Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sang Mempelai Itu Bernama Malaka

“Pada dinding hatiku telah kupahat cinta dan kerinduan untuk ibu yang melahirkanku, untuk kekasih yang mengiringiku, dan untuk tanah yang menopangku.” Inilah kalimat pertama yang diungkapkan tokoh utama si aku dalam novel Likurai untuk Sang Mempelai karya sastrawan NTT, R. Fahik ini.

Kalimat pertama pada bagian pertama (Pahatan Cinta) novel ini seakan menjadi kesimpulan atau intisasi keseluruhan isi novel dengan tokoh utamanya si aku, yang dikenal luas dengan julukan “sang penyair Malaka.” Tokoh utama ini anak yatim piatu, kelahiran Betun, Malaka, yang pada masa remajanya mengembara di tanah rantau, mencari ilmu dan pengalaman, setelah dewasa kembali ke tanah kelahirannya Malaka untuk mengabdikan secara total hidup dan karyanya.  

Kalimat pertama yang padat dan syarat makna di atas menunjukkan dua hal mendasar berikut ini. Pertama, seluruh niat, perjuangan, dan sepak terjang tokoh utama novel dilandasi oleh “cinta dan kerinduan” yang mendalam. Kedua, cinta dan kerinduan yang mendalam ini  dipersembahkannya kepada (1) Ibu yang melahirkannya, yang meninggalkannya pada usia masih bayi untuk mencari ayahnya yang mencari sesuap nasi di tanah Malaysia, yang kemudian kedua orang tuanya ini meninggal dunia di negeri jiran itu, (2) Kekasih hati yang mengiringinya bernama si Noy, yang telah memahat hatinya di Betun sewaktu masih remaja, sebelum si aku meninggalkan tanah Malaka, dan (3) Tanah kelahiran yang menopangnya, yakni tanah Malaka, yang melalui perjuangan yang panjang sukses berdiri menjadi kabupaten sendiri, Kabupaten Malaka, terlepas dari kabupaten induknya, Belu.

***

Singkat cerita, novel ini berkisah tentang perjalanan hidup tokoh utama, sang penyair Malaka, dengan segala niat, perjuangan, dan sepak terjangnya untuk membangun masyarakat, membangun daerah baru Kabupaten Malaka sebagai tanah terjanji yang berbudaya dan bermartabat.

Tokoh utama novel adalah anak tanah Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya merantau menjadi TKI di Malaysia pada saat si aku masih dalam kandungan ibu. Terdengar khabar, sang ayah sakit keras dan hanya bisa diselamatkan apabila didampingi sang istri. Sang istri akhirnya berangkat ke Malaysia pada saat si aku masih bayi. Sesampai di Malaysia, ternyata sang suami sudah meninggal dunia. Dia sendiri akhirnya meninggal dunia karena stres dan galau tinggal di tanah orang.

Si aku sejak kecil dipelihara tantenya bernama Ina yang kebetulan keluarga itu tidak mempunyai anak. Pada usia remaja dan menjelang dewasa si aku mengembara lama di tanah rantau menuntut ilmu dan mencari pengalaman. Setelah bekal ilmu dan pengalaman memadai, pulanglah si anak rantau ke tanah kelahirannya Malaka, tanah yang menopang hidupnya. Panggilan tanah kelahiran ini semakin membuncah tatkala sang kekasih hati, si Noy, yang telah mengisi relung-relung hatinya sebelum mengembara, terus menunggunya dengan setia di Betun, Malaka, kapan saja sang penyair Malaka kembali.

Rencana pernikahan sang penyair Malaka dengan Noy menjadi terhambat karena tidak direstui oleh orang tua Noy yang materialistis, dengan berdalih, pernikahan baru direstui apabila si calon pengantin pria memperjelas status kedua orang tuanya yang selama ini diperguncingkan masyarakat sebagai anak yang tidak punyai orang tua.

Untuk memenuhi tuntutan itu, demi cintanya kepada si Noy, si aku berangkat ke Malaysia untuk jemput pulang kedua orang tuanya. Namun sayang, ternyata kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Pulanglah ia ke tanah Malaka. Kenyataan pahit yang menjemputnya, si Noy kekasih hati yang mengiringinya, sudah meninggal dunia karena stres dan sakit hati atas sikap orang tuanya.

Meskipun kekasih hatinya Noy telah tiada, niat luhur dan komitmen perjuangan sang penyair Malaka untuk membangun tanah Malaka tidak pernah surut. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, dia membangun Malaka, yang segera menjadi kabupaten baru, yakni Kabupaten Malaka, dengan runtutan sejumlah peristiwa bersejarah, yakni pada 14 Desember 2012 DPR RI mengesahkan UU tentang Pembentukan Kabupaten Malaka, pada 22 April 2013 Mendagri RI Gamawan Fauzi meresmikan Kabupaten Malaka sekaligus melantik Penjabat Bupati Malaka, Herman Nai Ulu, dan pada hari Minggu, 5 Mei 2013 digelar pesta rakyat meriah masyarakat Malaka sebagai syukuran terbentuknya Kabupaten Malaka.

***

Sang penyair Malaka dalam novel ini coba membangun kabupaten baru Malaka dengan menawarkan strategi pembangunan yang khas dan monumental, yakni strategi kebudayaan yang disebutnya sekolah kehidupan, lengkapnya Sekolah Kehidupan Likurai. Di sini, anak-anak Malaka tidak hanya sekadar belajar tentang pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan, belajar tentang kekayaan budaya Malaka dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. “Sungguh, tanah Malaka adalah ibu yang mengandung benih-benih cinta dan kebenaran.” Ini keyakinan tokoh utama novel, sang penyair Malaka.

Sekolah Kehidupan Likurai itu dilukiskan sastrawan R. Fahik sebagai berikut: “Sebuah sekolah tanpa lantai, tanpa atap, tanpa dinding, dan tanpa campur tangan dari pihak manapun. Inilah Sekolah Kehidupan Likurai yang lantainya adalah tanah, atapnya adalah langit, dan dindingnya adalah bukit-bukit. Kita akan berjalan bersama, mengelilingi seluruh wilayah Malaka, hal yang sudah pernah kulakukan sebelumnya, namun yang masih ingin terus kulakukan. Di setiap kampung yang kita datangi, kita akan belajar bersama anak-anak, tak terkecuali para orang tua.”

Kemudian dilanjutkan, “Kita akan berdialog bersama mereka, saling meneguhkan agar tak lelah dalam mencintai Malaka. Cinta itu tak lain ialah tekad untuk menjaga harta kekayaan budaya. Kebersamaan, kerukunan, cinta, kebenaran, ketulusan, kerja keras, kejujuran, gotong-royong, dan semuanya yang dititipkan surga kepada Malaka. Ini adalah modal utama untuk menyambut datangnya hari itu, hari kemerdekaan. Hari ketika Malaka tampil sebagai sang mempelai sejati. Hari ketika Malaka dinobatkan sebagai tanah yang mekar dan bercahaya.”

Dengan strategi kebudayaan yang bernama Sekolah Kehidupan Likurai, sang penyair Malaka dibantu dengan lima orang pemuda Malaka yang gesit, yakni Nahak, Akeu, Seran, Bakri, dan Paulus, ditambah dua gadis berpandangan modern, yakni Uku Mery dan Bete Rany, mendatangi 12 suku dalam 12 wilayah kecamatan dalam Kabupaten Malaka. Ke-12 kecamatan yang mereka datangi satu per satu dengan strategi kebudayaan sekolah kehidupan itu adalah Malaka Tengah, Malaka Barat, Malaka Timur, Botin Leobele, Lo Kufeu, Kobalima, Kobalima Timur, Laen Manen, Rinhat, Sasita Mean, Weliman dan Wewiku.

Menurut sang tokoh utama, mencintai tanah kelahiran adalah panggilan agung bagi setiap orang. Maka, tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak berbuat sesuatu bagi tanah kelahirannya. “Cinta akan tanah kelahiran menguatkan pijakan kakiku di tanah ini. Cinta akan Malaka mengikat jiwaku dengan tali ketulusan untuk tetap berada di sisi Noy. Cinta akan Malaka membuatku tak mampu pergi jauh dari kekasihku: Noy-ku dan Malaka-ku.”  Sang mempelai yang naik ke pelaminan yang disambut dengan tarian Likurai yang meriah itu  tidak lain dan tidak bukan adalah Malaka.

Ungkapan spiritualitas “panggilan agung” bagi setiap anak tanah Malaka, pada saat sekarang ini mutlak dibutuhkan untuk membangun masyarakat, membangun daerah baru Kabupaten Malaka, sebagai tanah terjanji yang berbudaya dan bermartabat. Pada saat itulah orang-orang Malaka boleh mendengar kokok ayam jantan yang paling merdu di puncak agung: Iha fatin nia leten, manu silak sian kokorek lian diak.

***

Novel Likurai untuk Sang Mempelai ini merupakan novel kedua karya sastrawan NTT, R. Fahik (biasa dipanggil Roby Fahik), putra kelahiran Betun, Malaka, Timor pada 5 Juni 1985. Gelar Sarjananya diperolehnya di Fakultas Filsafat Agama Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, dan gelar Magister Sains diperolehnya di Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Yogyakarta.

Novel pertamanya berjudul Badut Malaka, cetakan pertama 2011, diterbitkan Penerbit Cipta Media, Yogyakarta. Baik novel Likurai untuk Sang Mempelai maupun novel Badut Malaka adalah karya sastra R. Fahik yang bersifat kontekstual, konteks Malaka, Timor, NTT. Inilah yang disebut sebagai “sastra NTT,” yakni sastra Indonesia warna daerah (lokal) NTT yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Pengarang novel ini, yakni R. Fahik adalah sastrawan Indonesia, dan karena kelahiran NTT maka disebut juga sebagai “sastrawan NTT.” 

Terbitnya novel Likurai untuk Sang Mempelai ini menambah deretan karya sastra NTT berbentuk novel yang berlatar (setting) tanah Timor menjadi 6 judul (baru 6 judul). Novel lain yang berlatar tanah Timor dalam koleksi saya adalah (1) Cumbuan Sabana (Gerson Poyk, Penerbit Nusa Indah, Ende, 1979), (2) Petra Southern Meteor (Yoss Gerard Lema, Penerbit Gita Kasih, Kupang, 2006), (3) Surga Retak (Mezra E. Pellondou, Penerbit Kairos, Kupang, 2007), (4) Badut Malaka (R. Fahik, Penerbit Cipta Media, Yogyakarta, 2011), dan (5) Perempuan dari Lembah Mutis (Mezra E. Pellondou, Penerbit Framepublishing, Yogyakarta, 2012). *

Oleh Yohanes Sehandi 
Dosen Univesitas Flores, Ende, Penulis Buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT

Ende, Flores, 2 November 2013

Artikel ini adalah “Pengantar” untuk novel Likurai untuk Sang Mempelai karya sastrawan NTT, R. Fahik, diterbitkan Penerbit Cipta Media, Yogyakarta, 2013, 124 halaman)







Post a Comment for "Sang Mempelai Itu Bernama Malaka"