Minggu, 11 Desember 2011

Dosa Asal Sastrawan (NTT)

Oleh Januario Gonzaga
Anggota Forum Diskusi Sastra “Dusun Flobamora”

Kita ingat polemik "sastra daerah" versus "sastra dunia" yang disulut oleh Ajip Rosyidi pada tahun 1950-an. Kita ingat pula debat di sekitar ideologi sastra humanisme vs realisme yang muncul pada tahun 1960-an. Kita ingat debat sekitar metode kritik sastra antara Arief Budiman dan para kritikus sastra "kampus" dari mazhab Rawamangun pada tahun 1970-an (?) Kita ingat debat sastra kontekstual pada tahun 1980-an yang disulut oleh Arief Budiman dan kemudian direkam dengan baik oleh Ariel Heryanto. Kita ingat pula diskusi sastra yang ramai pada awal 1990-an karena pengaruh teori posmodernisme, antara lain ditandai oleh pidato Nirwan Dewanto pada saat Kongres Kebudayaan yang berlangsung di TIM pada awal 1990-an. Setelah itu, kita juga ingat polemik sastra pedalaman (meski tidak muncul ke permukaan) yang isunya kurang lebih sama dengan apa yang diangkat oleh Saut Situmorang dkk saat ini, meskipun jauh lebih sopan.
Asal Dosa Asal
Sastra atau kesusastraan, menurut Swingewood, merupakan suatu rekonstruksi dunia dilihat dari sudut pandang tertentu yang kemudian dimunculkan dalam produksi fiksional. Rekonstruksi ini memang sedianya menyimpan polemik sebab oleh subjektivitas, objektivitas sangat-sangat dinafikan. Maka itu, beberapa waktu ini, harian Flores Pos yang terbit Ende, Flores kembali memuat diskusi tentang sastra dan sastrawan NTT menjadi pemicu rekonstruksi menggelisahkan ini. Meskipun belum cukup alot, karena memang isi diskusi baru seputar nama diri sastra, diskusi ideologi dan isi sastra, tetapi budaya yang dicita-citakan oleh banyak pekerja kata (seniman sastra/sastrawan) telah lahir. Ruang diskusi ini saya yakin telah membakar kaum yang saban hari rumahnya adalah “kesunyian” dan kekasihnya adalah “kata.” Di Kupang, komunitas dan rumah sastra saling meneror dengan debat panjang seputar karya dan pengarang. Pada media online, tulisan-tulisan sastra mulai dikaji dan dikomentari dari berbagai perspektif.
Tentang maraknya menulis dan mengkaji tulisan, saya ingin menjadi sekadar pembaca yang tergila-gila pada istilahnya ini: ‘keruntuhan di masa depan.’ Ketergilaan ini sebentuk ketakutan belaka, bilamana kita akan menjadi bulan-bulanan dengan pena yang kita pakai. Diskusi sastra seakan absurd jika kita tidak menyeimbangkan kemampuan kita yang semestinya inheren ada pada pekerja kata.
Tulisan ini hanya berpretensi bahwa tak sekadar ini dan itu yang jadi anggapan masyarakat (yang dalam tulisan ini, kata masyarakat sinonim dengan kaum televisi), dan pemerintah (yang juga dalam tulisan ini, kata pemerintah sinonim dengan kaum birokrat). Mungkin periodisasi dari artikel opini Bapak Yohanes Sehandi dalam harian Flores Pos (Ende) pada 19 November 2011 adalah bahan mentah yang konsekuensinya ibarat gombalan para perayu cinta. Tentang sastra, paling-paling eksentriknya muncul dari kata dan ekspresi deklamatif. Selebihnya, omong-omong kering yang ludes dibakar amarah kejenuhan masyarakat televisi.
Tak beda pula yang dibikin oleh kaum birokrat. Peduli apa mereka dengan kata-kata puitismu yang mengganggu coret-moret nama koruptor dalam laci mejakantor? Peduli apa puisi-puisi naratif Joko pinurbo di tengah tumpukan map proposal permintaan dana dan kertas-kertas cek? Apalagi kebijakan. Tak ada sangkut paut sastra dalam atur-mengatur masyarakat dan olah-mengolah anggaran pendapatan dan belanja daerah.
Lalu sastra dan sastrawan terus saja membombardir melalui cermin konteks yang terus membunting gelisah dan melahirkan kata. Bombardir yang lama kelamaan menyeruak kebosanan dan kekebalan (atau juga kebebalan) pada telinga dan kulit manusia-manusia zaman ini. Tiba di sini, kaum seniman terseret pada dua dikotomi paling satir. Di satu sisi, kaum seniman kata telah memenangkan pertandingan yang tanpa piala kemenangan. Namun di sisi lain, kaum seniman kata telah tunduk pada emosi mata, pada luapan gelisah bathin yang monoton dan horizontal.
Nah, sisi kedua inilah yang menjadi titik runyam kalau-kalau tidak diberi kepedulian sejak dini. Ada penyesalan ketika sesudah generasi Gerson Poyk dan teman-temannya tidak lagi melejit pujian bagi orang NTT yang bergiat di seni sastra. Bukan semata-mata salah kaum pendahulu, sesepuh kita. Mereka memberikan teladan dan membantu dengan memperlebar  jalan. Namun ada kesalahan pada kaum generasi televisi yang tidak memedulikan jasa mereka. Jadilah kita merayap dan meraba-raba dalam kegelapan nama siapa dan siapa yang terkategori pada periode masa ini. Barulah sekarang ada kesadaran untuk menggiatkan sastra. Namun itu pun jika tidak ada pencegahan maka akan tetap berulang dan kembali pada dinasti kegelapan. Ulangan lahir karena masyarakat kita bukanlah basis ber-buku dan basis membaca. Jika demikian, sastra/sastrawan adalah sebentuk daftar nama semata laiknya daftar nama CPNS.
Pe-mandi-an Ulang
Untuk itu kita berjuang agar semangat ini tidak menghilang di tikungan jalan. Mula-mula diperlukan sebuah pencucian atau katakanlah pemandian ulang. Asumsi dasar adalah bahwa setiap sastrawan dari mana saja asalnya dituruni sebuah dosa asal. Hanya saja mereka selalu lebih dahulu memiliki seorang tuhan yang padanya mereka mencucikan diri. Tuhan itulah yang sampai dengan sekuat tenaga dicintai, sebab jika tidak maka mereka akan kembali pada masa kegelapan. Untuk disandingkan, bisa dibaca artikel yang ditulis oleh Saut Situmorang berjudul “Dicari : Kritik(us) Sastra Indonesia.” Beliau mengatakan bahwa sastrawan kita saat ini seperti “jalan di tempat,” karena karya mereka begitu-begitu saja, seragam, terlalu sosiologis dan lokal tema/topiknya, tidak cerdas pemakaian bahasanya. Maka sebagai satu-satunya cara menyembuhkan “krisis” ini sastrawan Indonesia modern/kontemporer dianjurkan untuk berobat ke luar negeri, kalau tidak ke Amerika Serikat atau Eropa, ya ke Amerika Latin. The West is the best, seperti kata Jim Morrison dari The Doors!
Rupanya harus disebutkan bahwa, debat berkepanjangan dari kaum sastrawan di atas lahir oleh dasar yang memadai. Mereka giat membaca, menerjemahkan, berdiskusi dan menghasilkan karya-karya yang berbobot sastra. Demikian yang dinamakan bukti keseriusan. Sementara itu, dosa asal adalah titik balik dari semangat zaman para sastrawan untuk menggulingkan rezim krisis dengan tangan dan tinta penanya sendiri. Maka tawaran berobat ke luar negeri atau dalam bahasa saya, pencucian atau pemandian diri tidak perlu harus ke Lourdes atau ke Eropa. Kita dapat memulainya di ruang media dan ruang diskusi. Memuatnya tulisan bapak-bapak pemerhati sastra cukup menambah stamina generasi baru untuk bergegas menobatkan diri dari dosa asal itu kemudian mencucikan diri pada kolam kolom imajinasi. *
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 9 Desember 2011).  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar