Kamis, 15 Oktober 2015

Polisi Buang Sine dan Cerita Ilmu Hitam



Polisi Buang Sine dan Cerita Ilmu Hitam

Oleh: Yohanes Sehandi
Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende

            Apanya yang menarik dan istimewa dari polisi Buang Sine sehingga perlu diangkat dalam sebuah artikel opini seperti ini? Ada dua hal menarik dan istimewa yang perlu diwartakan kepada masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tentang polisi yang kini masih aktif berdinas di Kepolisian Daerah (Polda) NTT.
Pertama, Buang Sine bukanlah polisi yang biasa-biasa saja sebagaimana halnya dengan polisi-polisi yang lainnya di Provinsi NTT. Meskipun penampilan sehariannya sederhana dan sering makan sirih pinang sebagaimana orang Timor pada umumnya, beliau adalah polisi yang mengukir prestasi. Berdasarkan berita-berita media massa cetak di NTT yang kita ikuti, Buang Sine yang bernama lengkap Simon Junior Buang Sine,  telah mengukir prestasi besar dalam membongkar kasus-kasus besar di daerah ini dalam tugasnya sebagai polisi.
Sejumlah prestasi yang diukir Buang Sine itu, antara lain (1) Membongkar kasus pembunuhan Maria Tuto Lewar di Larantuka, Kabupaten Flotim tahun 1990, (2) Membongkar kasus pembunuhan Yohakim Atamaran di Larantuka, Kabupaten Flotim tahun 2007, (3) Membongkar kasus pembunuhan Paulus Usnaat di Kefamenanu, Kabupaten TTU tahun 2008, (4) Membongkar kasus pembunuhan Romo Faustinus Segar  di Bajawa, Kabupaten Ngada tahun 2009, (5) Membongkar kasus pembunuhan Yohakim Langoday di Kabupaten Lembata tahun 2009, dan (6) Membongkar kasus pembunuhan Deviyanto Nurdin bin Yusuf di Maumere, Kabupaten Sikka tahun 2010.
            Kedua, Buang Sine adalah seorang sastrawan NTT. Prestasi yang kedua ini belum banyak diketahui orang. Pada akhir-akhir ini baru orang NTT mulai mengenal polisi yang lahir pada 30 Juni 1967 di Kupang ini sebagai sastrawan NTT.
Sebagai pengamat sastra NTT saya mulai tertarik pada Buang Sine pada waktu membaca sejumlah puisi dan cerpennya dimuat harian Pos Kupang beberapa tahun lalu. Akhirnya saya mengakui bahwa polisi yang drop out Fakultas Hukum Unkris Kupang ini adalah orang NTT yang berbakat dalam bidang seni sastra setelah saya membaca dua novelnya, yakni Dua Malam Bersama Sucifer (2012) dan Petualangan Bersama Malaikat Jibrail (2013). Saya dengar informasi bahwa sudah terbit novelnya yang ketiga berjudul Polisi Sampah (2015) yang katanya lebih heboh lagi.
Berdasarkan kualitas karya-karyanya, pada tahun 2015 ini saya memasukkan nama Buang Sine ke dalam jajaran sastrawan NTT dalam buku terbaru saya yang berjudul Sastra Indonesia Warna Daerah NTT (2015) diulas khusus pada halaman 54-55, dengan menyebutnya sebagai sastrawan NTT yang muncul fenomenal dengan tema dan gaya penulisan yang khas dan unik. Novel-novelnya mendapat sambutan yang luar biasa dari para pembaca, saya dengar sampai kini sudah terjual puluhan ribu eksemplar.
Fenomena Buang Sine tidak berhenti pada dua novelnya yang ceritanya diinspirasi oleh Kitab Suci. Terakhir Buang Sine muncul dengan dua cerita pendek (cerpen) yang temanya diinspirasi oleh cerita ilmu hitam dan kekuatan gaib. Kedua cerpen itu berjudul “Panta Merah” dan “Tumbal,” dimuat dalam buku Cerita dari Selat Gonsalu (Antologi Cerpen Sastrawan NTT) halaman 29-45 diterbitkan Kantor Bahasa Provinsi NTT (2015), diluncurkan dalam rangkaian Festival Sastra dan Temu 2 Sastrawan NTT yang berlangsung di Universitas Flores, Ende pada 5-10 Oktober 2015.
Tema ilmu hitam ini diangkat Buang Sine dengan gaya penulisan yang khas dan unik. Tema ilmu hitam dan kekuatan gaib lainnya memang selalu menarik perhatian, tidak hanya dalam karya sastra, juga dalam kehidupan sehari-hari. Cerita seperti ini hidup dalam masyarakat kita, terutama masyarakat tradisional yang masih percaya pada hal-hal yang irasional, yang tidak masuk akal, tetapi sering diyakini sebagai sesuatu yang benar ada dan terjadi. Di berbagai wilayah di NTT cerita tentang santet, suanggi, dukun, rasung, mbeko, dan kekuatan gaib lainya masih menjadi cerita menarik yang merinding bulu kuduk, digosipkan dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
           Dalam cerpennya yang berjudul “Panta Merah” (panta merah adalah sebutan orang Larantuka, Flores Timur, untuk ilmu hitam atau santet), diceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama Morito sudah dua hari sakit keras. Bapa mamanya sangat khawatir akan keselamatan anak tunggal mereka, apalagi beredar desas-desus bahwa panta merah sedang menyerang warga kampung. Seorang anak lainnya bernama Leksi Nimorte, diisukan meninggal dunia karena dimakan panta merah. Sang Bapa Markus Lemoto memanggil dukun Kemurota untuk menghabisi si pengirim santet.
Suatu malam, dukun Kemurota bersama Lemoto datang menyerang gubuk Mama Yakomina, seorang dukun santet yang tinggal di lembah sebelah kampung. Tengah malam terjadi pertarungan menegangkan antara dukun santet dan Bapa Kemurota. Bola api sebesar biji bola kaki melesat dari bumbungan gubuk nenek tua ke angkasa, berputar-putar, bagaikan kilat melesat turun menyergap Bapa Kemurota dan Lemoto yang mengendap di semak-semak samping gubuk. Saat terjadi pertarungan sengit melawan bola api, Lemoto masuk gubuk membalikkan badan nenek Yakomina yang tidur telentang seperti orang mati, ke posisi tengkurap.
Mari kita nikmati pelukisan Buang Sine atas peristiwa menegangkan itu dalam beberapa paragraf berikut.
“Tiba-tiba bola api itu meledak di udara. Markus dan Bapa Kemurota tiarap di tanah. Akhhh!!! Khhhh!!! Akhhh!!! Terdengar suara jeritan keras dari dalam bola api itu memecah langit. Suara perempuan tua.
Orang-orang kampung terbangun berlarian mendekati asal suara. Bola api dan teriakan wanita tua meluncur masuk ke dalam gubuk Mama Yakomina. Tiba-tiba terdengar ledakan besar. Bum! Asap putih membumbung dari dalam gubuk. Orang-orang kampung tertegun menyaksikan kejadian dahsyat itu.
Mereka beramai-ramai masuk ke dalam gubuk Mama Yakomina untuk melihat apa yang terjadi. Di dalam gubuk mereka mencium bau daging terbakar. Tubuh Mama Yakomina hangus terbakar menghitam arang. Ia mati terpanggang ilmunya sendiri.” *
(Telah dimuat harian Pos Kupang (Kupang) pada Kamis, 8 Oktober 2015).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar