Senin, 12 Desember 2016

Ciri-Ciri dan Jenis-Jenis Karya Tulis Ilmiah



Yohanes Sehandi
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Flores, Jln. Sam Ratulangi, Ende,
Hp 081339004021, Email: Yohanessehandi@gmail.com

ABSTRACT
Writing scientific papers at this time is a necessity of academic lecturers in colleges and teachers in secondary schools and primary schools. In addition, as a condition care of academic positions and promotions/class, as well as to develop the scientific field. Unfortunately there are still many lecturers and teachers who do not know the characteristics and types of scientific papers will be written so that many of those who failed to write scientific papers in accordance with applicable regulations. This is the background to undertake this work. There are two purposes of this study, which is to determine the characteristics of scientific papers, and to identify the types of scientific papers based on the characteristics of scientific papers. This type of research is the study of literature, by examining the various opinions of expert scientific fields and areas of scientific writing. Based on the results of the study, the authors managed to identify five key characteristic of a scientific paper, the paper discussed the different disciplines, the paper it uses systematic writing standards, the paper it uses citations expert opinion, writing that uses facts and data, and writing it using a variety of scientific language. Based on the five hallmark of a scientific paper, the authors managed to identify six types of scientific papers, is scientific papers, scientific articles, research proposals, research reports, scientific books, and paper/thesis/dissertation.
Keywords: Scientific work, the characteristics of scientific work, the types of scientific work.

ABSTRAK
Menulis karya ilmiah pada saat ini merupakan keharusan akademik para dosen di perguruan tinggi dan para guru di sekolah menengah dan sekolah dasar. Di samping sebagai syarat mengurus jabatan akademik dan kenaikan pangkat/golongan, juga untuk mengembangkan bidang keilmuannya. Sayangnya masih banyak dosen dan guru yang belum mengetahui ciri-ciri dan jenis-jenis karya tulis ilmiah yang akan ditulisnya sehingga banyak di antara mereka yang gagal menulis karya ilmiah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Inilah latar belakang penulis melakukan penelitian ini. Ada dua tujuan penelitian ini, yakni untuk menentukan ciri-ciri karya tulis ilmiah, dan untuk mengidentifikasi jenis-jenis karya tulis ilmiah berdasarkan ciri-ciri karya tulis ilmiah. Jenis penelitian adalah penelitian kepustakaan, dengan mengkaji berbagai pendapat para ahli bidang keilmuan dan bidang penulisan karya ilmiah. Berdasarkan hasil penelitian, penulis berhasil menentukan lima ciri khas sebuah karya tulis ilmiah, yakni karya tulis itu membahas bidang ilmu tertentu, karya tulis itu menggunakan sistematika penulisan yang standar, karya tulis itu menggunakan kutipan pendapat ahli, karya tulis itu menggunakan fakta dan data, dan karya tulis itu menggunakan ragam bahasa ilmiah. Berdasarkan lima ciri khas karya tulis ilmiah, penulis berhasil mengidentifikasikan enam jenis karya tulis ilmiah, yakni makalah ilmiah, artikel ilmiah, proposal penelitian, laporan hasil penelitian, buku ilmiah, dan skripsi/tesis/disertasi.
Kata Kunci: Karya ilmiah, ciri-ciri karya ilmiah, jenis-jenis karya ilmiah.

PENDAHULUAN

Seperti kita ketahui bahwa karya tulis ilmiah merupakan karya puncak seorang ilmuwan atau kaum terpelajar dalam membina dan mengembangkan keilmuannya. Menyusun karya tulis ilmiah dilakukan seseorang setelah melewati proses berpikir ilmiah dan penelitian ilmiah. Berpikir ilmiah, penelitian ilmiah, dan penulisan karya ilmiah merupakan tiga komponen yang berkaitan dan bergantung satu sama lain. Karya tulis ilmiah disusun setelah melewati proses penelitian ilmiah, penelitian ilmiah dilakukan setelah melewati proses berpikir ilmiah. Jadi, hasil dari proses berpikir ilmiah akan memicu kegiatan penelitian ilmiah, dan hasil kegiatan penelitian ilmiah akan memicu penulisan karya ilmiah (Sudjana, 1991: 11).

Pada saat ini, kalangan dunia pendidikan, baik di tingkat perguruan tinggi (para dosen) maupun di tingkat sekolah menengah dan sekolah dasar (para guru SMA/MA/SMK,  SMP/MTs, dan guru SD/TK), menyusun karya tulis ilmiah merupakan suatu keharusan akademik dan profesi. Bagi para dosen, menyusun karya tulis ilmiah sebagai pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan untuk mengurus jabatan akademik, mulai dari asisten ahli, lektor, lektor kepala, sampai profesor atau guru besar. Sedangkan bagi para guru, mulai dari guru SD/TK, SMP/MTs, sampai SMA/MA/SMK, menyusun karya tulis ilmiah merupakan keharusan akademik, juga sebagai syarat mengurus kenaikan pangkat dan golongan.       

Dalam kenyataannya, masih banyak dosen dan guru yang belum bisa membedakan mana karya tulis ilmiah mana yang bukan karya ilmiah. Karena tidak bisa membedakan karya tulis ilmiah dari karya yang bukan ilmiah, maka pada waktu menyusun karya tulis ilmiah, misalnya waktu menyusun makalah ilmiah atau artikel ilmiah, banyak di antara mereka yang tidak bisa menyusun karya ilmiah. Ada yang menyusun karya ilmiah seperti menyusun artikel opini di surat kabar, ada pula yang menyusun karya ilmiah seperti naskah pidato, dan banyak sekali yang tidak bisa menyusun karya tulis ilmiah. Artinya, masih banyak orang yang belum mengetahui ciri-ciri karya tulis ilmiah. Karena tidak tahu ciri-ciri karya tulis ilmiah, maka masih banyak pula orang yang tidak atau belum tahu apa saja jenis-jenis karya tulis ilmiah itu.

Bertolak dari kenyataan di atas, penulis mencoba melakukan penelitian kepustakaan atau penelitian normatif untuk menjawab permasalahan ini. Kalau dirumuskan, permasalahan penelitian ini adalah (1) Apa saja ciri-ciri karya tulis ilmiah yang membedakannya dengan karya yang bukan ilmiah, (2) Apa saja jenis-jenis karya tulis yang dapat digolongkan sebagai karya tulis ilmiah. Tujuan akhir penelitian ini adalah (1) Merumuskan ciri-ciri karya tulis ilmiah, (2) Mengidentifikasi jenis-jenis karya tulis yang digolongkan sebagai karya tulis ilmiah. Dengan demikian diharapkan para dosen dan guru dapat mengetahui ciri-ciri karya tulis ilmiah dan jenis-jenis karya tulis ilmiah.

KAJIAN PUSTAKA

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan atau penelitian normatif dengan melakukan kajian pustaka terhadap berbagai pendapat para pakar di bidang keilmuan dan bidang penulisan karya ilmiah. Pendapat para pakar dikaji, dibanding-bandingkan, disesuaikan dengan berbagai karya tulis ilmiah yang sudah dikenal masyarakat luas, kemudian dirumuskan. Setelah semuanya itu dilakukan akan dibuat kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian ini. Berikut ini akan dikemukakan berbagai pandangan para pakar tentang ciri-ciri atau syarat-syarat karya tulis ilmiah. Para ahli itu, antara lain Paul W. Jones, Ida Bagus Mantra, dan Mukayat D. Brotowijoyo.

Menurut Paul W. Jones sebagaimana dikutip The Liang Gie dalam buku Pengantar Dunia Karang-Mengarang (1992: 91), ciri-ciri karya tulis ilmiah adalah (1) menyajikan fakta-fakta, (2) cermat dan jujur, (3) tidak memihak, (4) sistematis, (5) tidak bersifat haru, (6) mengesampingkan pendapat yang tidak mempunyai dasar, (7) sungguh-sungguh, (8) tidak bercorak debat, (9) tidak bersifat membujuk, dan (10) tidak melebih-lebihkan.

Dalam artikelnya yang berjudul “Penulisan Artikel Ilmiah,” Ida Bagus Mantra (dalam The Liang Gie, 1992: 91-92), mengemukakan ciri-ciri atau syarat-syarat sebuah karya tulis digolongkan sebagai karya tulis ilmiah. Ciri-ciri karya tulis ilmiah menurut beliau adalah (1) data yang digunakan mempunyai validitas yang tinggi, analisis, dan interpretasi harus objektif, (2) kejujuran ilmiah harus terjaga. Konvensi dalam dunia ilmiah mengharuskan orang untuk menyebutkan dengan jelas sumber data dan pendapat yang digunakan dalam tulisan itu. Harus dikemukakan dan dibedakan mana pendapat sendiri dan mana pendapat atau penemuan orang lain, (3) bahasa yang digunakan harus jelas, tegas, singkat, sederhana, dan teliti. Untuk itu, penulis harus menguasai tata bahasa dengan baik dan kaya akan perbendaharaan kata, dan (4) jalan pikiran runtun, sistematis, kontinyu, dan lancar. Dari pembukaan sampai penutupan, karya tulis ilmiah harus merupakan satu-kesatuan dan keseluruhan yang kompak dan utuh. Bagian demi bagian, paragraf demi paragraf merupakan satu-kesatuan yang bulat dan utuh.

Mukayat D. Brotowijoyo dalam bukunya Penulisan Karangan Ilmiah (1985: 15-16) mengemukakan ciri-ciri karya tulis ilmiah, yakni (1) menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik, (2) penulisnya cermat, tepat, dan benar, serta tulus. Tidak memuat terkaan. Pernyataan tulus tanpa mengingat efeknya, (3) tidak mengejar keuntungan pribadi, tidak berambisi agar pembaca berpihak padanya. Motivasi penulis untuk memberitahukan tentang sesuatu, tidak berprasangka, (4) karya tulis ilmiah itu sistematis. Tiap langkah direncanakan secara sistematis, terkendali, secara konseptual dan procedural, (5) karya tulis ilmiah tidak emotif, tidak menonjolkan perasaan, menyajikan sebab-musabab dan pengertian. Kata-kata yang dipakai mudah diidentifikasi, alasan-alasan dikemukakan indusif, dan bukan ajakan, (6) Tidak memuat pandangan tanpa pendukung, kecuali dalam hipotesis kerja, (7) ditulis secara tulus dan memuat kebenaran. Tidak memancing pertanyaan yang bernada keraguan, (8) karangan ilmiah tidak argumentatif dengan membiarkan fakta berbicara sendiri, (9) karangan ilmiah itu tidak persuasif. Meskipun karangan itu mendorong pembaca mengubah pendapat, tetapi tidak melalui ajakan, argumentasi, sanggahan, dan protes, (10) karangan ilmiah tidak melebih-lebihkan sesuatu, disajikan kebenaran fakta. Putar balikkan fakta akan menghancurkan tujuan penulisan sebuah karya tulis ilmiah.

CIRI-CIRI KARYA TULIS ILMIAH

Berdasarkan kajian pendapat para pakar sebagaimana disebutkan di atas maka penulis mengemukakan lima ciri khas sebuah karya tulis untuk digolongkan sebagai karya tulis ilmiah. Kelima ciri karya tulis ilmiah itu adalah (1) Karya tulis itu membahas bidang ilmu tertentu, (2) Karya tulis itu menggunakan sistematika penulisan yang standar, (3) Karya tulis itu menggunakan kutipan pendapat ahli, (4) Karya tulis itu menggunakan fakta dan data, (5) Karya tulis itu menggunakan ragam bahasa ilmiah. Berikut penjelasan kelima ciri tersebut.

Pertama, Membahas Bidang Ilmu Tertentu.

Ciri pertama karya tulis ilmiah terletak pada bidang ilmu yang dibahas. Bidang ilmu itu bisa yang bersifat monodisiplin (satu bidang ilmu) bisa pula yang bersifat multidisiplin atau interdisiplin (antar bidang ilmu). Kalau karya tulis itu tidak membahas bidang ilmu tertentu, maka karya tulis itu bukan atau tidak termasuk karya tulis ilmiah.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa karya tulis ilmiah merupakan karya puncak seorang penulis atau peneliti/ilmuwan setelah melewati dua proses keilmuan sebelumnya, yakni proses berpikir ilmiah dan proses penelitian ilmiah. Proses berpikit ilmiah, penelitian ilmiah, dan penulisan karya ilmiah prosesnya berkaitan dan bergantung satu sama lain. Karya tulis ilmiah disusun seseorang setelah melewati proses penelitian ilmiah, penelitian ilmiah dilakukan setelah melewati proses berpikir ilmiah. Jadi, hasil dari berpikir ilmiah akan memicu kegiatan penelitian ilmiah, dan hasil kegiatan penelitian ilmiah akan memicu penulisan karya tulis ilmiah

Dalam proses berpikir ilmiah seorang penulis atau peneliti/ilmuwan memikirkan bidang ilmu apa yang akan diteliti yang kemudian nanti hasil penelitiannya dituangkan dalam karya tulis ilmiah. Sebelum melakukan penelitian disusun proposal penelitian atau usulan penelitian, baik penelitian empiris (lapangan) maupun penelitian kepustakaan (normatif). Penelitian ilmiah melewati proses panjang yang akhirnya menemukan hasilnya. Hasil penelitian itulah yang dituangkan dalam sebuah karya tulis ilmiah. Jadi, sejak proses pertama (berpikir ilmiah), proses kedua (penelitian ilmiah), sampai proses ketiga (menulis karya ilmiah) yang menjadi fokus perhatian penulis adalah bidang ilmu atau disiplin imu tertentu. Itulah ciri pertama karya tulis ilmiah, yakni membahas bidang ilmu tertentu.

Bidang ilmu tertentu yang dibahas dalam karya tulis ilmiah secara fisik langsung terlihat pada judulnya. Beberapa contoh judul karya tulis ilmiah, antara lain (1) Interferensi Fonologi Bahasa Ngada dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa SMPN 1 Bajawa, Kabupaten Ngada, (2) Kesalahan Morfologi Bahasa Indonesia dalam Karangan Eksposisi Para Siswa SMAN 1 Ende, (3) Berpikir Intuitif Siswa SMP Se-Kota Malang dalam Pemecahan Masalah Geometri, (4) Kombinasi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dan TGT untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika, (5) Analisis Kinerja Keuangan Bank NTT Tahun 2010-2015, (6) Pengaruh Jumlah Anggota Koperasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Ende.

Kalau kita perhatikan keenam judul karya tulis ilmiah di atas, maka ketahuilah kita bahwa judul (1) dan (2) adalah karya tulis ilmiah bidang pendidikan bahasa Indonesia, judul (3) dan (4) adalah karya tulis ilmiah bidang pendidikan matematika, sedangkan judul (5) dan (6) adalah karya tulis ilmiah bidang ekonomi. Jadi, enam karya tulis ilmiah di atas membahas bidang ilmu atau disiplin ilmu tertentu. Itulah ciri pertama karya tulis ilmiah.

Bandingkan judul-judul karya tulis berikut yang bukan karya tulis ilmiah, yakni (1) Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian, (2) Cumbuan Sabana, (3) Doa-Doa Semesta, (4) Ketika Cinta Terbantai Sepi, (5) Awal Tahun 2016, Tiga Danau Kelimutu di Pulau Flores Berubah Warna, (6) Menikmati Kuliner Lokal Sei Babi di Bandara Frans Seda, Maumere, Flores. Keenam karya tulis di atas bukan karya tulis ilmiah, tetapi karya tulis jenis fiksi (novel, cerita pendek, dan puisi) dan karya tulis jenis berita dan ficer.

Kedua, Menggunakan Sistematika Penulisan Standar.

Ciri kedua karya tulis ilmiah terletak pada sistematika penulisan. Sistematika penulisan adalah tata cara penyusunan karya tulis yang teratur dan sistematis dalam mengemukakan isi pikiran atau gagasan penulis yang terlihat jelas dalam keseluruhan karya tulis mulai dari awal sampai akhir (Sehandi, 2011). Ada dua jenis sistematika penulisan yang dikenal umum, yakni sistematika penulisan yang standar (baku) dan sistematika penulisan tidak standar. Pembagian hitam putih dua jenis sistematika penulisan ini untuk memudahkan pembedaan. Sistematika penulisan standar adalah metode penulisan karya tulis ilmiah dengan mengikuti aturan baku yang telah ditetapkan sebagai standar.

Sistematika penulisan baku atau standar adalah: ada bagian pendahuluan, ada bagian inti, dan ada bagian penutupan. Ketiga bagian ini mempunyai keterkaitan atau koherensi yang jelas dan terjalin dengan baik. Untuk karya tulis ilmiah jenis makalah ilmiah dan artikel ilmiah, penyusunan setiap bagian itu dirinci lagi dalam bentuk anak judul atau subjudul. Untuk proposal penelitian, laporan penelitian, skripsi/tesis/disertasi, dan buku ilmiah, penyusunan setiap bagian itu dirinci dalam bentuk bab-bab, dan setiap bab dirinci lagi dalam bentuk anak baba tau subbab, setiap anak bab bisa dirinci lagi.   

Bagian pendahuluan berisi hal-hal yang memberikan gambaran awal tentang suatu pokok/tema yang dibahas dalam tulisan itu, misalnya latar belakang penulisan, tujuan penulisan, pokok-pokok pikiran atau gagasan yang akan dibahas. Bagian inti berisi uraian mendalam dan panjang-lebar tentang pokok-pokok pikiran atau gagasan yang merupakan inti karya tersebut. Bagian inilah yang merupakan isi/inti karya tulis ilmiah. Sedangkan bagian penutupan berisi hal-hal yang merupakan kesimpulan, penekanan, rekomendasi, dan usul saran tindak lanjut dari penulis terhadap persoalan yang dibahas. Diakhiri dengan daftar pustaka atau bibliografi. 
Dalam jurnal ilmiah biasanya pada bagian akhir jurnal dicantumkan pedoman penulisan artikel ilmiah agar para penulis atau calon penulis jurnal dapat menyusun artikelnya sesuai dengan pedoman penulisan yang ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, setiap jurnal ilmiah secara ketat dan konsisten memberlakukan pedoman penulisan tersebut sebagai standar dalam mengambil keputusan, apakah sebuah karya tulis (artikel) yang diterima layak dimuat atau ditolak.

Ketiga, Menggunakan Kutipan Pendapat Ahli.

Ciri ketiga karya tulis ilmiah terletak pada penggunaan kutipan. Kutipan adalah pengambilan pendapat para ahli (pakar) yang memiliki otoritas dalam biangnya untuk memperkuat pendapat penulis. Untuk itu penulis harus mencantumkan kutipan pendapat ahli itu secara jelas dan eksplisit. Kalau pendapat ahli itu diperoleh lewat bahan pustaka, misalnya buku-buku, majalah, surat kabar, harus disebutkan data publikasinya, yakni apa nama atau judul bahan pustaka itu, siapa nama penulisnya, apa nama penerbitnya, tahun berapa terbit, dan pada halaman berapa kutipan itu diambil. Data publikasi tersebut harus ditempatkan di dalam tanda kurung (bila diintegrasikan dengan teks karangan) atau ditempatkan dalam catatan kaki. Data publikasi itu mutlak dicantumkan dalam daftar pustaka yang terdapat pada bagian akhir karya tulis ilmiah. Penulisan data publikasi itu harus mengikuti teknik penulisan yang menjadi konvensi karya tulis ilmiah.

Pengutipan pendapat dari para ahli harus disertai dengan sumber pengambilannya, misalnya melalui wawancara lisan/tertulis, diambil dari buku, majalah, surat kabar, atau bahan pustaka yang lain. Kalau diperoleh lewat wawancara, kapan dan di mana wawancara itu dilakukan. Kalau berasal dari buku, majalah, dan surat kabar, siapa penulisnya, apa judul buku, majalah, dan surat kabar itu, tahun berapa diterbitkan, apa nama penerbitnya, dan halaman berapa kutipan itu diambil. Menurut Ida Bagus Mantra sebagaimana dikutip The Liang Gie (1992: 91), konvensi di dalam dunia ilmiah mengharuskan orang untuk menyebutkan dengan jelas sumber data dan pendapat yang digunakan dalam tulisan itu. Dengan jujur dan tegas harus dikemukakan dan dibedakan mana pendapat penulis sendiri dan mana pendapat orang lain. Semua data publikasi kutipan itu tercantum sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah seorang penulis.

Artikel-artikel ilmiah yang dimuat dalam majalah bulanan Prisma dan Basis, misalnya, sistematika dan organisasi artikel ilmiah terlihat jelas pada subjudul-subjudul artikel yang dipakai penulis, yang menunjukkan bagian pendahuluan, bagian inti, dan bagian penutupan. Juga dijumpai banyak kutipan pendapat para ahli, catatan kaki (atau catatan akhir), dan daftar pustaka. Itulah salah satu ciri karya tulis ilmiah, menggunakan kutipan pendapat ahli.  

Keempat, Menggunakan Fakta dan Data.

Ciri keempat karya tulis ilmiah terletak pada penggunaan fakta dan data. Yang dimaksudkan dengan fakta dalam konteks ini adalah segala sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi, sedangkan data adalah bukti nyata tentang adanya fakta (bdk. Brotowijoyo, 1985, Sehandi, 2011). Fakta dan data diperlukan dalam penulisan karya ilmiah guna menunjang atau memperkuat kebenaran pernyataan, pendapat, pendirian, sikap, dan argumentasi dikemukakan penulis.

Paul W. Jones yang dikutip  Brotowijoyo  (1985: 3) membagi fakta dan data menjadi dua jenis, yakni fakta dan data yang bersifat umum (resmi) dan fakta dan data yang bersifat pribadi (fiktif). Fakta dan data yang bersifat umum (resmi) adalah hal-hal, peristiwa, dan fenomena yang dapat diuji dan dibuktikan kebenarannya, dan kebenaran itu dapat diterima akal sehat, karena kebenaran itu bersifat objektif. Fakta dan data jenis ini diperoleh melalui penelitian, baik penelitian empiris (penelitian lapangan) maupun penelitian kepustakaan (penelitian normatif), pemikiran yang serius sebelumnya,  disertai dengan pengujian yang saksama sesudahnya  (Brotowijoyo, 1985: 5). Sebaliknya, fakta dan data yang bersifat pribadi atau fiktif adalah hal-hal, peristiwa, dan fenomena yang tidak semuanya benar, hanya seolah-olah ada dan terjadi. Fakta dan data jenis ini hanya ada dalam pikiran dan perasaan saja dan bersifat subjektif. Karena bersifat subjektif, maka fakta dan data jenis ini sukar atau sulit untuk diuji atau dibuktikan kebenarannya.

Dalam karya tulis ilmiah, fakta dan data yang digunakan adalah fakta dan data yang bersifat umum (resmi). Fakta dan data ini dapat dibuktikan kebenarannya, diterima akal sehat, dan bersifat objektif. Oleh karena itu, dalam karya ilmiah dijumpai ada banyak kutipan-kutipan data dan pendapat atau pernyataan para pakar yang ahli dalam bidangnya. Para pakar inilah yang memiliki otoritas di bidang keilmuannya masing-masing. Dalam karya ilmiah juga ditemui deretan angka-angka, kolom, bagan, dena, tabel, grafik, kurva, peta, dan sebagainya yang berisi data dan fakta. Semua itu digunakan untuk membuktikan atau memperkuat pernyataan, pendapat, pendirian, sikap, dan argumentasi penulis. Jadi, menggunakan fakta dan data dalam tulisan adalah salah satu ciri karya tulis ilmiah.

Kelima, Menggunaan Ragam Bahasa Ilmiah.

Ciri kelima karya tulis ilmiah terletak pada penggunaan ragam bahasa. Kalau diperhatikan, ada dua jenis ragam bahasa dalam penulisan karangan, yakni ragam bahasa baku (resmi) dan ragam bahasa tidak baku (tidak resmi). Pembagian secara hitam putih ini sekadar untuk memudahkan pembedaan. Bahasa beragam baku dicirikan oleh pematuhan aturan-aturan atau kaidah-kaidah tata bahasa yang telah dibakukan atau distandarkan. Menurut Ida Bagus Mantra (dalam The Liang Gie, 1992: 91), ciri-ciri karya ilmiah ditandai dengan penggunaan ragam bahasa ilmiah atau ragam bahasa resmi  yang  jelas, tegas, singkat, sederhana, dan teliti. Unsur-unsur bahasa, seperti ejaan, kata, istilah, frasa, kalimat, ungkapan, dan lain-lain yang digunakan adalah ragam bahasa ilmiah. Unsur-unsur bahasa yang digunakan itu bermakna lugas, logis, denotatif, dan efektif.

Bahasa lugas maksudnya, bahasa yang digunakan itu bermakna seperti apa adanya, tidak berlebih-lebihan. Bahasa lugas mengandung arti yang logis, yakni  mengikuti aturan cara berpikir yang dapat diterima akal sehat. Bahasa lugas juga bersifat denotatif, yakni bahasa yang tidak menimbulkan penafsiran ganda atau penafsiran lain. Sedangkan bahasa  efektif adalah bahasa yang tepat sasaran, sesuai dengan apa yang dimaksudkan penulis. Bahasa yang digunakan itu dikatakan efektif apabila pemahaman para pembaca sama persis seperti yang dimaksudkan penulisnya (bdk. Keraf, 1997: 34; Sehandi, 2010: 62).

Dalam karya tulis ilmiah, ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa baku atau bahasa resmi. Karena menggunakan ragam bahasa baku yang berciri lugas, logis, denotatif, dan efektif, menyebabkan bahasa karya ilmiah terasa padat, berat, kaku, dan monoton. Seorang pembaca yang tidak terlatih dan tidak terbiasa, mudah merasa bosan, jenuh, dan letih pada waktu membaca karya ilmiah. Seperti itulah ciri bahasa karya ilmiah.

Artikel-artikel ilmiah yang dimuat dalam majalah bulanan Prisma dan Basis, misalnya, serta berbagai jurnal ilmiah yang terbit di berbagai perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian dan pengkajian, terasa sekali penggunaan bahasa yang padat, berat, kaku, dan monoton itu. Pembaca yang sudah terbiasa atau terlatih membaca karya ilmiah, seperti akademisi, ilmuwan, cendekiawan, kaum terpelajar tidak mengalami kesulitan dalam membaca artikel ilmiah bahkan menikmatinya sebagai sumber vitamin dan protein ilmu pengetahuan. Memang perlu ada disposisi batin yang kuat untuk bisa  membaca karya-karya tulis ilmiah. 

Seorang ilmuwan kaliber (guru besar) di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kelahiran Nusa Tenggara Timur, Herman Johannes, menaruh perhatian besar dalam pembinaan dan pengembangan bahasa keilmuan di Indonesia. Beliau menulis buku berjudul Gaya Bahasa Keilmuan (1979) yang secara khusus membahas ciri-ciri gaya bahasa keilmuan atau ragam bahasa ilmiah dalam penulisan karya tulis ilmiah di Indonesia. The Liang Gie dalam buku Pengantar Dunia Karang-Mengarang (1992: 21-22) mengemukakan enam asas penggunaan bahasa yang harus diperhatikan dalam penulisan karya tulis ilmiah, yakni asas kejelasan (clearness), keringkasan (conciseness), ketepatan (correctness), kepaduan (unity), pertautan (coherence), dan pengharkatan (emphasis).

JENIS-JENIS KARYA TULIS ILMIAH

The Liang Gie (1992: 27) membagi karya tulis ilmiah menjadi dua rumpun, yakni rumpun pendidikan dan rumpun penelitian. Pertama, rumpun pendidikan, yakni karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan fungsi pendidikan dalam lembaga pendidikan. Karya tulis ilmiah jenis ini berkaitan erat dengan fungsi pendidikan dan pengajaran, seperti (1) Berfungsi sebagai prasyarat kelulusan dalam suatu program studi di perguruan tinggi, (2) Berfungsi sebagai pedoman dalam proses belajar-mengajar dalam perkuliahan, (3) Berfungsi sebagai sumber referensi keilmuan atau ilmu pengetahuan. Kedua, rumpun penelitian, yakni karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan fungsi penelitian ilmiah yang menjadi sumber pembinaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karya tulis ilmiah rumpun pendidikan dibagi lagi menjadi tiga jenis, yakni (1) Karya tulis ilmiah kesarjanaan yang meliputi makalah ilmiah, artikel ilmiah, proposal penelitian, laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi, (2) Karya tulis ilmiah pengajaran (didaktik) yang meliputi bahan kuliah, diktat kuliah, buku ilmu pengetahuan, buku teks atau buku pelajaran, (3) Karya tulis acuan (referensi) yang meliputi kamus, ensiklopedi, direktori, dan bibliografi.

Karya tulis ilmiah rumpun penelitian dibagi lagi menjadi tiga jenis, yakni (1) Karya tulis ilmiah untuk dipublikasikan lewat majalah ilmiah atau jurnal ilmiah, yang disebut artikel ilmiah, (2) Karya tulis ilmiah untuk dipresentasikan (dipaparkan) dalam forum pertemuan resmi, seperti seminar, simposium, diskusi ilmiah, diskusi panel, pelatihan, lokakarya yang disebut makalah ilmiah, (3) Karya tulis ilmiah sebagai rancangan penelitian, baik penelitian empiris (lapangan) maupun penelitian kepustakaan (normatif), yang disebut proposal penelitian dan laporan penelitian.

Berdasarkan lima ciri khas karya tulis ilmiah sebagaimana dijelaskan di atas, maka dapat diidentifikasi jenis-jenis karya tulis ilmiah. Sampai dengan saat ini ada enam jenis karya tulis yang dapat dikelompokkan sebagai karya tulis ilmiah. Keenam jenis karya tulis ilmiah itu adalah (1) makalah ilmiah, (2) artikel ilmiah, (3) proposal penelitian, (4) laporan  penelitian, (5) skripsi/tesis/disertasi, dan (6) buku ilmiah. Bab III sampai Bab VIII berikut berisi pembahasan tentang keenam karya ilmiah tersebut.

Makalah ilmiah adalah sebuah karya tulis yang membahas pokok persoalan (tema) tertentu dalam bidang keilmuan tertentu dan dipresentasikan dalam forum pertemuan resmi yang bersifat ilmiah. Makalah ilmiah itu berisi ilmu pengetahuan dan dipresentasikan dalam forum resmi yang bersifat ilmiah, seperti seminar, diskusi panel, lokakarya, pelatihan, workshop, dan lain-lain. Pembawa makalah ilmiah adalah orang dinilai pakar atau menguasai bidang ilmu tertentu dan dianggap bisa memberikan solusi atas permasalahan yang berkaitan bidang ilmunya.
Artikel ilmiah adalah sebuah karya tulis yang berisi ilmu pengetahuan yang disusun secara lengkap dan dimuat dalam majalah ilmiah atau jurnal ilmiah. Ada dua jenis atikel ilmiah berdasarkan latar belakang hasil penelitiannya, yakni artikel ilmiah hasil penelitian empiris (penelitian lapangan) dan artikel ilmiah hasil penelitian kepustakaan (penelitian normatif). Artikel ilmiah hampir sama ciri dan kandungan isinya, hanya makalah ilmiah dipresentasikan dalam forum pertemuan ilmiah, sedangkan artikel ilmiah dimuat dalam majalah ilmiah atau jurnal ilmiah.

Proposal penelitian atau usulan penelitian adalah karya tulis yang berisi rancangan penelitian yang menggambarkan apa yang hendak diteliti dan bagaimana penelitian itu dilaksanakan (Sudjana, 1991: 107). Proposal penelitian disusun oleh para peneliti atau kaum akademisi dari perguruan tinggi, baik perorangan maupun kelompok. Penelitian yang dilakukan para peneliti atau kaum akademisi ini bertujuan untuk mengkaji bidang keilmuan tertentu dan untuk memecahkan masalah yang menjadi perhatian publik. Sumber dana penelitian bisa berasal dari diri-sendiri (bersifat mandiri) bisa pula berasal dari pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi atau lembaga sponsor, baik dari dalam maupun dari luar negeri

Laporan hasil penelitian adalah karya tulis yang berisi laporan penelitian yang dilakukan oleh peneliti atau akademisi sebagai hasil tindak lanjut proposal penelitian yang dilakukan sebelumnya. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengkaji suatu permasalahan untuk pengembangan bidang keilmuan tertentu atau untuk memecahka masalah atau persoalan yang dihadapi. Sumber dana penelitian bisa disiapkan sendiri oleh peneliti (bersifat mandiri) bisa pula berasal dari pemerintah, lembaga penelitian, perguruan tinggi atau lembaga sponsor. 

Skripsi adalah sebuah karya tulis yang disusun mahasiswa sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Sarjana (S-1) di perguruan tinggi. Di samping skripsi, di perguruan tinggi juga dikenal karya tulis ilmiah jenis tesis dan disertasi. Tesisi adalah karya tulis ilmiah yang disusun mahasiswa sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Magister (S-2). Sedangkan disertasi adalah karya tulis ilmiah yang disusun mahasiswa sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar Doktor (S-3). Ketiga jenis karya tulis ilmiah ini pada dasarnya memiliki kesamaan terutama proses dan tahapan penelitian dan penulisannya, yang berbeda adalah bobot kandungan keilmuannya.

Buku ilmiah adalah karya tulis yang berisi atau membahas suatu bidang ilmu dan teknologi. Bidang ilmu dan teknologi itu bermacam-macam, sesuai dengan rumpun bidang ilmu yang dikenal masyarakat luas,  seperti bidang ilmu sosial, bidang ilmu eksaskta, bidang humaniora, bidang ilmu teknologi, bidang ilmu keagamaan, dan lain-lain. Disebut buku ilmiah menunjukkan arti secara ilmu pengetahuan atau memenuhi syarat sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu sendiri diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem sesuai dengan metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang tersebut (KBBI, 2001: 423).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian pendapat para ahli ditambah dengan pengalaman mengkaji ciri-ciri karya tulis yang dikenal masyarakat luas, maka dapat dirumuskan lima ciri khas atau  kriteria untuk digolongkan sebagai karya tulis ilmiah. Kelima ciri karya tulis ilmiah itu adalah (1) Karya tulis itu membahas bidang ilmu tertentu, (2) Karya tulis itu menggunakan sistematika penulisan yang standar, (3) Karya tulis itu menggunakan kutipan pendapat ahli, (4) Karya tulis itu menggunakan fakta dan data, dan (5) Karya tulis itu menggunakan ragam bahasa ilmiah.

Berdasarkan lima ciri khas karya tulis ilmiah yang ada, maka dapat diidentifikasi jenis-jenis karya tulis ilmiah. Sampai dengan saat ini ada enam jenis karya tulis yang dapat digolongkan sebagai karya tulis ilmiah, yakni (1) makalah ilmiah, (2) artikel ilmiah, (3) proposal penelitian, (4) laporan hasil penelitian, (5) skripsi/tesis/disertasi, dan (6) buku ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, Mukayat D. 1985. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Akademika Pressindo.
Eneste, Pamusuk. 2005. Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Edisi II. Jakarta: Gramedia.
Gie, The Liang. 1992. Pengantar Dunia Karang-Mengarang. Yogyakarta: Liberty.
Keraf, A. Sony dan Mikhael Dua. 2005. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan FilosofisCetakan ke-6. Yogyakarta: Kanisius.
Keraf, Gorys. 1997. Komposisi. Cetakan ke-11. Ende, Flores: Nusa Indah.
Marahimin, Ismail. 1994. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.
Nurhadi. 2009a. Teknik Membaca. Malang: A3 (Asih Asah Asuh).
Nurhadi. 2009b. Dasar-Dasar Teori Membaca. Surabaya: JP Books.
Nurhadi. 2012. Buku Ajar Menulis 20 Ragam Tulisan. Malang: Jurusan Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Edisi III, Cetakan ke-1. Jakarta: Balai Pustaka.
Sehandi, Yohanes. 2010. Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Kupang: Gita Kasih.
Sehandi, Yohanes. 2011. “Ciri-Ciri Artikel Ilmiah” dalam Jurnal Nusa Cendana, Nomor 2, Volume XII, Oktober 2011.
Sehandi, Yohanes. 2014. Bahasa Indonesia dalam Penulisan di Perguruan Tinggi. Edisi   Revisi. Cetakan ke-2. Salatiga. Widya Sari.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamuji. 2003. Penelitian Hukum Normatif. Cetakan ke-6. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soeseno, Slamet. 1993. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. Jakarta: Gramedia.
Sudjana, Nana. 1991. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah. Cetakan ke-2. Bandung: Sinar Baru.
Suriasumantri, Jujun S. 1990. Filsafat Ilmu. Jakarta: Sinar Harapan.
Tarigan, Henry Guntur Tarigan. 1984. Membaca Ekspresif. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:        Angkasa.

(Telah dimuat dalam Jurnal Literasi (terbitan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores, Ende), pada edisi Nomor 3, Tahun I, November 2016).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar