Jumat, 27 Mei 2011

Memperingati Bulan Bahasa 2010 (1)

Memperingati Bulan Bahasa 2010  (1)
     Bahasa Indonesia Berusia 82 Tahun
Oleh Yohanes Sehandi
Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia

Tanpa kita sadari, pada 28 Oktober 2010, bahasa Indonesia berusia 82 tahun. Sebagai salah satu unsur/produk kebudayaan bangsa Indonesia, usia 82 tahun ini dinilai belum apa-apa dibandingkan dengan usia bahasa-bahasa dunia yang lain yang sudah mapan, seperti bahasa Inggris, Perancis, Spanyol, dan Portugis yang telah berusia beratus-ratus tahun.
Usia bahasa Indonesia dihitung sejak kelahirannya pada 28 Oktober 1928, pada waktu para pemuda utusan dari seluruh wilayah kepulauan Nusantara yang bergabung dalam Perhimpunan Indonesia Muda mengikrarkan  Sumpah Pemuda yang menggemparkan itu, di mana butir sumpah yang ketiga menyatakan  Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
 Dengan diikrarkannya butir sumpah yang ketiga itu, maka “secara resmi” lahirlah bahasa Indonesia yang sebelumnya bernama bahasa Melayu. Memang, di antara para ahli bahasa masih terjadi perbedaan pendapat tentang hari kelahiran bahasa Indonesia. Ada sebagian kecil yang menyatakan bahwa 28 Oktober 1928 itu hanyalah hari  “permandian” sebuah bahasa daerah yang bernama bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, sedangkan hari kelahirannya dihitung jauh sebelumnya sejak kelahiran bahasa Melayu (Melayu Kuno) itu sendiri yang sulit dirunut ke belakang.
Dalam perkembangan diskusi tentang hari lahir bahasa Indonesia, para ahli bahasa akhirnya sepakat bahwa hari lahir bahasa Indonesia pada  28 Oktober 1928, dengan alasan:  (1) nama atau istilah  “bahasa Indonesia”  untuk pertama kali dipakai  “secara resmi” pada 28 Oktober 1928;  dan (2) perkembangan bahasa Indonesia setelah 28 Oktober 1928  sangat pesat dan sudah jauh meninggalkan sejumlah ciri khas bahasa Melayu yang merupakan  “ibu kandungnya.”
Dalam rangka memperingati hari kelahirannya 28 Oktober, Pemerintah RI  menetapkan bulan Oktober setiap tahun sebagai Bulan Bahasa, yang dalam pelaksanaannya  seringkali  dirangkaikan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda. Tulisan berseri ini disusun dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 2010 tahun ini.
Dalam usianya yang ke-82 tahun ini, perkembangan bahasa Indonesia sungguh membanggakan. Mungkin saja banyak di antara kita yang tidak/belum  tahu bahwa bahasa Indonesia kini menduduki  “peringkat lima” bahasa dunia dilihat dari jumlah penutur atau pemakainya di seantero jagat. Peringkat pertama diduduki bahasa Mandarin (Cina) dipakai oleh lebih dari satu miliar penutur. Peringkat dua bahasa Hindi (bahasa nasional India), peringkat tiga bahasa Inggris, peringkat empat bahasa Perancis, dan peringkat lima bahasa Indonesia. Berita tentang peringkat bahasa Indonesia di antara bahasa-bahasa dunia ini dikemukakan Dendy Sugono, Kepala Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional  (Kompas, 14/5/2009).
Dalam harian yang sama, Dendy Sugono menyatakan bahwa peluang bahasa Indonesia untuk menjadi salah satu bahasa global/dunia  terbuka lebar. Di samping potensi penutur yang banyak, pusat-pusat pembelajaran bahasa Indonesia yang tersebar di seluruh dunia berkembang dengan sangat pesat. Sampai dengan tahun lalu (2009) terdapat 203 pusat pembelajaran bahasa Indonesia di sejumlah negara di dunia dengan jutaan jumlah peserta didik dan alumninya. Dalam lima tahun ke depan (sejak 2009) akan dibuka lagi 35 pusat pembelajaran bahasa Indonesia di sejumlah negara di dunia. Ini sebuah berita yang membanggakan.
            Kebanggaan lain bangsa Indonesia di bidang kebahasaan, yang  perlu kita  sadari pula pada waktu memperingati Bulan Bahasa 2010 tahun ini  adalah tentang jumlah bahasa daerah di Indonesia. Dari sekitar 6.700 bahasa (termasuk bahasa-bahasa daerah) di seantero dunia, sebanyak 2.185 bahasa daerah terdapat di Indonesia (Pos Kupang, 10/6/2008).  Indonesia menduduki  “peringkat pertama”  negara di dunia yang memiliki bahasa daerah paling banyak.
Dari jumlah 2.185 itu, 746 bahasa daerah sudah diidentifikasi dan sudah dimasukkan dalam Peta Bahasa Negara Kesatuan Republik Indonesia (Kompas, 27/5/2009). Dari 746 bahasa daerah yang telah diidentifikasi itu, 54 di antaranya terdapat di Provinsi NTT dan Kepulauan Alor menduduki peringkat pertama untuk NTT (lihat Jermy Balukh, “Merevitalisasi Bahasa yang Terancam Punah di NTT” dalam Pos Kupang, 21/2/2008).
            Pada usianya yang ke-82 ini, bahasa Indonesia telah memantapkan jatidirinya dengan dibakukan sejumlah unsur/perangkat kebahasaan. Ada empat unsur/perangkat kebahasaan yang telah dibakukan  pemerintah  dan merupakan kewajiban bangsa Indonesia (pemakai bahasa Indonesia) untuk mematuhinya.   
Pertama, pembakuan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Kedua pedoman baku/standar ini diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Soeharto pada 16 Agustus 1972 pada waktu menyampaikan pidato kenegaraan menjelang 17 Agustus 1972. Kedua pedoman ini terus dievaluasi dan disempurnakan sesuai dengan tuntutan perkembangan bahasa Indonesia. Penyempurnaan mutakhir untuk pedoman ejaan berdasarkan Peraturan Mendiknas Nomor 46 Tahun 2009 tanggal 31 Juli 2009, sedangkan penyempurnaan mutakhir untuk pedoman pembentukan istilah berdasarkan Keputusan Mendiknas Nomor 146/U/2004 tanggal  12 November 2004.
Kedua, pembakuan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI). Kedua perangkat kebahasaan ini disahkan penggunaannya pada waktu Kongres Bahasa Indonesia V di  Jakarta pada 28 Oktober – 3 November 1988. Pada waktu diluncurkan, KBBI memuat 62.000 entri/lema kosakata bahasa Indonesia. Setelah 20 tahun kemudian (2008), KBBI (Edisi IV, 2008) telah memuat 90.000 entri/lema. Itu artinya, dalam kurun waktu 20 tahun ada tambahan 28.000 kosakata baru. Setiap tahun tambahan kosakata baru rata-rata 1.400 kata. Di bidang tata bahasa, TBBI menjadi  sumber acuan untuk pembelajaran dan penulisan buku tata bahasa yang lebih populer untuk kepentingan dunia pendidikan. ***
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 27 Oktober 2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar