Kamis, 24 November 2011

Melacak Sastra dan Sastrawan NTT (Sebuah Tanggapan)


„Melacak Sastra dan Sastrawan NTT“
(Sebuah Tanggapan)

Dr. phil. Norbertus Jegalus, MA
Staf Pengajar  Fakultas Filsafat Unwira Kupang

            „Melacak Sastra dan Sastrawan NTT“ itulah judul Opini pada harian Flores Pos, Sabtu, 19 November 2011, yang ditulis oleh Bapak Yohanes Sehandi. Meski sang penulis opini ini masih menjanjikan untuk merampungkan penjelasan dan argumentasinya tentang eksistensi sastra NTT dan sastrawan NTT dalam tulisan berikutnya, namun dari tulisan ini, bagi saya, sudah tampak bahwa memang ada sastra NTT dan juga ada penulis karya sastra NTT. Berkaitan dengan itu saya selaku warga NTT yang bukan ahli sastra, tetapi ahli filsafat, ingin sekali memberikan, pada kesempatan ini, tanggapan positif atas apa yang dikemukakan itu.
            Pertama-tama, berdasarkan tulisan ini dan beberapa tulisan sebelumnya dari  Yohanes Sehandi, terutama di media cetak harian Pos Kupang, saya merasa bangga. Karena, ternyata kita orang NTT tidak hanya memiliki karya sastra dan penulis sastra (sastrawan) melainkan juga pemerhati dan bahkan kritikus sastra. Memperhatikan beberapa telaahan yang dilakukan Yohanes Sehandi terhadap sejumlah karya sastra di NTT selama ini, saya akhirnya berani menyebut Yohanes Sehandi, tidak saja sebagai seorang pemerhati sastra NTT, tetapi seorang kritikus sastra. Kalaupun dia belum dikategorikan ke dalam kritikus sastra hebat karena belum begitu lama menggeluti dunia kritik sastra, namun pengalaman awal ini sudah menunjukkan adanya potensi besar untuk itu.
            Saya mendukung lahirnya kritikus sastra NTT. Karena bagaimanapun kita orang NTT sudah dikenal di pentas nasional dan bahkan di pentas dunia dalam dunia kritik sastra. Sudah dicatat di dalam sejarah sastra nasional dan dunia nama seorang putra NTT, Dami N. Toda, sebagai seorang kritikus sastra yang berbobot. Saatnya kita melahirkan kritikus-kritikus sastra muda. Akan tetapi, kritikus sastra hanya bisa lahir kalau ada karya sastra, karena tugas dan pekerjaannya adalah menelaah karya sastra secara kritis demi perkembangan penulisan karya sastra yang semakin berbobot.
            Penulis sastra adalah manusia. Sebagai manusia mereka perlu mendapat dorongan dan kritikan, dan itulah yang  dilakukan oleh kritikus sastra, sehingga sastrawan menghasilkan karya sastra, tidak saja semakin banyak, tetapi juga semakin berbobot. Tilikan dan kritikan dari para kritikus sastra sangat membantu peningkatan bobot karya sastra. Sastrawan yang tidak mau dikritik adalah sastrawan yang tidak mau berkembang. Kalau dia tidak berkembang dalam bobot karyanya, maka bagaimana mungkin kita mengharapkan NTT untuk masuk ke pentas nasional dan dunia.
            Yang menariknya, dalam pengamatan saya selama ini, adalah bahwa ada penulis sastra NTT yang tidak rela karyanya ditelaah oleh kritikus sastra. Hal ini, sejauh yang saya amati, pernah dialami oleh Yohanes Sehandi. Dia pernah mengeritik beberapa karya sastra dari beberapa komunitas sastra di NTT yang dimuat di Pos Kupang, dan muncullah tanggapan menolak dari para penulis karya sastra itu. Dengan kata lain, para penulis itu tidak menerima telaahan dari kritikus sastra.
            Menurut saya adalah wajar kalau ada kritik sastra. Ada hubungan erat antara sastrawan dan kritikus sastra. Syukur sekali kalau kita di NTT ini tidak hanya ada penulis sastra, tetapi juga kritikus sastra. Kritikus sastra sebenarnya memberi semacam nasehat, teguran, dan arahan kepada seniman. Hanya saja, seorang sastrawan menulis karyanya tidak boleh bergantung kepada kemauan kritikus sastra, karena bagaimanapun sastrawan memiliki kebebasan dalam berekspresi. Akan tetapi, bagi pengarang awal sangat perlu kritik sastra. Sebab, kritik dapat menjadi masukan berharga untuk meningkatkan proses kreatifnya, sehingga pada saatnya dia dapat menghasilkan karya berbobot.
            Kedua, kepada Yohanes Sehandi sebagai seorang pengajar dan sekaligus yang mau berkembang dalam dunia kritik sastra atau menjadi seorang kritikus sastra, saya ingin menanyakan local genius sastra NTT itu.  Karena hanya dengan mengenal local genius itu barulah kita bisa mengklaim, yang ini karya sastra NTT, dan yang itu bukan sastra NTT. Karena bagaimanapun NTT adalah suatu komunitas masyarakat dengan segala keunikannya, yang tidak bisa begitu saja dipersamakan dengan komunitas-komunitas lain di Indonesia.
            Meski di dalam diskursus ilmu-ilmu sosial akhir-akhir ini, termasuk Antropologi, sudah mulai dibedakan antara local genius dan local genuine. Menurut distingsi itu, local genuine adalah apa yang kita sebut sekarang kearifan lokal. Dalam pandangan itu, local genuine adalah apa yang dimiliki oleh suatu masyarakat lokal yang merupakan ciri keasliannya tanpa adanya pengaruh luar atau unsur campuran dari luar. Sedangkan local genius adalah keunikan lokal, tetapi masih dapat menerima pengaruh luar. Dan itulah, misalnya, kalau kita memikirkan kebudayaan Jawa dengan tanpa luput menghubungkannya dengan Hinduisme.
            Tanpa mengabaikan diskursus itu, mari kita mengamati local genius sastra NTT, sehingga karya sastra itu betul-betul milik masyarakat NTT. Beberapa waktu yang lalu saya pernah diminta untuk membahas sebuah karya sastra NTT yang ditulis oleh putra NTT, judulnya Badut Malaka (karya Robert Fahik). Di dalamnya, sang penulis mengangkat religiositas masyarakat asli dan dunia pekerjaan (dunia kepetanian). Apakah orang NTT adalah orang-orang religius, dalam arti, agama Kristen itu sangat menentukan seluruh hidupnya. Apakah orang NTT itu adalah petani yang ulet bekerja, atau, mereka menjadi petani karena tidak mampu mendapatkan profesi lain menurut standar atau tuntutan masyarakat modern?
            Yang menjadi tugas Yohanes Sehandi selaku kritikus sastra NTT adalah bagaimana menentukan local genius sastra NTT itu. Karena dari beberapa karya tulis yang dipublikasikan di media di NTT, saya belum menemukan telaahan seperti itu. Padahal telaahan itulah yang menentukan ke-NTT-an sastra NTT.
            Ketiga, akhirnya saya mengajukan tiga pertanyaan di sini. Pertama, menurut pengamatan Bapak, hal-hal mendasar apa saja yang masih harus diperhatikan atau dibenahi oleh para penulis sastra NTT agar karya sastra NTT dapat berkembang, bukan saja dalam jumlah tetapi juga dalam mutu? Kedua, hal-hal atau aspek-aspek apa saja yang perlu kita minta bantuan dan perhatian Pemda NTT dalam rangka mempertahankan eksistensi sastra NTT dan mengembangkannya? Karena, menurut saya, pemerintah haruslah turut ambil bagian dalam mendorong pembangunan sastra di NTT. Jangan lupa, pembangunan sastra adalah pembangunan manusia. Sangat disayangkan, kalau pemerintah tidak memberikan perhatian yang serius terhadap pembentukan manusia NTT melalui sastra. Ketiga, sastra tanpa masyarakat itu mustahil. Karena itu, di sini saya mengajukan pertanyaan kepada Bapak, hal-hal apa saja yang masih harus dibangun di kalangan masyarakat agar sastra kita dapat hidup dan berkembang.
            Dalam kaitan dengan pertanyaan tentang penulis sastra dan masyarakat pembaca di atas, saya masih melanjutkan catatan ini: Suatu hal yang perlu kita waspadai adalah hubungan antara karya sastra, atau persisnya, publikasi karya sastra dengan kapitalisme. Di sini ada dua aspek yang ingin saya komentar: Pertama, ada karya sastra yang kalau ditilik dari segi bobotnya rendah, namun karena penulis memiliki kemampuan uang untuk menerbitkannya, maka karya itu diterbitkan. Kedua, ada karya sastra yang tidak berbobot tetapi karena sangat disenangi oleh masyarakat pembaca maka karya itu diterbitkan dalam oplah yang luar biasa besarnya. Oplah besar itu ada hubungan dengan pertambahan kapital bagi penerbit. * (Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 24 November 2011).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar