Senin, 16 Februari 2015

Dicari, Seniman Drama dan Film


Dicari, Seniman Drama dan Film

Oleh Yohanes Sehandi
      Pengamat Sastra NTT dari Universitas Flores, Ende
           
            Dari tiga genre karya sastra yang meliputi puisi, prosa, dan drama, karya sastra dramalah yang hidupnya di Provinsi NTT ini bagaikan kerakap tumbuh di batu karang, hidup enggan mati tak mau.
Berita tentang kegiatan “seni drama” di NTT, baik yang disebut drama pentas atau teater maupun yang disebut sinetron atau film (semuanya masuk dalam rumpun karya sastra drama), terdengar sayup-sayup saja sebelum hilang dihembus angin. Berbeda dengan puisi dan prosa (cerita pendek dan novel), sejak tahun 2011 kehidupannya semarak dan bergairah, media massa pun sering memberitakannya.
          Keadaan ini tentu sangat disayangkan. Karya sastra drama dengan berbagai jenisnya berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi industri kreatif yang tidak hanya menampilkan kualitas literer sebuah karya seni, juga menghasilkan keuntungan secara ekonomis bila dikelola secara profesional. Drama pentas (pertunjukan) termasuk dalam 14 kelompok industri kreatif secara nasional yang berpotensi berkembang pesat.  
Seniman drama (teater) dan film (sinetron) di Provinsi NTT ini sangat sedikit, bisa dihitung dengan jari. Yang cukup tangguh sampai sekarang adalah Petrus Kembo. Beliau merintis karier dari bawah, jatuh-bangun dengan bermodalkan ijazah SMA. Dalam catatan saya, Petrus Kembo adalah satu-satunya sastrawan NTT yang bergerak konsisten di bidang sastra drama dalam 30 tahun terakhir ini. Beliau sebagai penulis naskah (lakon), sebagai sutradara, sesekali sebagai pemeran.
Tentu banyak orang NTT yang belum mengenal Petrus Kembo yang berjasa mengangkat kultur lokal NTT ke dalam karya-karya sastra dramanya. Beliau lahir pada 15 Mei 1965 di Kupang. Menyelesaikan pendidikan di SDK Santo Yoseph Naikoten Kupang (1972-1978), SMPK Santo Yosep Naikoten (1979-1981), dan SMA Teladan Kupang (1982-1984).
Sering melakukan pentas teaterikal yang ditayangkan TVRI Kupang dan Televisi Madika Kupang (2004-2008). Keluar sebagai juara favorit penulisan skenario film dalam lomba film kompetitif tahun 2005 yang berjudul Gadis Pemetik Sasando yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI.
Telah menulis banyak naskah (skenario) film, antara lain (1) Maria dan Maurits,  (2) Cendana, (3) Cinta yang  Kandas, (4) Sebening Hati yang Fitri, dan (5) Suara Malam Natal. Bertindak sebagai pangatur akting dalam bermain film, antara lain dalam film (1) Mutiara Kampung Merah Putih, (2) Cendana, dan (3) Maria dan Maurits pada TVRI Kupang (2010-2013).
Menulis skenario sekaligus sutradara pada sejumlah film lokal NTT, yakni (1) film tentang tenggelamnya Kapal Motor Feri di perairan Rote berjudul Tragedi Pukuafu (produksi Almerai PH  Kupang, 2006), (2) film sinetron lokal Kota Kupang berjudul Hati yang Terluka (produksi Teater Pluss Kupang, 2008-2009), dan (3) film ceritera layar lebar berjudul Ofa Langga yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (2014).
Juara produksi film pendek dan dokumenter berjudul Kosu Wena Keri (produksi Teater Pluss Kupang) diselenggarakan Kemendikbud RI (2014) dalam program fasilitasi produksi film pendek dan dokumenter terpilih. Menjadi sutradara dan penulis skenario untuk film berjudul Ine Pare, cerita rakyat Ende-Lio tentang asal-usul padi (produksi Teater Pluss Kupang bersama Pemprov NTT, 2014). 
            Pendiri dan Ketua Sanggar Cendana Kupang (1985-2000), Pembina dan Pelatih Teater Kecil Kota Kupang (2000-2004), Pendiri dan Pelatih Drama-Puisi-Tari-Pentas Teaterikal pada Kelompok Teater Pluss Kupang (2004-sekarang).
            Selain Petrus Kembo, nama lain yang perlu disebutkan karena keterlibatan dalam seni drama pentas di NTT adalah Marianus M. Tapung dan Rm. Beben Gaguk, Pr. Saat ini keduanya tinggal di Manggarai. Telah menghasilkan karya sastra drama, mulai dari menulis naskah (lakon) sampai dengan memimpin pementasan (sutradara). Keduanya telah menerbitkan buku kumpulan naskah drama berjudul Pastoral Panggung, Bunga Rampai Drama Teater (Penerbit Parrhesia Institut, Jakarta, 2012).
Dalam buku yang diberi Prolog oleh Mgr. Dr. Hubert Leteng, Pr (Uskup Ruteng) dan Epilog oleh Rm. Max Regus, Pr, MA, berisi 8 judul lakon karya Marianus M. Tapung dan 6 lakon karya Rm. Beben Gaguk, Pr. Ke-8 karya Marianus M. Tapung adalah (1) Panah Dewa, (2) Duri-Duri Pulau Bunga, (3) Pengadilan di Awan, (4) Kalau Perempuan Angkat Bicara, (5) Perang dan Damai, (6) Pembebasan, (7) Saksi Mata, dan (8) We Have a Dream. Sedangkan ke-6 karya Rm. Beben Gaguk, Pr. Adalah (1) Kubur Kosong, (2) Derita Tiada Akhir, (3) Cinta yang Mengabdi, (4) Cinta Punya Buat, Sayang Punya Mau, (5) Hitam Putih, dan (6) Setia.
            Sastrawan NTT lain yang turut memberi kontribusi dalam pengembangan seni drama dan film di NTT adalah Geson Poyk, Mezra E. Pellondou, dan Yoss Gerard Lema. Gerson Poyk minimal telah menulis dua naskah drama pentas, yakni Ratu Balonita (dipentaskan di Kupang oleh Komunitas Rumah Poetika, 2012) dan Monologia Flobamora (dipentaskan di Unkris Artha Wacana pada waktu Gerson Poyk menerima hadiah sastra dari Forum Akademia NTT, 2013).          
Mezra E. Pellondou telah menulis naskah drama berjudul Sabana dalam Drama (2010) dan Sasando ke Seratus. Juga menulis tiga naskah film sekaligus menjadi sutradaranya, berjudul Manusia Cuma Debu, Laposin, dan Mimpi Natan. Ketiga film ini dimainkan Teater Akar, Teater Amsal Putih, dan Teater Engkel, semuanya di Kupang.
Sedangkan Yoss Gerard Lema telah menulis naskah sinetron sepuluh episode  berjudul Cendana dan naskah drama pentas berjudul Zico & Nina yang digubah dari novelnya sendiri  Zico & Nina (2008). (Telah dimuat harian Pos Kupang (Kupang) pada Senin, 16 Februai 2015).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar