Selasa, 27 September 2016

Wanita Muda dan Ular Itu



Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Universitas Flores, Ende


Di Kebun Binatang

Seorang wanita muda berdiri terpikat
memandang ular yang melilit sebatang pohon
sambil menjulur-julurkan lidahnya, katanya
kepada suaminya: “Alangkah indahnya kulit
ular itu untuk tas dan sepatu.”
Lelaki muda itu seperti teringat sesuatu,
cepat-cepat menarik lengan istrinya,
meninggalkan tempat terkutuk itu.
(Sapardi Djoko Damono, Akwarium, 1974)

Marilah kita menikmati puisi “Di Kebun Binatang” karya penyair Sapardi Djoko Damono di atas yang dikutip dari buku kumpulan puisi Akwarium (1974). Puisi ini pendek, hanya satu bait, 8 baris, 43 kata. Secara sepintas, puisi ini sangat sederhana, baik bentuk maupun kandungan isinya.

Disajikan penyair dalam bentuk cerita. Cerita biasa yang sering kita saksikan dalam kehidupan nyata. Sepasang suami-istri bertamasya di kebun binatang. Si istri (wanita muda) terpikat pada seekor ular. Begitu terpukaunya, hasrat duniawinya muncul. Dia bayangkan, seandainya kulit ular itu dijadikan tas dan sepatu. Pada waktu disampaikan kepada suaminya (lelaki muda), suaminya seperti teringat sesuatu, cepat-cepat ditariknya lengan istrinya, meninggalkan tempat terkutuk itu.

Makna dan nilai puisi ini terletak pada kata-kata yang membentuknya. Sapardi termasuk salah seorang penyair Indonesia, di samping Goenawan Mohammad dan Rendra (sekadar menyebut beberapa nama) yang membangun makna dan nilai puisi-puisinya dengan mengandalkan kekuatan kata atau “tergantung pada kata” meminjam istilah A. Teeuw dalam bukunya Tergantung pada Kata (1980). Kredo “tergantung pada kata” ini berbeda dengan kredo penyair yang lain, misalnya Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah (sekadar menyebut dua nama), yang mengandalkan kekuatan “bunyi bahasa dan suasana” dalam membangun  makna dan nilai puisi yang diciptakannya.  

Mari kita cermati baris-baris puisi di atas. Baris pertama sampai baris kelima, puisi itu belum berbicara apa-apa kepada kita. Lima baris itu hanyalah bercerita tentang peristiwa biasa, tentang seorang wanita muda di kebun binatang yang terpikat pada seekor ular. Peristiwa inilah yang disebut sebagai realitas faktual, realitas yang terjadi dalam kenyataan.

Tiga baris terakhir, yakni baris keenam, ketujuh, dan kedelapan, barulah puisi ini berbicara banyak kepada kita. Dalam tiga baris itu kita diajak penyair untuk memasuki dunia baru. Dunia baru atau realitas baru inilah yang dalam ilmu sastra disebut sebagai “realitas imajiner” (realitas imajinasi). Tatkala realitas imajiner dikaitkan dengan realitas faktual maka karya sastra itu akan menampakkan nilai, menunjukkan makna, membawa pesan atau amanat yang harus direnungkan dalam hidup dan kehidupan ini. Di sinilah letak kekuatan sebuah karya sastra, yang berbeda dengan karya lain yang bukan sastra.

Mari kita membaca tiga baris terakhir itu: /Lelaki muda itu seperti teringat sesuatu/ cepat-cepat menarik lengan istrinya/ meninggalkan tempat terkutuk itu/. Yang perlu diberi perhatian  khusus adalah makna kata-kata “teringat sesuatu” dan “tempat terkutuk itu.” Kata-kata “teringat sesuatu” menunjukkan sesuatu yang samar-samar, yang jauh namun penting. Sedangkan kata-kata “tempat terkutuk itu” menunjukkan arti bahwa “kebun binatang” yang ada ularnya itu adalah tempat terkutuk yang harus dihindari, harus ditinggalkan. Tiga baris terakhir inilah yang membangun realitas imajiner puisi tersebut.

Apakah pernah terlintas dalam pikiran dan perasaan Anda bahwa lewat puisi ini penyair Sapardi mau membawa kita untuk merenungkan kembali sejarah awal umat manusia yang terjadi pada 2000-an tahun yang lampau? Masihkah Anda ingat sejarah awal manusia yang bermula pada sebuah kebun yang penuh dengan kemewahan dan kenikmatan? Masihkah Anda ingat bahwa penghuninya diusir keluar dari kebun itu karena terjebak godaan seekor ular? 

Konon diceritakan, dalam kebun yang bernama Firdaus atau taman Eden itu hidup sepasang suami-istri, Adam dan Hawa. Mereka leluasa menikmati kemewahan dalam kebun itu, kecuali satu hal, yakni tidak boleh makan buah terlarang. “Kalau melanggar, kamu keluar dari kebun ini,” kata pemilik dan penguasa kebun itu yang bernama Yahwe.

Godaan maut itu datang. Seekor ular muncul di kebun itu. Sambil menjulur-julurkan lidahnya, ular menggoda si wanita muda, Hawa. Hawa termakan godaan, dia makan buah terlarang. Malapetaka itu pun terjadi. Hawa diusir keluar dari kebun Firdaus. Adam pun terpaksa ikut terusir. Sejarah tragis manusia awal melawan Yahwe terjadi pada kebun Firdaus ini.  Dosanya terus diwariskan kepada semua keturunannya. Dosa manusia awal inilah yang disebut “dosa asal” yang diyakini oleh orang-orang beragama sampai dengan saat ini.

Sejarah tragis manusia awal ini disebabkan oleh ular. Godaan dan jebakan ularlah yang membuat manusia jatuh dalam dosa. Sejak zaman Adam dan Hawa sampai dengan saat ini, ular adalah sebuah fakta, yakni sejenis binatang melata yang licik, berbisa, penuh racun yang mematikan. Sejak zaman Adam dan Hawa pula sampai dengan saat ini, ular menjadi lambang atau simbol manusia (orang) yang suka menjebak dan menjerumuskan manusia (orang) lain  jatuh ke dalam dosa, ke dalam tindakan penyalahgunaan kekuasaan, terlibat perilaku amoral, terlibat tindakan  korupsi dan kolusi, dan pelbagai tindakan kejahatan kemanusiaan lain.

Kemiskinan dan kemelaratan masyarakat kita di negeri ini dan di daerah ini, antara lain karena kelicikan manusia ular yang adalah sesama kita. Manusia-manusia ular ini merusak aturan dan ketentuan yang berlaku, merusak moral, merusak peradaban, merusak kelestarian alam dan lingkungan hidup. Korupsi yang kini menjadi kejahatan luar biasa  di negeri ini dan di daerah ini karena godaan dan kejahatan manusia ular. Ular-ular itu tidak hanya ada di kebun binatang, di lubang batu, di gua-gua, dan di hutan-hutan, tetapi bergentayangan di sekitar kita

Kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah (APBN, APBD, Dekosentrasi, dan lain-lain) dengan mengeruk keuntungan besar yang tidak wajar yang mengakibatkan mutu proyek rendah dan cepat hancur, adalah manusia ular masa kini. Ular kontraktor ini menggoda dan menjebak panitia lelang proyek pemerintah dan pejabat pembuat komitmen, melakukan penggelembungan biaya, keuntungan besar diperoleh, mutu proyek hancur.

Tim sukses Pilkada, baik tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota, yang melancarkan aksi kolusi dan nepotisme (persekongkolan) dengan Gubernur atau Bupati/Walikota terpilih dengan menggaruk uang rakyat untuk kepentingan pribadi sebagai balas jasa dalam pemenangan Pilkada, adalah manusia ular masa kini. Tim sukses Pilkada memang mutlak perlu, tetapi tujuan utamanya untuk mendukung Gubernur atau Bupati/Walikota agar sukses menjalankan tugas dalam jabatannya, bukan untuk menjerumuskan Gubernur atau Bupati/Walikota untuk makan uang rakyat, termasuk makan dana bantuan sosial (Bansos). Dana Bansos akhirnya dikorupsi di mana-mana oleh para pejabat dan politisi, dari tingkat Provinsi sampai tingkat Kabupaten/Kota di daerah ini.

Anggota keluarga dekat Gubernur dan Bupati/Walikota yang menjadi cukong dan calo proyek pemerintah untuk kepentingan pribadi, kepentingan anggota keluarga, sanak-familih, dan sahabat-kenalan, adalah manusia ular masa kini. Anggota DPR/DPRD yang mengerjakan proyek pemerintah yang seharusnya tugas mereka adalah mengontrol (mengawasi) pelaksanaan proyek-proyek itu, tidak lain adalah deretan manusia ular masa kini. *

(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada Selasa, 30 Juli 2013).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar