Kamis, 20 Desember 2012

Menumbuhkan Minat Sastra Masyarakat NTT


Menumbuhkan Minat Sastra Masyarakat NTT


Oleh  A. G. Hadzarmawit Netti
Pengamat Sastra dan Budaya NTT   

Artikel ini dimulai dengan sebuah pertanyaan: “Apakah sastra itu bermanfaat sehingga minat sastra masyarakat NTT perlu ditumbuh dan dikembangkan?” Uraian berikut akan mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Perihal Sastra
Untuk mendefinisikan sastra secara tepat barangkali tidak mungkin, seperti yang ditandaskan Edward Sapir (1949). Perhatikanlah beberapa definisi sastra yang dikutip oleh Rachmat Djoko Pradopo dalam bukunya Prinsip-Prinsip Kritik Sastra (1994, hlm. 32-36). Namun, demi kepentingan penyajian artikel ini, saya mengutip tiga kesimpulan tentang sastra untuk dijadikan sebagai patokan pemerian.
Pertama, sastra adalah  “suatu pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah dipermenungkan, dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik minat secara langsung lagi kuat, pada hakikatnya adalah suatu pengungkapan kehidupan lewat bentuk bahasa” (W.H. Hudson, 1961, hlm. 10).
Kedua, sastra adalah “ciptaan manusia yang dapat membangun imaji tertentu yang dapat memberi kesan terhadap orang lain” (M.S. Hutagalung, 1971, hlm. 22).
Ketiga, sastra adalah “hasil usaha manusia (sastrawan) dalam mencoba mengungkapkan misteri dan kemungknan-kemungkinan dari eksistensi kehidupan manusia. Dengan mempergunakan kata-kata atau bahasa sebagai alat, sastrawan  membuat visinya lebih jelas bagi dirinya sendiri dan juga bagi orang lain” (A.G. Hadzarmawit Netti, 1977, hlm. 27).
Ketiga kesimpulan tentang sastra di atas menunjukkan bahwa sastra lahir dari subjektivitas seorang sastrawan, yaitu keutuhannya sebagai pribadi manusia yang mengalami atau mengamati dunia kehidupan yang diliputi misteri dan kemungkinan-kemungkinan. Dengan demikian, sastra bertumbuh pada dan lahir dari keseluruhan kemanusiaan seorang  sastrawan: baik pancaindra, imajinasi, intelek, cinta, napsu, naluri, darah dan roh.
Mengenai faktor subjektivitas seorang sastrawan yang menjadi pusat lahirnya sastra, Rudolf Otto menjelaskan sebagai berikut: “Seorang sastrawan memiliki sense of mystery, yaitu perasaan, kesadaran, indera yang melampaui perasaan, kesadaran dan indra manusia biasa. Selain itu, sastrawan juga memiliki religious experience, yaitu pengalaman eksistensial yang meliputi seluruh keadaan manusia.
Dengan pengalaman eksistensial ini sastrawan sebagai visioner sanggup melihat dalam pluralitas dan kompleksitas alam kabir (makrokosmos) satu-kesatuan. Dan dengan sense of mystery, sastrawan digugah dan didorong untuk membahasakan segala sesuatu yang dilihat, dialami, dan dirasakan untuk dirinya sendiri dan juga untuk orang lain sesamanya” (Das Heilige 1917;  John W. Harvey, 1959, hlm. 23,26).
Dengan sense of mystery dan religious experience itulah, Ronggowarsito berkata: “Seorang sastrawan senantiasa prihatin turut memikirkan dunia. Sastrawan senantiasa mencari arti dari yang ada, memikirkan suka-duka manusia yang kompleks. Sastrawan bukan orang yang pandai memainkan kata-kata, melainkan orang yang merenung, orang yang lebih sadar akan misteri dunia dan mampu mengatakannya dengan tepat” (Th. Koendjono, SJ, Agama dan Sastra, 1971, hlm. 47). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sastra sebagai seni merupakan rekaman isi jiwa sastrawan yang mengenal, mengalami, dan merangkul dunia kehidupan yang diliputi misteri dan kemungkinan-kemungkinan. Sastra sebagai rekaman isi jiwa sastrawan sebagaimana dikatakan di atas ini merupakan ekspresi dan interpretasi kehidupan, sekaligus merupakan dialog.

Apakah Sastra Bermanfaat?
Mengenal, menikmati, dan menjalani pengalaman sastra dari hasil bacaan setumpukan buku-buku sastra memang tidak punya kegunaan praktis langsung. Pengenalan, pemahaman, dan pengalaman sastra tidak serta-merta menjadikan seseorang terampil dan dapat menerapkan pengalaman sastranya itu dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
Perlu disadari bahwa sastra itu bermanfaat. Bermanfaat untuk perkembangan daya-daya roh atau aspek-aspek spiritual manusia. Bertambah tajamnya kepekaan batin, semakin baiknya perkembangan kerohanian, semakin terang dan hidupnya kegiatan intelek (akal budi, daya pikir), serta semakin baiknya fantasi. Manfaat-manfaat ini setiap orang bisa memperolehnya dari ketekunan mengakrabi sastra, sehingga sastra menjadi bagian yang seolah-olah tidak terpisahkan dari hidupnya.
Manfaat sastra berkenaan dengan fantasi, Harvey Cox  berkata: “Fantasi adalah imajinasi yang dikembangkan dan diteruskan mengatasi struktur kenyataan sehari-hari. Agar fantasi itu dinamis dan kreatif, maka fantasi itu harus selalu berpangkal dari kenyataan dan pulang ke kenyataan” (Feast of Fools, 1969). Perlu dicatat di sini bahwa fantasi yang pada mulanya berpangkal pada kenyataan tetapi tidak pulang ke kenyataan, dan  fantasi yang tidak berpangkal pada kenyataan adalah “khayalan kosong” atau “lamunan kosong” yang meracuni pertumbuhan aspek-aspek spiritual.
Selanjutnya, Mary Harrington yang mengutip hasil penelitian Bradbury mengatakan: “Bakat berfantasi merupakan bakat untuk hidup. Penemuan-penemuan baru sering diakibatkan karena fantasi, inspirasi atau ilham” (Psychology Today, Vol I, Nomor 1, 1968, hlm. 28,37). Dan J.R.R. Tolkien mengemukakan bahwa “Fantasi tidak merusak akal budi dan tidak mengeruhkan ketajaman pengamatan ilmiah. Makin baik fantasi seseorang, makin terang dan hidup kegiatan inteleknya. Dan semakin terang dan hidup kegiatan intelek seseorang, semakin baik pula fantasinya” (Tree and Leaf, 1964).
Menurut hasil penelitian dua orang sarjana Prancis, Roger Fretigny dan Andre Viler, “Fantasi memainkan peranan sentral dan menentukan dalam perkembangan  psikis manusia. Ada empat macam kesadaran manusia, yaitu kesadaran imajinatif, kesadaran reflektif,  kesadaran aktif, dan kesadaran kontemplatif. Dan fantasi adalah contoh pertama dari kesadaran imajinatif.      Tanpa fantasi maka daya pemikiran kita yang kerja secara diskursif akan menjadi pincang dan terkurung dalam sebuah sistem yang tertutup dan beku. Tetapi dengan fantasi, hidup manusia seutuhnya akan bergerak menurut suatu ritme tertentu antara kenyataan dan harapan” (L’imagerie Mentale, 1968, hlm. 21). Uraian yang lebih luas mengenai fantasi dan imajinasi dapat dibaca dalam buku saya yang diterbitkan oleh Penerbit B You Publishing, Surabaya, berjudul Sajak-Sajak Chairil Anwar dalam Kontemplasi (2011, hlm. 179-243).
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, maka manfaat sastra bagi pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek spiritual manusia tidak boleh diremehkan dan dimarginalkan. Sastra seyogianya diminati dan diakrabi, sebab sastra dapat menjadi santapan rohani yang memperjelas, memperdalam, memperkaya pemahaman dan penghayatan manusia terhadap kehidupan.
D. H. Lawrens berkata, “Good literature helps us to understand not only ourselves but others, whereas bed literature gives a false and misleading view of human relationships” (Useful Literature, hlm. 96) (Cipta sastra yang baik membantu kita bukan hanya untuk memahami diri kita sendiri melainkan sekaligus untuk memahami orang lain sesama kita, sedangkan karya sastra yang buruk memberikan pandangan yang semu dan keliru tentang hubungan antarsesama manusia).            
Jack Gilbert, seorang penyair kontemporer Amerika, ketika berkunjung ke Jakarta pada tahun 1975 mengatakan, “Poetry, for me, is a witnessing to magnitude. It is the art of making urgent values manifest, and imposing them on the readers” (Puisi bagiku adalah suatu penyaksian terhadap kedalaman makna. Puisi adalah seni yang menjadikan nilai-nilai yang dimanifestasikan punya arti penting, serta membuatnya bermakna bagi pembaca).

Mengakrabi Sastra
Menyadari betapa bermanfaatnya sastra bagi perkembangan aspek-aspek spiritual maupun bagi kehidupan sebagaimana dikemukakan di atas, maka seyogianyalah sastra diakrabi. Menurut hemat saya, dan inilah yang mendarahdaging dalam kehidupan saya yang telah berusia di atas tujuh puluh tahun, langkah awal ke arah mengakrabi sastra adalah “minat” atau “suka.” Orang yang tidak berminat atau tidak suka pada sastra, dengan sendirinya tidak akan mempedulikan sastra. Sedangkan orang yang berminat atau suka pada sastra niscaya sangat mempedulikan sastra, dan selalu akrab dengan sastra.
Tempat pertama yang paling baik dan terarah untuk menumbuhkembangkan minat sastra adalah sekolah. Melalui pengajaran sastra yang bertujuan mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai afektif, nilai sosial, atau pun gabungan keseluruhan nilai-nilai itu, maka guru yang akrab dengan sastra dapat menumbuhkembangkan minat sastra pada siswa. Dalam perkembangan selanjutnya, siswa yang telah berminat pada sastra niscaya akan terus mengembangkan minat sastranya secara sendiri-sendiri, sekalipun ia mengalami putus sekolah atau putus kuliah.
Langkah kedua adalah membaca, mempelajari, dan mendalami sastra. Pada tingkat ini, pembaca mulai menghargai sastra, dan mengagumi sesuatu yang tidak terkatakan di balik relung-relung kehidupan yang tersirat dalam karya sastra yang dibaca. Dan ini akan menuntunnya kepada langkah ketiga, yaitu keterlibatan jiwa, lebih tepat disebut keterlibatan segenap daya-daya roh atau aspek-aspek spiritual, antara pembaca dan sastrawan, atau antara pembaca dengan tokoh tertentu maupun peristiwa tertentu yang dikisahkan dalam karya sastra yang dibaca.
Langkah-langkah ke arah mengakrabi sastra sebagaimana dijelaskan di atas ini merupakan suatu proses yang saling berhubungan secara aktif dan dinamis. Semakin tinggi minat sastra seseorang, semakin tekun pula orang itu membaca karya-karya sastra yang diminatinya. Dan bersamaan dengan itu, proses perkembangan segenap daya-daya roh atau aspek-aspek spiritual orang itu semakin baik dari waktu ke waktu.
Langkah keempat adalah mengungkapkan penghayatan dan pengalaman sastra yang diperoleh dari ketekunan mengakrabi sastra. Langkah ini dapat dilakukan melalui forum pembacaan puisi (bagi siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa); pembacaan puisi, dialog dan diskusi (bagi siswa SMA dan yang sederajat);  pembacaan puisi, dialog, diskusi, dan seminar sastra (bagi mahasiswa dan peminat sastra luar kampus perguruan tinggi).
Forum-forum ini merupakan kegiatan yang positif dalam menumbuhkembangkan minat sastra ke arah semakin mengakrabi sastra. Dan menulis artikel-artikel yang bercorak kontemplasi sastra atau kritik sastra, kemudian dipublikasikan di koran-koran yang menyediakan rubrik sastra, merupakan aktivitas yang secara positif menunjang upaya menumbuhkembangkan minat sastra ke arah mengakrabi sastra bagi masyarakat pembaca secara luas, teristimewa bagi generasi muda di Provinsi NTT ini.
Terkait dengan upaya menumbuhkembangkan minat sastra masyarakat NTT ini, saya patut memberikan pujian kepada Yohanes Sehandi yang telah menghasilkan sebuah buku berharga berjudul Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012) yang diterbitkan Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Kehadiran buku Yohanes Sehandi ini sangat positif dalam upaya menumbuhkembangkan minat sastra di daerah ini. Atas petunjuk buku ini masyarakat NTT, terutama generasi mudanya, dapat mencari untuk menemukan, lalu membaca karya-karya sastra yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan NTT yang namanya disebutkan dalam buku ini. Saya harapkan pula agar pada hari-hari mendatang akan muncul kritikus-kritikus sastra di daerah NTT ini yang dapat menerbitkan karya-karya mereka, sebab peranan kritikus dan kritik sastra sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra di Provinsi NTT ini. * (Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 20 September 2012).  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar