Jumat, 02 Desember 2011

Pengarang NTT (Tanggapan "Melacak Sastra dan Sastrawan NTT")


PENGARANG NTT
(Tangggapan “Melacak Sastra NTT dan Sastrawan NTT”)

Oleh Pion Ratulolly
Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamor, Kupang

Sabtu, 26 November 2011, tepat jam 07.00 Wita, sebuah pesan baru, masuk di ponsel saya. Pesan itu masuk dari sebuah nomor baru. Akan tetapi, setelah membaca pesan itu hingga tuntas, saya dapat memastikan bahwa orang yang mengirim pesan itu bukan lagi orang baru di benak saya.

Ia telah lama bersemayam di dada saya. Bersama getir yang senantiasa ia kirimkan lewat goresan tangan dinginnya di setiap tulisan. Ia yang tak pernah letih menjamah dan membelai kepala-kepala para pesiar kata di bumi Flobamora ini. Bahkan sesekali, tangan dinginnya ikut menjambak-jambak kelebat ide di pikiran para pesastra. Niatnya, para pesastra NTT musti lebih baik. Sebaik para penghulu pendahulu pribumi Flobamora. Meski untuk semua itu, ia tak pernah mengharap sekembang mawar apresiasi. Terima kasih sudah mengirim SMS kepada saya, Ama Yohanes Sehandi (YS). 

Pesan itu berisi informasi bahwa nama saya turut beliau sertakan dalam sebuah tulisannya di Flores Pos (19/11/2011). Judul tulisan itu “Melacak Sastra NTT dan Sastrawan NTT”. Maka, pasca membaca pesan demikian, saya bergegas mengakses informasi itu melalui media maya. Dan di situ, saya pun langsung melahap sarapan pagi dari Sang Kritikus Sastra NTT itu.

Menurut beliau ada tiga hipotesa. Pertama, sastra NTT adalah: 1) sastra tentang NTT, dan 2), sastra yang dihasilkan orang NTT. Kedua, sastrawan NTT adalah pengarang karya sastra kelahiran NTT atau keturunan orang NTT. Ketiga, sastrawan NTT adalah: 1) Sastrawan NTT sangat senior atau Sastrawan NTT Lapis Pertama (lahir tahun 1930-1949, kini berusia 62-81 tahun); 2) Sastrawan NTT senior atau Sastrawan NTT Lapis Kedua (lahir tahun 1950-1969, kini berusia 42-61 tahun); Sedangkan 3) sastrawan yunior, dinamakan Sastrawan NTT Lapis Ketiga (lahir tahun 1970-1989, kini berusia 22-41 tahun).

Setelah menyimak tulisan ini secara seksama beberapa kali, saya akhirnya terprovokasi untuk menggayung sambut uluran tangan dingin sang Empu. Bagi saya, tulisan ini merupakan sebuah hasil olah pikir yang ilmiah. Hal ini ditandai dengan bukti-bukti skriptural dan empirisme yang beliau paparkan dalam tulisan ini. Seperti penghadiran nama pengarang NTT sekaligus karya-karya yang berkaitan dengan NTT demi memperkuat pisau analisis tulisan tersebut.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang selalu saja menyisahkan risih sekaligus risau, untuk tidak mengatakan menggangu pikiran, setiap kali saya membaca kembali tulisan ini. Maka saya kemudian tertarik untuk menumpahkan kegundahan ini di atas sebuah media tulisan. Tulisan ini bukan untuk menjustifikasi sebuah kebenaran atau kesalahan. Tapi lebih kepada “penandasan” nilai-nilai etis dan substansial dari sebuah karya sastra. Terutama satsra NTT.

Pertama, beliau menuliskan bahwa sastra NTT adalah 1) sastra tentang NTT, dan 2) sastra yang dihasilkan orang NTT. Contoh sastra NTT 1) adalah Beri Daku Sumba, sebuah puisi karya Taufiq Ismail untuk sahabatnya Umbu Landu Paranggi, penyair asal Sumba. Dan 2) Protes Cinta Republik Iblis, kumpulan puisi karya Bara Pattyradja, penyair kelahiran Lamahala (bukan Lembata sebagaimana dalam tulisan YS), Flores Timur, NTT.

Local Wisdom
Untuk sementara, poin 2) sengaja tidak saya persoalkan di sini. Karena takutnya akan terkesan sangat subjektif. Namun pada poin 1) Tentang NTT, saya mencoba memberikan sedikit penandasan. Sekali lagi sebatas penandasan.

Bahwa yang dimaksud tentang NTT di sini, bukan semata karena karya-karya itu menggunakan latar, nama tokoh ataupun memungut diksi-diksi lokal. Namun tentang NTT yang dimaksud di sini adalah seperangkat kearifan lokal (lokalitas) yang diangkat marwahnya oleh para penulis.

Hakikatnya, kearifan lokal (local wisdom) yang dimaksudkan di sini hendaknya, termasuk cara pandang masyarakat setempat, nilai-nilai moralitas yang hidup dan berkembang, falsafah dan pandangan hidup, pesan-pesan edukatif, interpretasi makna idiom-idiom lokal, simbol-simbol sejarah dan relevansinya terhadap masa kini, manifestasi dari mitos-mitos lokal, bahkan sampai kepada penerjemahan struktur fisik (anatomi tubuh) penduduk setempat. Konkretnya, ada semacam penjabaran lanjutan dari hal-hal elementer dari kearifan lokal tersebut.
 Di sini, pengarang tidak sekadar hadir sebagai ahli promosi atau guide pariwisata, melainkan benar-benar sebagai pujangga pengangkat marwah kearifan lokal sekaligus Empu. Ia tidak saja memperkenalkan khazanah budaya, adat tradisi, dan karakteristik masyarakat setempat melalui karya sastra. Namun lebih kepada memperjuangkan dan meninggikan harkat dan martabat daerahnya. Dengan demikian, antara kuantitas dan kualitas akan mampu bertarik erat dengan baik.

Sastrawan Lebai, Pengarang Lebih Baik
Hal berikutnya yang patut menjadi ingatan kolektif kita, yakni penggunaan kata sastrawan untuk “mengklaim” orang-orang yang menulis sebuah karya sastra. Karya sastra yang dimaksud adalah puisi, cerpen, drama, novel, dan esai sastra. Akan tetapi, apakah sebuah karya sastra itu dengan serta merta langsung dibaptis sebagai “karya sastra” hanya karena jenisnya termasuk dalam karya sastra. Lantas penulisnya juga langsung dibaptis sebagai sastrawan?

Sebagai ingatan. Pada dasarnya sebuah karya sastra tidak selamanya disebut karya sastra meskipun karya itu adalah puisi, cerpen, drama, novel, dan esai sastra. Ia bisa disebut sebagai karya sastra tetapi bisa juga disebut sebagai karya populer. Pembedaan karya sastra dan karya populer dapat kita lihat secara sederhana melalui penggunaan unsur intrinsik atau tubuh karya sastra tersebut. Baik melalui bahasa yang dipakai, pertimbangan nilai-nilai etis, cara bertutur pengarang, ataupun melalui ide cerita yang dikemas.

Sebut saja, novel  Desahan Gadis Panggilan  karya Fredy S. Apakah kita tega mengatakan bahwa karya ini adalah karya sastra, lantaran jenisnya adalah novel yang merupakan salah satu jenis karya sastra? Sementara bahasa yang digunakan adalah bahasa komunikatif sehari hari (lu, gue, nggak, bete, pede, dan sejenisnya) yang sangat mengabaikan tata nilai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ide ceritanya pun terkesan amat klise, untuk tidak menyebut picisan. Cara bertuturnya yang sangat monoton dan datar. Bahkan amat naas karena karya-karya jenis ini sering kali mengabaikan nilai-nilai etis sebuah karya sastra.

Padahal, kita ketahui bahwa sebuah karya sastra yang baik hendaknya mengandung unsur estetika (keindahan) juga etika (moral). Jika kedua nilai ini tidak lagi nampang dalam sebuah karya sastra, apalah bedanya karya tersebut dengan garam yang disiram di lautan.

Nah, satu ketakutan terbesar adalah jangan sampai karya-karya jenis ini sempat singgah di tangan sidang pembaca yang masih remaja. Atau bahkan anak-anak. Jika hal demikian terjadi maka dapat mengakibatkan degradasi moral generasi muda. Karena biasanya karya-karya bermenu ini sangat lahap di tenggorokan pembaca dengan usia yang masih labil (puber). Analogi sederhana, ibarat seharusnya kita memberikan nasi dan ikan kepada anak-anak yang lapar, namun kita salah memberikan permen atau coklat yang dapat merusak sebagian sel dan organ tubuh mereka.

Lantas, apakah kita masih (terpaksa) berbangga mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mengindahkan hal-hal substansial serupa ini masih layak disebut sastrawan? Lalu, kepada para penulis pun harus melakukan refleksi diri, apa saya masih harus menepuk dada bahwa saya adalah sastrawan? Ataupun orang hebat karena bisa menulis karya sastra dengan halaman buku yang amat tebal dan dengan jumlah yang sudah banyak?

Ingatlah juga, seorang dikatakan penulis itu bukan karena ia mampu menerbitkan buku. Boleh jadi banyak orang yang memiliki kemampuan menulis yang mungkin lebih baik, tetapi belum atau tidak menerbitkan dalam bentuk buku.

Dengan demikian, solusinya, saya sangat menganjurkan agar pembaptisan nama “sastrawan” sebaiknya lebih dipertimbangkan lagi. Bila perlu tidak usah. Ada baiknya saya sarankan akan lebih afdhol kita sebut saja “pengarang.” Supaya pengertian sederhananya hanya pada orang yang mengarang karya (khususnya karya-karya sastra). Maka tak ada lagi pihak yang merasa ditinggalkan atau meninggalkan.     

Senioritas
Saya kembali teringat pesan yang disampaikan oleh M. Raudah Jambak, salah seorang sastrawan asal Medan, Sumatera Utara. Pesan itu beliau sampaikan tatkala kami mengikuti ajang Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang, Oktober 2010 lalu. Ia mengatakan bahwa dalam jagat sastra, tidak ada senioritas. Tak ada yang berhak disebut senior ataupun junior. Semua sama kedudukannya dalam dunia sastra. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Bertolak dari pesan ini, saya agak cemas dengan pengkotak-kotakan sastrawan (baca: pengarang) yang dikemukakan sebelumnya. Okelah jika pemfirkah-firkahan seperti ini semata hanya menunjukkan usia pengarang. Bukan “usia kepengarangan” karena kalau berbicara soal usia kepengarangan maka boleh jadi seorang pengarang yang lebih muda dan lebih awal berkarya, akan merasa tersisih dengan pengklasifikasian seperti ini. Perlu ada penandasan di sini bahwa pengklasifikasian seperti ini hanya semata karena melihat pada usia pengarang.

Dengan demikian, senioritas itu bukan merupakan sebuah jaminan sebuah karya sastra itu diklaim berkualitas atau tidak. Karena banyak kasus yang membuktikan bahwa seorang anak muda sekalipun, karya sastranya mampu dan layak disandingkan dengan karya-karya penulis besar (tentunya lebih senior).

Simpulan
Dari uraian sederhana ini dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya hal yang paling utama dalam “dunia sunyi” (baca: sastra, meminjam istilah Dr. Marsel Robot) adalah kualitas karya tersebut. Bukan pengklaiman, bukan senioritas, bukan pula kuantitas.

Bahwa kualitas sebuah karya sastra tidak diukur dari seberapa tebal dan banyak karya sastra yang dihasilkan. Namun lebih kepada seberapa tinggi kualitas karya tersebut. Kualitas sebuah karya juga tidaklah ditentukan oleh seberapa banyak hasil cetakan yang terjual. Tetapi seberapa besar karya tersebut bernilai maslahat dalam kehidupan masyarakat. Tentunya, dengan senantiasa berlandaskan pada dua hal utama, estetika dan etika. * (Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 29 November 2011).







Tidak ada komentar:

Posting Komentar