Sabtu, 18 Juni 2016

Pendidikan Cerdas Orang Yahudi



Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Flores, Ende, Email: yohanessehandi@gmail.com.

Saya sungguh menikmati dan terpesona membaca sejumlah buku tentang suku bangsa Yahudi, suku bangsa keturunan Abraham yang dipilih Yahwe (Tuhan) menjadi bangsa pilihan (the chosen people). Sejumlah buku itu adalah Rahasia Kecerdasan Yahudi (A. Mahaeswara, 2010), Menguak Rahasia Cara Belajar Orang Yahudi (Abdul Waid, 2013), Membongkar Metode-Metode Pembelajaran Brilian Orang Yahudi (Delfi Luhvian, 2016), dan Yahudi Menggenggam Dunia (William G. Carr, 2005).

Secara genetik keturunan Yahudi (bangsa Israel) memiliki tingkat kecerdasan intelektual atau IQ (intelligence quotient) sangat tinggi, berkali-kali lipat dibandingkan dengan IQ suku bangsa manapun di dunia. Modal tingkat IQ yang tinggi inilah membuat orang Yahudi menjadi orang nomor satu di berbagai bidang keilmuan dan bidang kehidupan yang mempengaruhi peradaban manusia. Orang Yahudi menggenggam dunia bukanlah isapan jempol belaka. Jumlah orang Yahudi saat ini tidak lebih dari 8 juta orang, namun mereka menggenggam 3,5 miliar umat manusia di seantero jagat.

Sekadar menyebut beberapa nama orang Yahudi yang mempengaruh arah peradaban manusia sejagat, antara lain Thomas Alfa Edison (penemu bola lampu listrik), Albert Einstein (penemu teori gravitasi), Felix Bloch (penemu bom atom), Leonard Kleinrock (penemu internet), Bill Gates (penemu Microsoft), Larry Page (pencipta Google), Mark Zuckerberg (pembuat Facebook), George Soros (pialang nomor wahid dunia). Tidak heran kalau orang Yahudi menyebut suku bangsa lain sebagai goyim (bahasa Ibrani) atau umamy (bahasa Arab), yang artinya bangsa-bangsa lain diciptakan Tuhan Allah hanya untuk melayani kepentingan Yahudi belaka.

Meskipun bangsa Yahudi dan keturunannya menyadari diri sebagai bangsa pilihan Allah yang dikarunia IQ yang sangat tinggi, mereka membangun kekuatan (potensi) dari dalam dirinya secara ketat dan penuh kesadaran. Lembaga pendidikan menjadi kunci,  pendidikan dalam keluarga dan pendidikan agama. Dalam sejumlah buku yang saya sebutkan di atas, digambarkan bagaimana orang Yahudi menjunjung tinggi tradisi pendidikan dan keagamaan yang diwariskan para leluhur mereka. Mereka bekerja keras dalam belajar untuk meraih ilmu pengetahuan tertinggi dan sejati. Setiap generasi muda Yahudi dipacu untuk menjadi terbaik dalam bidangnya, di bidang manapun dia bergelut.

Sistem pendidikan orang Yahudi berpegang teguh pada tiga pokok berikut, yakni (1) berpegang teguh pada konsep agama monoteis, yakni sistem kepercayaan yang hanya mengenal satu Tuhan sebagai landasan kehidupan utama, (2) berpegang teguh pada sistem etika yang merujuk pada Sepuluh Perintah Allah yang diterima bangsa Yahudi di di padang gurun/gunung Sinai lewat perantaraan Nabi Musa, dan (3) berpegang teguh pada sumber utama pendidikan Yahudi, yakni Kitab Suci Taurat (semacam Perjanjian Lama) dan Kitab Suci Talmud (semacam Perjanjian Baru).

Konsepsi pendidikan Yahudi merupakan perpaduan ketat dan sinergis antara pengetahuan agama Yahudi dan pengetahuan umum. Mereka meyakini, pendidik utama mereka adalah Tuhan sendiri. Tradisi pendidikan Yahudi diwariskan secara turun-temurun. Pendidikan dalam keluarga dilakukan kedua orang (sang ayah berperan lebih besar) dan pendidikan dalam rumah ibadah (sinagoga) oleh para rabi. Sejak kecil orang Yahudi ditanamkan kesadaran bahwa pengetahuan umum tidak bisa dipisahkan dengan pengetahuan agama Yahudi. Sinergisitas pendidikan Yahudi memberikan hak otoritas tertentu bagi setiap orang tua dalam keluarga dan bagi pemimpin agama (rabi) di sinagoga. Sinergisitas kedua lembaga pendidikan ini ditanamkan sejak awal dan menjadi tradisi khas orang Yahudi di manapun berada.

Demi menjadi bangsa yang unggul dan menggenggam dunia, bangsa Yahudi sangat menghargai waktu. Waktu digunakan untuk beribadah dan belajar. Kedua hal ini seperti sebuah ritual keharusan. Belajar sama wajibnya dengan beribadah. Anak-anak Yahudi ditanamkan sejak kecil tiga kebiasaan mendasar yang tidak bisa ditawar-tawar, yakni membaca, menulis, dan berdiskusi (berdebat). Ketiga kebiasaan ini  menstimulasi ketajaman IQ. Mereka berusaha menguasai ilmu-ilmu murni, seperti arkeologi, bahasa, sastra, filsafat, astronomi, matematika, kimia, fisika, dan biologi. Mereka belajar secara tuntas, tidak setengah-setengah. Itulah model pendidikan cerdas orang Yahudi.

Buah dari pendidikan cerdas orang Yahudi ini tampillah di panggung dunia orang-orang Yahudi yang unggul dan mencengangkan. Hampir semua institusi tingkat dunia yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai Yahudi. Sebagian besar penerima hadiah Nobel adalah keturunan Yahudi. Bertaburan orang Yahudi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Majelis Umum PBB, Dewan Keamanan PBB, lembaga-lembaga PBB seperti FAO, Unesco, dan Dana Moneter Internasional (IMF). Orang-orang Yahudi memasukkan orang cerdasnya dalam Mahkamah Nuremberg, Bank Dunia, dan WTO.  

Perusahaan-perusahaan besar tingkat dunia dikelola Yahudi atau otaknya orang Yahudi, seperti Carrefour, Danone, Barrick Gold, Baskin Robbins, Dunkin Donuts, Google, Facebook, Levi Strauss, Microsoft, Mars and Spenser, Starbucks Corporation, Philiph Morris, CNN, Star TV, Timberland, dan masih puluhan bahkan ratusan perusahaan raksasa dunia lain. Dunia industri perfilman, media massa, baik media cetak, elektronik, dan media online, dikuasai orang-orang Yahudi.

Yahudi memiliki badan inteligen Mossard yang sangat ditakuti dunia. Lewat tangan Amerika Serikat bangsa Yahudi mengatur naik-turunnya politik dunia. Israel, negara resmi bangsa Yahudi, dikelilingi negara-negara yang menjadi musuh utamanya, namun musuh-musuhnya tidak berkutik. Negara Israel bahkan semakin melebarkan sayap wilayahnya. Ini semua merupakan buah dari pendidikan cerdas orang Yahudi. *

(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada Sabtu, 18 Juni 2016).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar