Jumat, 04 November 2016

Menjaga Mata Pisau



Oleh: Yohanes Sehandi
Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende.

Mata Pisau
mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
(Sapardi Djoko Damono).
           
Marilah kita menikmati puisi “Mata Pisau” karya penyair Sapardi Djoko Damono. Sapardi dikenal sebagai penyair serius yang mengandalkan kekuatan kata-kata dalam membangun puisi-puisinya. Sehari-harinya sebagai dosen (guru besar) bidang sastra di FIB Universitas Indonesia. Puisi ini saya kutip dari buku kumpulan puisi lengkap Sapardi berjudul Hujan Bulan Juni (cetakan ke-7, Maret 2016, halaman 53). Puisi ini ditulis tahun 1971, dimuat pertama kali dalam buku kumpulan puisi Sapardi berjudul Mata Pisau (1974).

Puisi ini sangat sederhana. Disusun dalam satu bait, terdiri atas enam baris/larik. Kalau dihitung, jumlah kata dipakai penyair hanya 32 kata, semuanya ditulis dengan huruf kecil, semuanya juga mudah dimengerti. Ditambah dua kata pada judul, totalnya menjadi 34 kata. Kalau kita cermati penggunaan tanda baca, yakni tanda baca titik koma (;), puisi ini sebetulnya hanya terdiri atas tiga bagian, yang dipisahkan dengan tanda titik koma.

Bagian (1) //mata pisau itu tak berkejab menatapmu//, bagian (2) //kau yang baru saja mengasahnya berpikir: ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam//, bagian (3) //ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu//.

Setiap kita sebagai pembaca tentu memiliki penafsiran atas puisi pendek ini. Mungkin di antara kita ada penafsiran yang sama, mungkin mirip, mungkin pula berbeda. Semua itu sah saja, karena hakikat puisi bersifat multi tafsir, multi interpretasi. Bahkan menurut teori persepsi yang dikembangkan Wilhelm Wundt (1832-1920) dan teori resepsi yang dikembangkan Hans Robert Jauss (19211997) di mana kedua teori ini bersumber pada pendekatan pragmatik seturut kerangka teoretikus sastra M. H. Abrams, makna puisi hanya bisa ditentukan oleh persepsi dan resepsi pembaca. Sepuluh orang pembaca sebuah puisi, bisa jadi menghasilkan sepuluh penafsiran. Makin banyak penafsiran, makin baiklah puisi itu.

Menurut hemat saya, puisi “Mata Pisau” ini termasuk puisi baik dan berbobot literer. Puisi yang berbobot literer adalah puisi yang bernilai sastra. Puisi ini memancarkan nilai kehidupan, kalau kita mampu menguaknya. Nilai sastra puisi ini terletak pada bagian (1) dan bagian (3). Bagian (2) hanya sebagai pengantar melengkapi unsur intrinsik sebuah puisi.

Bagian (2) hanya berisi berita atau informasi, bahwa ada sebuah pisau tajam yang baru saja diasah yang akan dipakai untuk mengiris buah apel di atas meja sehabis makan malam. Ini yang dalam ilmu sastra disebut sebagai realitas faktual (fakta), sesuatu yang benar ada dan terjadi, dapat dibuktikan dengan pancaindra. Jadi, bagian (2) ini tidak bernilai sastra.

Bagian (1) dan (3) puisi ini yang bernilai sastra. Kita diajak penyair untuk memasuki dunia baru. Dunia baru inilah yang dalam ilmu sastra disebut sebagai realitas fiksi (realitas imajiner). Berkat imajinasi penyair yang tajam dan khas, realitas fiksi itu hadir dalam pikiran dan perasaan kita sebagai pembaca, seolah-olah ada dan terjadi, padahal sebetulnya tidak ada. Realitas fiksi (imajiner) dikaitkan dengan realitas faktual (fakta) dalam kehidupan sehari-hari, akan memunculkan berbagai nilai, menghadirkan pesan/amanat, memberi peringatan kepada kita semua sebagai pembaca, untuk sudi merenungkannya dalam hidup dan kehidupan ini.

Marilah kita membayangkan sebuah pisau beserta matanya yang tajam. Kita gunakan pisau untuk apa? Untuk membantu kita dalam berbagai keperluan: untuk iris buah apel dan mangga, kupas bawang, potong sayur dan daging, dan lain-lain. Makin tajam mata pisau itu, makin bagus dan mempercepat pekerjaan kita. Tetapi ingat, kalau kita salah menggunakan pisau tajam, kita akan terluka. Pisau yang tajam, bisa pula disalahgunakan, misalnya untuk bunuh diri atau bunuh orang lain. Bila digunakan dengan baik, pisau tajam sangat membantu kita memperlancar pekerjaan. Sebaliknya, bila pisau tajam tidak dijaga atau disalahgunakan, mata pisau yang tajam akan mendatangkan celaka bahkan malapetaka pada diri pemakainya.

Mata pisau ada dan selalu diperlukan di mana-mana dalam hidup keseharian kita. Mata pisau ada dan diperlukan dalam keluarga, di sekolah, di perguruan tinggi, di lembaga swasta, lembaga agama, di sebuah dinas atau SKPD, dan lain-lain.

Marilah kita ambil contoh mata pisau yang ada dalam sebuah dinas atau SKPD pemerintah. Kepala dinas tentu memiliki dan memerlukan banyak mata pisau untuk membantunya memperlancar berbagai pekerjaan kantor. Makanya ada mata pisau sebagai bendahara dinas untuk mengurus keuangan, ada mata pisau sekretaris mengurus administrasi, ada mata pisau kepala subdinas, ada mata pisau pimpro, ada pula mata pisau pejabat pembuat komitmen sebuah proyek, dan lain-lain. Sekian banyak mata pisau dalam sebuah dinas (SKPD) bukanlah benda mati, mereka berhitung dan mengawasi Anda sebagai kepala dinas. Bagian (1) puisi ini menggambarkan berbagai mata pisau yang terus berhitung dan mengawasi Anda sebagai kepala dinas: //mata pisau itu tak berkejab menatapmu//. Tak berkejab artinya tak berkedip. Mata pisau itu seolah-olah menjadi manusia, karena hanya manusialah yang bisa berkedip. Inilah yang disebut sebagai realitas fiksi dalam karya sastra.

Anda sebagai kepala dinas tentu harus bisa menjaga dan membangun kerja sama dengan berbagai mata pisau yang menduduki jabatan itu, untuk memperlancar kinerja Anda sebagai kepala dinas. Kalau Anda mampu menjaga dan mensinergikan kekuatan sejumlah mata pisau yang ada, maka kinerja Anda dan instansi Anda akan terangkat dan terpuji, sukses.

Sebaliknya, kalau Anda tidak mampu menjaga dan membangun kerja sama dengan berbagai mata pisau yang menduduki jabatan penting dalam dinas Anda, misalnya sering cekcok, bertengkar, berkelahi, saling mencurigai, memfitnah, saling menyikut dan menjegal satu sama lain, maka sebagai kepala dinas Anda siap menerima resiko, senjata makan tuan.

Kalau mata pisau bendahara salah menghitung uang kantor dan uang proyek, mata pisau sekretaris lalai menertibkan administrasi, mata pisau pimpro berkolusi dengan kontraktor nakal dan tamak, mata pisau tajam yang telah Anda asah akan berbalik menikam Anda. Berbalik menjerat Anda dalam kasus pidana dan kasus-kasus lain. Baris terakhir puisi  ini menohok kesadaran kita, jantung kita seolah berhenti berdenyut, aliran darah terkesiap membanyangkan malapetaka: //ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu//. *

(Telah dimuat harian Pos Kupang (Kupang) pada Jumat, 4 November 2016).

1 komentar:

  1. Terima kasih pak yohanes sehandi atas ulasan puisi mata pisau karya supardi djoko damono.

    BalasHapus