Kamis, 15 Oktober 2015

Sastra NTT Berusia 54 Tahun



Sastra NTT Berusia 54 Tahun

 
Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Flores, Ende, Hp 081339004021

Selama lima tahun terakhir sejak tahun 2011, saya melakukan penelitian khusus tentang sastra dan sastrawan Indonesia di Provinsi NTT, yang kini dikenal umum sebagai sastra NTT. Hasil penelitian telah dituangkan dalam dua buku yang diterbitkan oleh Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Kedua buku itu adalah Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012) dan Sastra Indonesia Warna Daerah NTT (2015). Saya bersyukur buku pertama terpilih menjadi salah satu pemenang hadiah buku insentif untuk dosen perguruan tinggi yang diberikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui SK Nomor 1982/E5.4/HP/2014 tertanggal 23 Juni 2014.
Tentu Anda bertanya, kapan sastra NTT lahir sehingga kini berusia 54 tahun? Dalam penelusuran saya, sastra NTT lahir pada tahun 1961, terhitung sejak orang NTT pertama kali menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan untuk masyarakat umum. Saya menemukan, orang NTT pertama yang menulis karya sastra adalah Gerson Poyk. Beliau lahir pada 16 Juni 1933 di Namodale, Kabupaten Rote Ndao, NTT. Gerson Poyk adalah perintis sastra NTT.
Data otentik karya Gerson Poyk sebagai karya awal sastra NTT berupa cerita pendek berjudul “Mutiara di Tengah Sawah.Cerpen ini dimuat dalam majalah Sastra (edisi Tahun I, Nomor 6, Oktober 1961) dan mendapat hadiah sebagai cerpen terbaik pada tahun 1961 itu. Majalah Sastra adalah majalah bulanan khusus menerbitkan karya-karya sastra, terbit pertama kali tahun 1961, dipimpin H.B. Jassin dan M. Balfas. Di samping sebagai perintis penulisan cerpen, Gerson Poyk juga perintis penulisan novel dengan novel pertamanya berjudul Hari-Hari Pertama (BPK Gunung Mulia, 1964).
Setelah Gerson Poyk merintis penulisan cerpen (1961) dan novel (1964), muncul kemudian perintis penulisan puisi, yakni Dami N. Toda. Dami Toda lahir pada 29 September 1942 di Cewang, Pongkor, Kabupaten Manggarai, meninggal dunia pada 10 November 2006 di Hamburg, Jerman. Beliau mempublikasikan karya puisi pertamanya pada tahun 1969. Dalam karier selanjutnya, Dami Toda lebih dikenal sebagai kritikus sastra daripada penyair.
Data otentik karya puisi Dami Toda sebagai puisi awal dalam sastra NTT berjudul “Sesando Negeri Savana” dimuat majalah Sastra (edisi  Juli, Nomor 7, Tahun 1969). Puisi Dami kedua tahun 1973 berjudul “Epitaph Buat Daisia Kecil” dimuat majalah sastra Horison (edisi Desember, Nomor 12, Tahun VIII, 1973). Dan puisi Dami Toda yang ketiga pada tahun 1977 berjudul “Pidato Kuburan Seorang Pembunuh (Tragedi Pendendam Tua di Adonara)” dimuat Majalah Dian (Nomor 1, Tahun V, 24 Oktober 1977). Pada bagian akhir puisi terakhir ini tertulis, Mei 1967, artinya puisi ini diciptakan 1967. Dari segi penciptaannya, puisi dimuat Majalah Dian (terbitan Ende, Flores) tahun 1977 ini adalah puisi pertama Dami, namun dari segi tahun publikasinya, puisi yang dimuat majalah Sastra (1969) adalah puisi pertama Dami.
Pada tahun 2015 ini, sastra NTT berusia 54 tahun terhitung sejak 1961. Berdasarkan hasil penelitian saya, sampai dengan tahun 2015 ini sebanyak 44 sastrawan NTT yang berkarya dalam bidang sastra. Dari tangan mereka lahir 135 judul buku sastra. Adapun perinciannya, 56 judul buku novel, 37 judul buku kumpulan cerpen, dan 42 judul buku kumpulan puisi. Sastrawan NTT yang paling poduktif adalah Gerson Poyk, kemudian diikuti Maria Matildis Banda, John Dami Mukese, dan Mezra E. Pellondou.
Sejumlah media cetak di NTT yang berjasa mengembangkan sastra NTT selama ini terutama sejak tahun 2010, yang terbit di Kupang adalah harian Pos Kupang, Timor Express,  Victory News, dan yang terbit di Ende harian Flores Pos (milik Serikat Sabda Allah, SVD).
Pada hari Jumat dan Sabtu (9-10 Oktober 2015) yang akan datang akan berlangsung Temu 2 Sastrawan NTT berlangsung di Kampus Uniflor Ende. Temu 2 ini merupakan rekomendasi Temu 1 Sastrawan NTT di Kupang pada 30-31 Agustus 2013 lalu. Kantor Bahasa Provinsi NTT menjadi penyelenggara pertemuan sastrawan NTT sekali dalam dua tahun secara berkala.
Untuk tahun 2015 ini, temu sastrawan disatukan dengan festival sastra, sehingga nama besar hajatan bermartabat ini adalah “Festival Sastra dan Temu 2 Sastrawan NTT.” Dilaksanakan selama satu minggu, Senin sampai Sabtu (5-10 Oktober 2015). Ada empat jenis kegiatan, yakni perlombaan sastra yang melibatkan para siswa dan mahasiswa, bengkel (pelatihan) penulisan karya sastra, temu 2 sastrawan NTT, dan safari sastra para sastrawan.
Temu 2 Sastrawan NTT berlangsung pada Jumat dan Sabtu (9-10 Oktober 2015) dibuka Gubernur NTT/Bupati Ende. Para narasumber adalah Mahsun (Kepala Badan Bahasa, Kemendikbud RI), Stephanus Djawanai, (Rektor Uniflor), Yoseph Yapi Taum (kritikus/pakar sastra dari Universitas Sanata Dharma), Cecep Samsul Hari (pakar sastra digital), Hermin Kleden (redaktur Tempo Media Grup), dan Narudin Pituin (sastrawan/penerjemah sastra).
Kegiatan ini bermanfaat, antara lain memperkenalkan sastra dan sastrawan NTT kepada masyarakat luas, menggali potensi kekayaan lokal anak NTT di bidang sastra dan budaya, dan mendorong generasi muda NTT tertarik mencintai sastra dan budaya NTT. *
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada Sabtu, 3 Oktober 2015).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar