Jumat, 02 Agustus 2013

Koruptor "Ditegur" Seekor Ulat


Koruptor “Ditegur” Seekor Ulat


Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Universitas Flores, Ende


Seekor Ulat dalam Buah Jambu

aku terkejut melihat seekor ulat
menggeliat dalam buah jambu
ketika aku akan memakannya

aku termenung sesaat, kupikir
mungkin ulat itu ingin berbisik
bahwa ia sama laparnya seperti aku

(Mira Sato, Horison, September 1976)

           
Setiap kita tentu pernah bahkan sering makan buah jambu. Marilah kita bayangkan tatkala kita hendak makan buah jambu yang matang dan ranum. Tentu dengan penuh minat dan  bernafsu, bukan? Mengapa tidak. Buah jambu yang matang dan ranum pasti sangat enak dan sedap kalau dimakan.
Namun, marilah kita renungkan, tatkala buah jambu yang akan kita makan itu ternyata di dalamya ada ulat menggeliat yang sedang makan dan hidup dari buah jambu itu. Apakah Anda urungkan niat untuk makan buah jambu itu? Atau jambu itu langsung dibuang? Atau, Anda lanjutkan makan buah jambu itu dengan cara mencungkil ulat dari daging jambu yang sudah busuk? Seperti apa nasib makhluk hidup yang bernama ulat itu selanjutnya?
Perihal inilah yang diangkat ke permukaan oleh penyair Mira Sato dalam puisinya yang dikutip pada awal artikel ini. Puisi ini berjudul “Seekor Ulat dalam Buah Jambu,” telah dimuat dalam majalah sastra Horison, edisi bulan September 1976. Saya menemukan puisi ini pada waktu membuka-buka kembali sejumlah bundelan lama majalah sastra Horison.
Sangat sederhana puisi di atas, baik bentuk maupun kandungan isinya. Disajikan dalam bentuk cerita dalam dua bait, setiap bait terdiri atas tiga baris, jumlahnya menjadi enam baris (larik). Kalau dihitung, hanya 28 kata ditambah 5 kata yang terdapat pada judul yang membentuk puisi ini. Ke-33 kata itu tidak ada yang sulit, semuanya gampang dimengerti. Kalau begitu, apanya yang istimewa puisi ini? Apa nilai yang terkandung di balik puisi sederhana ini? Apa pula kaitannya dengan koruptor yang “ditegur” seekor ulat yang tersurat dalam judul artikel ini?
Bait pertama puisi ini belum berbicara apa-apa kepada kita. Bait pertama itu hanyalah cerita tentang peristiwa biasa, tentang seseorang (si aku) yang hendak makan buah jambu yang ternyata ada ulat di dalamnya. Inilah yang disebut sebagai realitas faktual, realias yang terjadi dalam kenyataan. Kalau puisi ini berhenti pada bait pertama,  pastilah puisi ini sudah dibuang di keranjang sampah oleh para redaktur majalah sastra Horison, yang pada tahun 1976 itu terdiri atas H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Backri.
 Memasuki bait kedua yang terdiri atas tiga baris, kita diajak penyair untuk memasuki dunia baru atau realitas baru. Dunia baru inilah yang dalam ilmu sastra disebut sebagai realitas imajiner (realitas imajinasi). Berkat kemampuan daya imajinasi penyair yang khas, realitas imajiner itu hadir dalam pikiran dan perasaan pembaca seolah-olah bersifat faktual, seolah-olah terjadi dalam kenyataan. Realitas imajiner yang dikaitkan dengan realitas faktual inilah yang membuat sebuah puisi mengandung nilai, menunjukkan makna, membawa pesan atau amanat yang harus direnungkan dalam hidup dan kehidupan ini. Di sinilah letak kekuatan sebuah karya sastra, yang berbeda dengan karya yang lain. Bait kedualah yang membuat deretan 33 kata karya Mira Sato di atas menjadi sebuah karya sastra yang disebut puisi.
            Pada bait kedua ini sang penyair membawa kita meleburkan diri ke alam makrokosmos, melepaskan keegoan duniawi kita. Penyair menunjukkan rasa kemanusiaannya. Dua baris terakhir, penyair melantunkan ajakan kepada kita untuk berpikir lebih jauh dan lebih dalam sebelum bertindak, karena boleh jadi tindakan yang kita ambil, bisa hanya menguntungkan diri-sendiri, tetapi merugikan atau mendatangkan malapetaka bagi orang lain.  
            Digambarkan penyair, ulat yang ada (menggeliat) dalam buah jambu itu ternyata “menegur” kita (si aku) secara halus agar batalkan niat memakan buah jambu itu, karena jambu itu sudah menjadi milik si ulat, sekaligus juga mengingatkan kita bahwa jambu yang busuk itu hanya layak untuk ulat, tidak layak untuk dimakan manusia. Di sinilah penyair membangun rasa kemanusiaan kita.
Apakah pernah terlintas dalam pikiran dan perasaan kita, bahwa ulat yang menggeliat dalam buah jambu itu nasibnya tidak jauh berbeda dengan nasib orang-orang yang ada di sekitar kita? Orang-orang yang tidak punya apa-apa, yang hanya hidup dari kekurangan. Orang-orang yang dirampas hak-haknya oleh oknum pejabat dan politisi yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan.
Apakah pernah terlintas dalam pikiran dan perasaan kita, bahwa dana bantuan sosial (dana bansos), misalnya, yang merupakan uang rakyat yang dianggarkan pemerintah melalui APBN, APBD Provinsi, dan APBD Kabupaten/Kota, yang peruntukkannya jelas bagi rakyat miskin, yang tidak punya apa-apa, yang hanya hidup dari kekurangan? Namun, apa yang terjadi dalam kenyataan? Dana bansos dikorupsi di mana-mana, di berbagai level oleh oknum pejabat dan politisi.
Kita jenuh mendengar dan membaca berita lewat media massa tentang dana bansos yang dimakan para koruptor, baik di tingkat Provinsi NTT maupun di hampir semua Kabupaten/Kota di NTT, terutama di Kabupaten Sikka yang sampai kini penyelesaiannya tak berujung. Kasus-kasus korupsi yang lain juga terus bermunculan, tetapi tidak jelas penyelesaian akhirnya, bagaikan jalan tak ada ujung. Hal ini terjadi dari tahun ke tahun. NTT ini sepertinya menjadi surga bagi para koruptor, sebaliknya neraka bagi warga masyarakat biasa. 
Orang yang tidak peka, yang rasa kemanusiaannya tumpul dan sudah karat, bisa jadi tidak pernah berpikir sedalam makna dan nilai puisi “Seekor Ulat dalam Buah Jambu” di atas, karena kerakusan manusiawi. Pada saat melihat ulat dalam buah jambu yang akan dimakan, ulatnya langsung dicoker keluar, daging buah jambu yang busuk dibuang, bagian yang sisanya dimakan. Seperti apa nasib ulat dalam buah jambu yang busuk, nasib warga miskin yang seharusnya mendapatkan dana bansos, namun haknya dirampas, diperkosa, dicungkil buang begitu saja oleh para koruptor di negeri ini dan di daerah ini?
Perilaku merampas hak orang lain adalah perilaku para koruptor di negeri ini dan di daerah ini, digambarkan seperti tokoh “aku” dalam puisi Mira Sato di atas. Yang menjadi korban perilaku para koruptor ini adalah rakyat kecil atau warga masyarakat miskin yang tak berdaya, yang bertahan hidup dari kekurangan, yang digambarkan sebagai tokoh “seekor ulat” dalam puisi  yang sarat dengan makna refleksi kemanusiaan ini.
Meskipun puisi di atas sangat sederhana, namun daya jangkau makna dan nilai kemanusiaan universal yang terkandung di dalamnya sangat jauh dan mendalam,  menukik ke dalam relung-relung kesadaran kita. Ia menyusup masuk ke alam bawa sadar kita dan menggedor-gedor rasa kemanusiaan kita. * (Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada Kamis, 18 Juli 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar