya seorang teroris, arwahnya diberi “pelajaran” dahulu, dikurung dalam tempat khusus yang ada bara apinya, namanya api penyucian. Di tempat inilah si arwah menanggung derita dengan sabar, menunggu dan menampung doa keluarga besar, sanak familih, dan sahabat kenalan yang masih hidup. Setelah semua dosanya diampuni berkat doa orang-orang yang masih hidup, arwahnya masuk ke dalam kerajaan surgawi.

Dengan penjelasan di atas, maka ketahuilah kita bahwa yang kita doakan itu adalah arwah, bukan jiwa. Tentulah aneh, kalau kita khusyuk berdoa untuk jiwa orang yang masih hidup, padahal yang membutuhkan doa adalah arwah orang yang sudah meninggal. Dalam buku Madah Bakti (cetakan ke-130, 2011) sudah benar tertulis “Doa untuk Arwah” (halaman 77-78), dan “Nyanyian untuk Arwah” (halaman 893-832).  Marilah kita berdoa untuk keselamatan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia. *

(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada Sabtu, 3 Desember 2016).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar