Minggu, 12 April 2015

Sastra Indonesia Warna Daerah NTT


Sastra Indonesia Warna Daerah NTT

  YOHANES SEHANDI
           
Istilah sastra Indonesia warna daerah atau warna lokal digunakan sebagian besar pengamat dan kritikus sastra untuk menyebut karya-karya sastra Indonesia yang bercorak kedaerahan atau berciri khas kedaerahan di Indonesia. Jakob Sumardjo (1982: 49-52) menyatakan, semua karya sastra di Indonesia yang mengandung warna daerah atau warna lokal adalah karya sastra Indonesia dan para pengarang karya sastra itu adalah sastrawan Indonesia.
Dalam buku Pengantar Novel Indonesia (1983) Jakob Sumardjo membahas dalam bab khusus (Bab Empat, halaman 197-225) novel-novel Indonesia warna daerah yang terbit tahun 1970-1980. Sejumlah novelis Indonesia warna daerah, disebutkan Sumardjo, seperti Aspar dan Sinansari Ecip dari Sulawesi Selatan, Charirul Harun dan Darman Moenir dari Sumatera Barat, Korrie Layun Rampan dari Kalimantan Timur, Umar Kayam dari Jawa Timur, dan  Gerson Poyk dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
            Mursal Esten menyebut sastra Indonesia warna daerah ini sebagai “sastra Indonesia jalur kedua.” Dalam bukunya Sastra Jalur Kedua, Sebuah Pengantar (1988: 11-23), Esten membagi dua jenis sastra yang hidup di Indonesia, yakni sastra Indonesia jalur pertama dan sastra Indonesia jalur kedua. Sastra Indonesia jalur pertama yang dikenal umum sekarang sebagai sastra nasional Indonesia, yang menguasai sastra nasional Indonesia, bahkan cenderung  sebagai sastra warna kota.
Sedangkan sastra Indonesia jalur kedua adalah sastra yang dipengaruhi oleh budaya-budaya daerah (etnis atau suku) yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Nilai dan sistem budaya yang hidup dan dianut oleh suatu kelompok masyarakat tertentu itulah yang disebut budaya daerah. Uniknya, nilai dan sistem budaya daerah tidak pernah putus di dalam dirinya, meskipun ia telah berada di dalam masyarakat yang baru yang disebut masyarakat Indonesia (Esten, 1988: 11-12).
            Sementara itu, pengamat sastra Budi Darma (2007), menyebut sastra Indonesia warna daerah sebagai “sastra sub-kebudayaan.” Dalam artikelnya “Sastra Mutakhir Kita” dalam Bahasa, Sastra, dan Budi Darma (Editor Djoko Pitono, 2007: 223), Budi Darma menjelaskan, pada dasarnya sastra sub-kebudayaan muncul sebagai perwujudan dari kerinduan pengarang untuk lepas dari aspirasi global mondial. Di satu pihak, kita menjadi manusia nasional dan internasional, namun di lain pihak kita menuntut untuk kembali ke masa kanak-kanak sastrawan  sendiri, ke kebudayaan kita sendiri.
            Budi Darma membedakan antara sastra sub-kebudayaan dalam sastra Indonesia dengan sastra daerah. Sastra daerah pengarangnya menggunakan bahasa daerah dalam pengungkapannya, sedangkan sastra Indonesia sub-kebudayaan menggunakan bahasa Indonesia. Menurut Budi Darma (Pitono, 2007: 224), sastra sub-kebudayaan dalam sastra Indoesia mirip dengan sastra regional di Amerika, hanya sastra sub-kebudayaan Indonesia membawa muatan kebudayaan lokal yang lebih berat dibandingkan dengan sastra regional di Amerika. Nanti di Indonesia, menurut Budi Darma, akan ada sastrawan nasional Indonesia saja, ada pula sastrawan nasional Indonesia yang regional.                                                                     
     ***
Setelah penjelasan dan gambaran tentang sastra Indonesia warna daerah di atas, maka kita dapat memberikan gambaran tentang sastra Indonesia warna daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sastra Indonesia warna daerah NTT adalah sastra Indonesia yang mengandung kultur lokal dan karakter kedaerahan khas NTT dan ditulis dalam bahasa Indonesia,  
Kultur lokal dan karakter kedaerahan khas NTT itu, antara lain tercermin pada tema, aspirasi, amanat, latar, ketokohan, dan karakter kedaerahan NTT lainnya yang terdapat dalam karya sastra. Sastra Indonesia warna daerah NTT tentu berbeda dengan sastra Indonesia warna daerah lain, seperti sastra Indonesia Yogyakarta, sastra Indonesia Bali, sastra Indonesia Aceh, sastra Indonesia Riau, sastra Indonesia Sumatera Barat, dan sastra Indonesia Kalimantan, dan lain-lain.
Sastra Indonesia warna daerah NTT (disebut juga sebagai sastra NTT) bertumbuh dan berkembang setelah Provinsi NTT terbentuk pada 1958 sebagai hasil pemekaran Provinsi Sunda Kecil, yang kemudian menjadi Provinsi Bali, Provinsi NTB, dan Provinsi NTT. Dengan terbentuknya Provinsi NTT ini maka adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan, dan kultur dari puluhan etnis yang ada di wilayah Provinsi NTT ini secara perlahan-lahan dipertemukan karena keharusan interaksi dan interelasi pemerintahan dan masyarakat dalam Provinsi NTT.
Puluhan etnis yang mendiami tiga wilayah pulau besar di Provinsi NTT yang dikenal dengan nama Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor) semakin lama semakin mendekat, mencair, dan saling mempengaruhi, yang lama-kelamaan membentuk karakternya yang  khas sebagai karakter masyarakat dan kultur (budaya) masyarakat NTT. Sejumlah faktor yang memudahkan bersatunya budaya etnik di NTT, antara lain karena kesamaan karakter masyarakat kepulauan, geografi dan topografi sama yang kering/tandus, kesamaan adat-istiadat, upacara kematian, perkawinan, dan terakhir mayoritas masyarakatnya beragama Kristen (Protestan dan Katolik).
Dalam bidang kebudayaan, di samping bertumbuh dan berkembangnya sastra Indonesia warna daerah NTT (sastra NTT), yakni karya sastra yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai media ekspresinya, bertumbuh dan berkembang pula “sastra-sastra daerah di NTT,” yakni karya sastra yang menggunakan bahasa daerah (bahasa etnik) di NTT. Sastra NTT ini mengandung unsur lokal kedaerahan NTT, seperti tema, aspirasi, amanat, latar, ketokohan, dan karakter kedaerahan NTT lainnya yang khas.
Karya-karya sastra Indonesia warna daerah NTT dihasilkan oleh pengarang-pengarang NTT, baik yang tinggal di NTT maupun di luar NTT. Pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT ini tidak jauh berbeda dengan sastra Indonesia di daerah lain di Indonesia. Yang berbeda mungkin segi publikasi sastra NTT yang sangat minim karena hanya mengandalkan sejumlah media cetak yang terbit di Provinsi NTT, itupun baru bertumbuh di NTT sejak tahun 2000-an. Penerbit Nusa Indah di Ende, Flores yang pada tahun 1970-1990 yang cukup gencar menerbitkan buku-buku sastra, sejak tahun 2000 sampai sekarang pengaruhnya mulai meredup.
Dalam penelusuran saya terhadap sejarah sastra NTT, ditemukan sastra NTT lahir pada tahun 1961, tiga tahun setelah Provinsi NTT terbentuk tahun 1958. Sastra NTT lahir terhitung sejak orang NTT yang pertama kali menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan untuk masyarakat umum. Lewat penelusuran atas  berbagai data dan informasi yang ada, saya temukan orang NTT pertama yang menulis dan mempublikasikan karya sastra untuk masyarakat umum adalah Gerson Poyk.
Data otentik karya sastra Gerson Poyk yang saya temukan sebagai karya sastra awal beliau adalah cerita pendek, berjudul “Mutiara di Tengah Sawah” dimuat dalam majalah Sastra (edisi Tahun I, Nomor 6, Oktober 1961) dan mendapat hadiah dari majalah Sastra sebagai cerpen terbaik pada tahun 1961 itu. Majalah Sastra adalah majalah bulanan yang khusus menerbitkan karya-karya sastra, terbit pertama kali tahun 1961, dipimpin H.B. Jassin dan M. Balfas. 
            Setelah Gerson Poyk merintisnya tahun 1961, muncul kemudian nama-nama sastrawan NTT lain, seperti Julius Sijaranamual, Dami N. Toda, A.G. Hadzarmawit Netti, Umbu Landu Paranggi, John Dami Mukese, Usman D. Ganggang, Maria Matildis Banda, dan sejumlah nama baru lain. Hasil penelusuran saya terhadap perkembangan sastra dan sastrawan NTT telah terhimpun dalam buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT yang diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2012. Saya bersyukur, pada tahun 2014, buku ini menjadi salah satu pemenang hadiah buku insentif bagi dosen perguruan tinggi yang diberikan Ditjen Dikti Kemendikbud RI melalui SK Nomor 1982/E5.4/HP/2014, tertanggal 23 Juni 2014.
                                               
***
Dalam penelusuran saya, sejak tahun 1961 sampai tahun 2010 pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT biasa-biasa saja, nama-nama sastrawan yang disebut adalah nama-nama lama. Saya mencatat, awal kebangkitan sastra dan sastrawan NTT terhitung sejak tahun 2011.
Ada sejumlah indikator yang menunjukkan tahun 2011 sebagai tahun kebangkitan sastra dan sastrawan NTT. Pertama, jumlah penerbitan buku sastra NTT tahun 2011 jauh melampaui jumlah buku sastra tahun-tahun sebelumnya, bahkan setelah tahun 1961. Kedua, jumlah artikel opini sastra (esai dan kritik sastra) di media cetak NTT tahun 2011 jauh melampaui jumlah artikel opini sastra tahun-tahun sebelumnya. Ketiga, jumlah cerpen dan puisi yang dimuat dalam sejumlah media cetak (harian) yang terbit di NTT terutama edisi hari Minggu jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Adapun sejumlah media cetak di NTT yang berjasa membangkitkan sastra NTT sejak tahun 2000 dan menguat pada tahun 2011 adalah Pos Kupang (Kelompok Kompas-Gramedia), Timor Express (Grup Jawa Pos), Victory News (Media Grup), dan Flores Pos (milik SVD) terbit di Ende, Flores.
Kebangkitan sastra NTT terus berlanjut pada tahun 2012 dan 2013 dengan tiga indikator di atas. Pada tahun 2013 jatidiri sastra NTT dan sastrawan NTT terbentuk dan terkonsolidasi. Terkonsolidasinya sastra dan sastrawan NTT ini berkat terobosan besar Kantor Bahasa Provinsi NTT (instansi vertikal Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI) pimpinan M. Luthfi Baihaqi.
Pada 30-31 Oktober 2013 Kantor Bahasa NTT menyelenggarakan hajatan besar yang bermartabat dengan nama Temu 1 Sastrawan NTT. Lebih dari 40 sastrawan NTT mengikuti pertemuan ini. Inilah pertama kalinya sebagian sastrawan NTT bertemu, berdiskusi, membagi pengalaman, saling meneguhkan, dan menyatukan tekad bersama membangun sastra NTT ke depan yang lebih baik. Empat judul buku antologi sastra karya para sastrawan NTT peserta pertemuan diluncurkan. Ada kesepakatan dan rekomendasi yang dihasilkan, termasuk kesepakatan untuk menyelenggarakan temu sastrawan NTT secara berkala sekali dalam dua tahun, dan tahun 2015 berlangsung di Kota Ende untuk Temu 2 Sastrawan NTT, dengan penyelenggara Kantor Bahasa NTT bersama Universitas Flores.
Kehidupan sastra NTT yang terus semarak dapat juga terlihat dalam kegiatan sejumlah komunitas sastra di NTT. Dapat disebutkan, di antaranya komunitas sastra Dusun Flobamora, Rumah Poetika, komunitas Filokalia Santu Mikhael, Laskar Sastra, Uma Kreatif Inspirasi Mezra, Amsal Putih, Teater Engkel Universitas PGRI, komunitas Sandal Jepit di Ledalero, komunitas Timur Matahari di Adonara, Komunitas Sare dan Komunitas Puisi Jelata, keduanya di Ende. Komunitas intelektual, seperti Forum Academia NTT (FAN) dan Komunitas Blogger Flobamora juga memberikan kontribusi besar dalam memajukan sastra NTT. Dalam beberapa tahun terakhir ini sastra NTT memasuki berbagai kampus PT di NTT.
Dalam buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012) saya membuat semacam periodisasi sederhana sejarah sastra NTT. Saya membuatnya berdasarkan usia para sastrawan yang dapat  dilihat dari tanggal dan tahun kelahiran sastrawan tersebut. Dalam menyusun periodisasi sastra NTT, saya berpangkal tolak pada tanggal dan tahun kelahiran sastrawan Gerson Poyk, sang perintis sastra NTT, yakni tahun 1931. Gerson Poyk lahir pada 16 Juni 1931. Memilih tahun 1931 sebagai pangkal tolak periodisasi sejarah sastra NTT sebagai bentuk rasa hormat dan penghargaan kepada Gerson Poyk yang berjasa mengangkat citra NTT dalam panggung sastra Indonesia.
Dalam melakukan pengelompokan terhadap para sastrawan, tinggal diurutkan nama-nama sastrawan NTT itu berdasarkan usia atau umur sastrawan. Dimulai dari yang berusia tua sekali (sangat senior), yang sudah tua (senior), sampai dengan yang masih muda (yunior). Dalam pengelompokan sastrawan atau periodisasi sastra secara sederhana ini, saya memilih istilah “lapis,” sehingga menjadi Sastrawan NTT Lapis Pertama (lahir tahun 1931-1950), Sastrawan NTT Lapis Kedua (lahir tahun 1951-1970), Sastrawan NTT Lapis Ketiga (lahir tahun 1971-1990), Sastrawan NTT Lapis Keempat (lahir tahun 1991-2010), dan seterusnya.
Dalam usia sastra NTT yang ke-53 tahun pada akhir tahun 2014, sastrawan-sastrawan NTT telah mempersembahkan 122 judul buku sastra untuk masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Adapun perinciannya, 51 judul buku novel, 34 judul buku kumpulan cerpen, dan 37 judul buku kumpulan puisi. Sastrawan NTT yang paling poduktif dan berkarya sastra selama 53 tahun sampai dengan akhir 2014 adalah Gerson Poyk. Yang sedikit mengikuti jejak produktivitas Gerson Poyk adalah Maria Matildis Banda, John Dami Mukese, dan Mezra E. Pellondou.
 Dilihat dari segi kreativitas dan produktivitas sebagai produk budaya intelektual masyarakat NTT yang beragam dan multikultural dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta orang pada akhir tahun 2014, dalam rentang jangka waktu selama 53 tahun, angka 122 judul buku sastra yang dihasilkan para sastrawan NTT ini, belum berarti apa-apa.  Apalagi, sebagian buku sastra NTT ini pada saat ini sulit ditemukan di pasaran buku, karena tidak dicetak ulang oleh penerbit maupun pengarangnya. *

Daftar Pustaka
Esten, Mursal. 1988. Sastra Jalur Kedua, Sebuah Pengantar. Padang: Angkasa Raya.
Pitono, Djoko (Editor).  2007. Bahasa, Sastra, dan Budi Darma. Surabaya: JP Books.
Sehandi, Yohanes. 2012. Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Yogyakarta: Universitas Sanata      Dharma.
Sumardjo, Jakob. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Cetakan ke-2. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Sumardjo, Jakob. 1983. Pengantar Novel Indonesia. Jakarta: Karya Unipress.

(Telah dimuat Majalah Sastra Horison, edisi April 2015).
Yohanes Sehandi
Lahir pada 12 Juli 1960 di Dalong, Labuan Bajo, Manggarai, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dosen tetap di Universitas Flores (Uniflor) Ende. Menulis buku, antara lain (1) Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2012); (2) Mengenal 25 Teori Sastra (Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2014); dan (3) Bahasa Indonesia dalam Penulisan di Perguruan Tinggi (Penerbit Widya Sari, Salatiga, 2013, cet. ke-2, 2014).  Mengelola weblog: www.yohanessehandi.blogspot.com. Email: yohanessehandi@gmail.com.  Hp: 081339004021. Alamat: UPT Publikasi dan Humas Uniflor, Jln. Sam Ratulangi, Ende, Flores.

(Telah dimuat Majalah Sastra Horison, edisi April 2015).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar