Kamis, 16 Juli 2015

Menyelisik Sastra Indonesia Warna Daerah Nusa Tenggara Timur



MENYELISIK SASTRA INDONESIA
WARNA DAERAH NUSA TENGGARA TIMUR

Sehandi Yohanes
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores, Ende,
Blog: www.yohanessehandi.blogspot.com

Abstract
Is there a local color of Indonesian literature from East Nusa Tenggara (NTT)? What is the history of growth and development of Indonesian literature from NTT local color? Is there any literature produced by the Indonesian writers from NTT? These questions are about to be answered in this study. This research used literature review from a variety of sources. The results showed that there is really Indonesian literature from NTT local color. Indonesian literature of NTT color is literature written in Indonesian, containing local culture and distinctive regional character of NTT, which is reflected in the theme, aspirations, mandate, background, characterization, and the characters in literature. It was found that Indonesian literature of NTT color was born in 1961, three years after NTT province was formed in 1958, with the pioneer, Gerson Poyk. In the age of 54 years in 2015, the NTT writers have published 135 titles of literary works from 44 of Indonesian writers from NTT. As for the details, 56 titles of novels, 37 titles of short stories collection, and 42 titles of poems.
Keywords
Local color literature, NTT literature, NTT writers, NTT local culture.
Abstrak
Apakah ada sastra Indonesia warna daerah Nusa Tenggara Timur (NTT)? Bagamana sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia warna daerah NTT? Apa saja karya sastra yang dihasilkan para sastrawan Indonesia yang berasal dari NTT? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang hendak dijawan dalam penelitian ini. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dari berbagai buku sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa betul ada sastra Indonesia warna daerah NTT. Sastra Indonesia warna daerah NTT adalah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia, mengandung kultur lokal dan karakter kedaerahan khas NTT, yang tercermin pada tema, aspirasi, amanat, latar, ketokohan, dan karakter dalam karya sastra. Ditemukan bahwa sastra Indonesia warna daerah NTT lahir pada tahun 1961, tiga tahun setelah Provinsi NTT terbentuk tahun 1958, dengan perintisnya Gerson Poyk. Dalam usianya yang ke-54 tahun pada tahun 2015 ini, sastrawan-sastrawan NTT telah menerbitkan 135 judul buku sastra dari 44 jumlah sastrawan Indonesia yang berasal dari NTT. Adapun perinciannya, 56 judul buku novel, 37 judul buku kumpulan cerpen, dan 42 judul buku kumpulan puisi.
Kata Kunci
Sastra warna daerah, sastra NTT, sastrawan NTT, kultur lokal NTT.

PENDAHULUAN
Dalam artikel yang berjudul “Sastra Indonesia Menatap Masa Depan” (dalam buku  Pengarang Tidak Mati, Peranan dan Kiprah Pengarang Indonesia, 2012), Maman S. Mahayana mengajukan tesis menarik tentang kemungkinan perkembangan sastra Indonesia di masa depan setelah reformasi. Menurut pengamat dan kritikus sastra Indonesia modern ini, perubahan sosial politik yang terjadi begitu cepat dan derasnya arus globalisasi yang tidak dapat dibendung pada saat ini, memaksa perkembangan kesusastraan Indonesia, sangat boleh jadi, akan jatuh pada kecenderungan memasuki dua arah orientasi ke depan.
Pertama, pengaruh arus globalisasi dan lompatan kemajuan teknologi informasi akan membuka akses yang lebih luas bagi sastrawan Indonesia terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di belahan bumi yang lain. Adanya berbagai kemudahan orang membuka jaringan internet dengan aneka macam situsnya, tidak hanya dapat meluaskan cakrawala atas perkembangan pengetahuan kesusastraan dunia, tetapi juga memberi kemungkinan lain atas gaya, pengucapan, dan tema yang menjadi bahan garapan sastrawan Indonesia. Kondisi itu tentu saja ikut mempengaruhi perkembangan kesusastraan Indonesia.
Kedua, pengaruh perubahan sosial politik dalam tataran pemerintahan kita, terutama dalam proses desentralisasi dengan pemberlakuan otonomi daerah sejak tahun 2000. Selepas otonomi daerah digulirkan dan kegiatan pemerintahan tidak lagi sentralistik, kehidupan sosio-kultural di pelosok tanah air niscaya akan lebih membumi, mengakar, dan kembali pada kultur kedaerahan. Paling tidak, problem lokalitas daerah akan menjadi salah satu tema sentral karya-karya sastra periode mendatang. Kultur etnik lokal dan problem sosial yang terjadi di daerah sangat mungkin akan menjadi lahan subur bagi sastrawan-sastrawan Indonesia di daerah.
Dalam hal kecenderungan yang kedua, yakni desentralisasi sastra Indonesia ke depan, menurut Mahayana, wacana lokalitas akan menjadi penting sebagai sebuah konsep dan sangat mungkin pula akan diwujudkan ke dalam tiga skenario, yakni (1) mengeksploitasi kekayaan tradisi dan kultur lokal, (2) mengusung problem kemasyarakatan lokal, tempatan, yang khas terjadi dan menjadi milik para sastrawan dalam lingkup lokalitas daerah masing-masing, dan (3) memproklamasikan semangat lokalitas daerah menjadi sebuah gerakan yang lebih mandiri dalam arti tidak lagi bergantung pada dominasi pusat Jakarta (Mahayana, 2012: 305-306).
Kalau boleh kita sederhanakan tesis yang diajukan Maman S. Mahayana di atas bahwa  kecenderungan pertama, sastra Indonesia ke depan berorientasi global atau sastra Indonesia yang mendunia, sedangkan kecederungan kedua, sastra Indonesia ke depan berorientasi lokal/regional atau sastra Indonesia yang kembali ke kultur kedaerahan. Sastra Indonesia yang berorientasi  kultur kedaerahan inilah yang disebut sebagian pengamat sebagai “sastra Indonesia warna daerah” atau warna lokal. Kalau dirumuskan, sastra Indonesia warna daerah adalah karya sasta yang ditulis dalam bahasa Indonesia, mengandung kultur lokal dan karakter kedaerahan yang khas. Kultur lokal dan karakter kedaerahan yang khas itu tercermin pada tema, amanat, aspirasi, latar, penokohan, dan karakter khas kedaerahan lainnya.

SASTRA INDONESIA WARNA DAERAH
Istilah sastra Indonesia warna daerah atau warna lokal dalam sastra Indonesia digunakan oleh sebagian besar pengamat dan kritikus sastra Indonesia modern. Pengamat dan kritikus sastra Jakob Sumardjo (1982: 49-52) menggunakan terminologi “sastra warna daerah” untuk menyebut semua karya sastra Indonesia yang bercorak kedaerahan atau berciri kedaerahan di Indonesia. Menurut Sumardjo, semua karya sastra warna daerah atau warna lokal itu adalah karya sastra Indonesia dan para pengarangnya adalah sastrawan Indonesia.
Dalam buku Pengantar Novel Indonesia (1983) Jakob Sumardjo membahas dalam bab khusus (Bab Empat, halaman 197-225) novel-novel Indonesia warna daerah atau warna lokal yang terbit tahun 1970-1980. Sejumlah sastrawan Indonesia yang menulis novel warna daerah, disebutkan Sumardjo, di antaranya (1) Aspar kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan yang menulis novel warna daerah Sulawesi Selatan lewat novel Arus (1976) dan Pulau (1976); (2) Charirul Harun kelahiran Kayutanam, Sumatera Barat yang menulis novel Warisan (1979) yang menggambarkan warna daerah Minangkabau, dan menyadur Kaba Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia menjadi Cindua Mato dan Sutan Pangaduan; (3) Korrie Layun Rampan kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur yang menulis novel Upacara (1978) mengandung pekat warna daerah Kalimatan (suku Dayak); (4) Umar Kayam kelahiran Ngawi, Jawa Timur yang menulis novel Sri Sumarah (1975) yang menggambarkan warna daerah Jawa; (5) Gerson Poyk kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menulis novel Cubuan Sabana (1979) dan novel Sang Guru (1973) yang menggambarkan warna lokal daerah Timor, NTT dan warna daerah Ternate, Maluku Utara; dan (6) S. Sinansari Ecip kelahiran Makasar, Sulawesi Selatan yang menulis novel Pembayaran (1976) yang mengangkat warna daerah Sulawesi Selatan.
Dalam catatan Mursan Esten (1988: 20-21), semenjak tahun 1970-an, gejala munculnya budaya daerah dalam sastra Indonesia menjadi berkembang dan mewarna. Muncul sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri yang bertolak dari konvensi mantra. Sajak-sajak Ibrahim Sattah dan Hamid Jabbar dari konvensi zhikir. Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, Zawawi Imron dari konvensi sufi. Selanjutnya, sajak Husni Jamaluddin dari konvensi sastra Toraja, Rusli A. Malem dari Aceh, sajak Rusli Marzuki Saria dari kaba Minangkabau, Darman Moenir dari pantun lama Melayu. Dalam prosa, muncul Pengakuan Pariyem dari Linus Suryadi AG (Jawa), novel Arus dan Pulau dari Aspar (Ujung Pandang), Warisan dan Bako dari Chairul Harun dan Darman Moenir (Padang), novel Sang Guru dari Gerson Poyk (NTT), Sri Sumarah dan Bawuk dari Umar Kayam (Jawa), Burung-Burung Manyar dari Y.B. Mangunwiajaya (Jawa), dan Upacara dari Korie Layun Rampan (Kalimantan).
Mursal Esten menyebut sastra warna daerah ini sebagai “sastra Indonesia jalur kedua.” Dalam bukunya Sastra Jalur Kedua, Sebuah Pengantar (1988: 11-23), Esten membagi dua jenis sastra yang hidup di Indonesia, yakni sastra Indonesia jalur pertama dan sastra Indonesia jalur kedua. Sastra Indonesia jalur pertama adalah sastra Indonesia yang dikenal umum sekarang ini sebagai sastra nasional Indonesia. Sejarah sastra Indonesia modern yang dimulai sejak Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, sampai dengan saat ini adalah sastra Indonesia jalur pertama yang menguasai sastra nasional Indonesia, bahkan cenderung  sebagai sastra warna kota.
Sedangkan sastra Indonesia jalur kedua adalah karya-karya sastra di Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya-budaya daerah (etnis atau suku) yang tersebar di Nusantara yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Nilai dan sistem budaya yang hidup dan dianut oleh suatu kelompok masyarakat tertentu itulah yang disebut dengan budaya daerah. Uniknya, nilai dan sistem budaya daerah tidak pernah putus di dalam dirinya, meskipun ia telah berada di dalam masyarakat yang baru yang disebut masyarakat Indonesia (Esten, 1988: 11-12).
Seorang sastrawan Indonesia menurut Esten adalah seorang seniman dari dua dunia, dunia budaya daerah dan dunia budaya baru Indonesia. Sistem nilai dan budaya daerah dari mana seorang sastrawan berasal tentulah akan berpengaruh terhadap karya-karya yang diciptakannya. Ia akan merupakan bagian dari kualitas (sastra) baru itu, baik sebagai unsur maupun sebagai faktor. Gejala menguatnya nilai-nilai budaya daerah ini kemudian disebut pengamat sastra Subagio Sastrowardojo (1981) sebagai atavisme dalam sastra Indonesia. Sastra Indonesia jalur kedua ini sering dianggap salah kaprah sebagai produk dari masyarakat yang “di bawah” dibandingkan dengan masyarakat yang melahirkan sastra Indonesia jalur pertama.
Menurut Esten, sastra Indonesia jalur kedua ini belum banyak muncul ke permukaan disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, proses pembentukan masyarakat dan kebudayaannya sendiri memang lebih banyak berlangsung diam-diam; kedua, proses tersebut berlangsung di kelas masyarakat yang tidak begitu vokal; ketiga, kemungkinan juga bisa karena proses itu berlangsung bukan di pusat informasi (seperti kota-kota besar); keempat, tidak adanya kritikus sastra yang bisa dan mau memberikan legitimasi terhadap bentuk-bentuk sastra dari jalur kedua,  yang berbeda dengan konvensi sastra Indonesia dari jalur pertama (Esten, 1988: 19).
Menurut perkiraan Mursan Esten (tahun 1988) bentuk sastra Indonesia jalur kedua ini akan mewarnai sastra Indonesia di masa depan. Sastrawan-sastrawan muda Indonesia yang akan muncul tidak lahir di kota-kota besar seperti sebelumnya, akan tetapi lahir di kota-kota kecil, di daerah-daerah bahkan daerah terpencil sekalipun. Masalah yang diangkat tentu hal-hal yang akrab dengan mereka, yakni budaya daerah, budaya pinggiran yang tidak diperhitungkan oleh sastra Indonesia jalur pertama sebelumnya. Sastrawan-sastrawan Indonesia dari jalur kedua ini memiliki penghayatan yang mendalam terhadap nilai-nilai tradisional atau kultur daerahnya sehingga proses pertemuan, dialog, persinggungan, dan konsensus antara nilai-nilai budaya berlangsung lebih seimbang.
Sementara itu, pengamat sastra Indonesia yang lain, Budi Darma (2007), menyebut sastra Indonesia warna daerah atau warna lokal ini sebagai “sastra sub-kebudayaan.” Dalam artikelnya yang berjudul “Sastra Mutakhir Kita” dalam buku Bahasa, Sastra, dan Budi Darma (Editor Djoko Pitono, 2007: 223), Budi Darma menjelaskan, pada dasarnya sastra sub-kebudayaan muncul sebagai perwujudan dari kerinduan pengarang untuk lepas dari aspirasi global mondial. Di satu pihak, kita menjadi manusia nasional dan internasional, namun di lain pihak kita menuntut untuk kembali ke masa kanak-kanak kita sendiri, ke kebudayaan kita sendiri. Karena itulah muncul sastra Indonesia Jawa karya Umar Kayam dan Y.B. Mangunwijaya, sastra Indonesia Minangkabau karya Chairul Harun dan Darman Moenir, dan sastra Indonesia Dayak dalam Korrie Layun Rampan, dan sastra Indonesia warna NTT dalam karya-karya Gerson Poyk.
Budi Darma membedakan dengan sangat jelas antara sastra sub-kebudayaan dalam sastra Indonesia modern dengan sastra daerah. Sastra daerah pengarangnya menggunakan bahasa daerah, sedangkan sastra Indonesia sub-kebudayaan menggunakan bahasa Indonesia. Menurut Budi Darma (Pitono, 2007: 224), sastra sub-kebudayaan dalam sastra Indonesia mirip dengan sastra regional di Amerika, hanya sastra sub-kebudayaan Indonesia membawa muatan kebudayaan lokal yang lebih berat dibandingkan dengan sastra regional di Amerika. Dalam sastra Amerika (menurut Sumardjo, 1982: 51), Bret Harte dikenal sebagai sastrawan yang dalam karya-karyanya mengangkat warna lokal yang kuat di wilayah Timur Amerika Serikat. Nanti di Indonesia, menurut Budi Darma, akan ada sastrawan nasional Indonesia yang regional, ada pula sastrawan nasional saja yang tidak memedulikan kultur kedaerahan.
Mungkin, beberapa pengarang, sebagai misalnya Iwan Simatupang, mendapat label sebagai “sastrawan nasional” atau “sastrawan Indonesia saja.” Sedangkan pengarang yang karyanya banyak dimuati oleh unsur sub-kebudayaan, sebagaimana Umar Kayam dan Linus Suryadi AG akan disebut sebagai “sastrawan nasional yang regional.” Karya-karya mereka akan dengan sendirinya mendapat label yang sama pula sebagai sastra sub-kebudayaan (Pitono, 2007: 225). Menurut Budi Darma, sastra Indonesia yang menyuarakan kerinduan untuk kembali ke sub-sub kebudayaan masing-masing pengarang justru semakin memperkuat kedudukan sastra Indonesia. Para pengarang sub-kebudayaan menulis untuk sastra Indonesia, dan karena itu memperkaya sastra Indonesia. Karya mereka bukan karya sastra etnik. 
Sebetulnya menurut Budi Darma (Pitono, 2007: 228), jauh sebelum tahun 1970-an, ketidakpuasan terhadap Jakarta sebagai pusat standar estetika sastra Indonesia telah muncul di berbagai kawasan Indonesia. Ada berbagai kelompok sastrawan yang berusaha menentukan standar estetika sendiri lepas dari standar Jakarta. Mereka menerbitkan karya-karya mereka di media lokal, bahkan mereka menerbitkan karya-karya mereka sendiri kemudian diedarkan di antara mereka sendiri secara terbatas.
Efek lanjutan terhadap gugatan terhadap dominasi Jakarta berlanjut pada tahun 1980-an. Pada era ini lahirlah komunitas-komunitas sastra di berbagai daerah. Semua komunitas sastra, pada hakikatya, menurut Budi Darma (Pitono, 2007: 228), merupakan perwujudan kehendak untuk menggugat standar estetika Jakarta yang mapan. Mereka mulai menciptakan standar estetika baru. Komunitas-komuntas sastra di berbagai daerah di Indonesia tersebut menerbitkan karya-karya mereka sendiri, tentu saja dengan standar estetika daerah mereka masing-masing.

SASTRA INDONESIA WARNA DAERAH NUSA TENGGARA TIMUR
Setelah mendapatkan penjelasan panjang-lebar tentang pengertian dan gambaran umum tentang sastra Indonesia warna daerah (Jakob Sumardjo) atau sastra Indonesia jalur kedua (Mursal Esten) atau sastra Indonesia sub-kebudayaan (Budi Darma) di atas, maka kita dapat merumuskan pengertian sastra Indonesia warna daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sastra Indonesia warna daerah NTT adalah karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia, mengandung kultur lokal dan karakter kedaerahan khas NTT.
Kultur lokal dan karakter kedaerahan khas NTT itu, antara lain tercermin pada tema, aspirasi, amanat, latar, ketokohan, dan karakter kedaerahan NTT lainnya yang khas yang terdapat dalam karya sastra. Sastra Indonesia warna daerah NTT tentu berbeda dengan sastra Indonesia warna daerah lain, seperti sastra Indonesia Yogyakarta, sastra Indonesia Bali, sastra Indonesia Aceh, sastra Indonesia Riau, sastra Indonesia Sumatera Barat, sastra Indonesia Sulawesi Selatan, sastra Indonesia Kalimantan, dan lain-lain.
Sastra Indonesia warna daerah NTT (selanjutnya disebut sebagai sastra NTT) bertumbuh dan berkembang setelah Provinsi NTT terbentuk pada tahun 1958 sebagai hasil pemekaran Provinsi Sunda Kecil, yang kemudian menjadi Provinsi Bali, Provinsi NTB, dan Provinsi NTT. Dengan terbentuknya Provinsi NTT ini maka adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan, dan kultur dari puluhan etnis yang ada di wilayah Provinsi NTT secara perlahan-lahan dipertemukan karena interaksi dan interelasi pemerintahan dan masyarakat dalam Provinsi NTT.
Puluhan etnis yang mendiami tiga wilayah pulau besar di Provinsi NTT yang dikenal dengan nama Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor) semakin lama semakin mendekat, mencair, dan saling mempengaruhi, yang lama-kelamaan membentuk karakternya yang relatif  khas sebagai karakter masyarakat dan kultur (budaya) masyarakat NTT, yang tentu berbeda dengan kultur dan karakter masyarakat provinsi lain di Indonesia. Sejumlah faktor yang memudahkan bersatunya budaya etnik di NTT, antara lain karena kesamaan karakter sebagai masyarakat kepulauan, geografi dan topografi sama yang kering dan tandus, kesamaan adat-istiadat dalam upacara kematian, perkawinan, dan terakhir mayoritas masyarakat NTT beragama Kristen (Protestan dan Katolik).
Dalam bidang kebudayaan, lebih khusus lagi bidang kesusastraan, di samping bertumbuh dan berkembang “sastra-sastra daerah NTT” atau “sastra-sastra daerah di NTT,” yakni sastra yang menggunakan bahasa daerah (bahasa etnik) di NTT, bertumbuh dan berkembang pula sastra Indonesia warna daerah NTT (sastra NTT), yakni sastra yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai media ekspresinya. Sastra NTT ini mengandung unsur lokal kedaerahan NTT, seperti tema, aspirasi, amanat, latar, ketokohan, dan karakter kedaerahan NTT lainnya yang khas.
Karya-karya sastra Indonesia warna daerah NTT ini dihasilkan oleh pengarang-pengarang NTT, baik yang tinggal di NTT maupun di luar NTT. Pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT ini tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia di daerah lain di Indonesia. Yang berbeda mungkin segi publikasi sastra NTT yang sangat minim karena hanya mengandalkan sejumlah media cetak yang terbit di Provinsi NTT, itupun media-media cetak ini baru bertumbuh di NTT sejak tahun 2000-an. Penerbit Nusa Indah di Ende, Flores yang pada tahun 1970-1990 yang cukup gencar menerbitkan karya-karya sastra, tahun 2000-an pengaruhnya mulai meredup sampai sekarang.
Dalam penelusuran saya terhadap sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT,  ditemukan sastra NTT lahir pada tahun 1961, tiga tahun setelah Provinsi NTT terbentuk tahun 1958. Sastra NTT lahir dihitung sejak orang NTT yang pertama menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia yang dipublikasikan untuk masyarakat umum. Lewat penelusuran terhadap berbagai data dan informasi yang ada, saya temukan orang NTT pertama yang menulis dan mempublikasikan karya sastra kepada masyarakat umum adalah Bapak Gerson Poyk. Nama-nama orang NTT yang lain baru muncul kemudian setelah Gerson Poyk merintisnya.
Data otentik karya sastra Gerson Poyk yang saya temukan sebagai karya sastra awal beliau adalah cerita pendek. Cerita pendek pertama Gerson Poyk yang saya temukan berjudul “Mutiara di Tengah Sawah” dimuat dalam majalah Sastra (edisi Tahun I, Nomor 6, Oktober 1961) dan mendapat hadiah dari majalah Sastra sebagai cerpen terbaik pada tahun 1961 itu. Majalah Sastra adalah majalah bulanan yang khusus menerbitkan karya-karya sastra, terbit pertama kali tahun 1961, dipimpin H.B. Jassin dan M. Balfas (Sehandi, 2013b). 
            Setelah Gerson Poyk merintisnya tahun 1961, muncul kemudian nama-nama sastrawan NTT lain, seperti Julius Sijaranamual, Dami N. Toda, A.G. Hadzarmawit Netti, Umbu Landu Paranggi, John Dami Mukese, Usman D. Ganggang, Maria Matildis Banda, dan sejumlah generasi baru dalam sastra NTT. Hasil penelusuran panjang dan berliku saya terhadap sastra dan sastrawan NTT telah terhimpun dalam buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT yang diterbitkan Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2012.

KEBANGKITAN SASTRA INDONESIA DI NUSA TENGGARA TIMUR
Dalam penelusuran saya, sejak tahun 1961 sampai dengan tahun 2010 pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT biasa-biasa saja, nama-nama sastrawan yang disebut adalah nama-nama lama yang sudah mapan di bidang sastra pada level nasional dan regional, seperti Gerson Poyk, Julius Sijaranamual, Dami N. Toda, Ignas Kleden, John Dami Mukese, dan lain-lain. Saya mencatat, awal kebangkitan sastra dan sastrawan NTT terhitung sejak tahun 2011.
Ada sejumlah indikator yang menunjukkan tahun 2011 sebagai tahun kebangkitan sastra  dan sastrawan NTT. Pertama, jumlah penerbitan buku sastra NTT tahun 2011 jauh melampaui jumlah penerbitan buku sastra tahun-tahun sebelumnya, bahkan setelah tahun 1961. Kedua, jumlah artikel opini sastra (esai dan kritik sastra) di media cetak NTT tahun 2011 jauh melampaui jumlah artikel opini sastra tahun-tahun sebelumnya. Ketiga, jumlah cerpen dan puisi yang dimuat dalam sejumlah media cetak (harian) yang terbit di NTT terutama edisi hari Minggu jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Adapun sejumlah media cetak di NTT yang berjasa besar membangkitkan sastra NTT sejak tahun 2000 dan menguat pada tahun 2011 adalah Pos Kupang (Kelompok Kompas-Gramedia), Timor Express (Grup Jawa Pos),  Victory News (Media Grup), dan Flores Pos (milik SVD) yang terbit di Ende, Flores.
Kebangkitan sastra NTT terus berlanjut pada tahun 2012 dan 2013 dengan tiga indikator yang sama di atas. Pada tahun 2013 jatidiri sastra NTT (juga jatidiri sastrawan NTT) terbentuk dan terkonsolidasi. Terkonsolidasinya sastra dan sastrawan NTT ini berkat terobosan besar Kantor Bahasa Provinsi NTT (instansi vertikal Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI) pimpinan M. Luthfi Baihaqi.
Pada 30-31 Agustus 2013 Kantor Bahasa NTT menyelenggarakan hajatan besar yang bermartabat dengan nama “Temu 1 Sastrawan NTT.” Lebih dari 40 sastrawan NTT mengikuti pertemuan. Inilah untuk pertama kalinya sebagian sastrawan NTT bertemu, berdiskusi, membagi pengalaman, saling meneguhkan, dan menyatukan tekad bersama membangun sastra NTT ke depan yang lebih baik. Empat judul buku antologi sastra karya para sastrawan NTT peserta pertemuan (termasuk sastra anak perbatasan) diluncurkan. Ada kesepakatan dan rekomendasi yang dihasilkan, termasuk kesepakatan untuk menyelenggarakan temu sastrawan NTT secara berkala sekali dalam dua tahun, dan tahun 2015 berlangsung di Kota Ende untuk Temu 2 Sastrawan NTT, dengan penyelenggara Kantor Bahasa NTT bersama Universitas Flores.
Kehidupan sastra NTT yang terus semarak dan bergairah dapat juga terlihat dalam kegiatan sejumlah komunitas sastra di NTT. Dapat disebutkan, di antaranya komunitas sastra Dusun Flobamora, Rumah Poetika, komunitas Filokalia Santu Mikhael, Laskar Sastra, Uma Kreatif Inspirasi Mezra, Amsal Putih, Teater Engkel Universitas PGRI, komunitas Sandal Jepit di Ledalero, komunitas Timur Matahari di Adonara, Komunitas Sare dan Komunitas Puisi Jelata, keduanya di Ende. Komunitas intelektual, seperti Forum Academia NTT (FAN) dan Komunitas Blogger Flobamora juga memberikan kontribusi besar dalam memajukan sastra NTT. Dalam beberapa tahun terakhir ini sastra NTT memasuki kampus-kampus perguruan tinggi (PT) di NTT, antara lain di Undana Kupang, Universitas PGRI, Unika Widya Mandira, Unkris Artha Wacara, Seminari Tinggi Santu Mikhael, STFK Ledalero, dan Universitas Flores (Uniflor) di Ende. Hal ini terpublikasikan lewat sejumlah media massa cetak di NTT.
Agar mudah melihat sejarah pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT dari masa ke masa sejak awal kelahirannya tahun 1961, dalam buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (2012) saya membuat semacam periodisasi sederhana sejarah sastra NTT. Saya membuatnya berdasarkan usia atau umur para sastrawan NTT. Usia para sastrawan dapat  dilihat dari tanggal dan tahun kelahiran sastrawan tersebut. Dalam menyusun periodisasi sastra NTT, saya berpangkal tolak pada tanggal dan tahun kelahiran sastrawan Gerson Poyk, sang perintis sastra NTT, yakni tahun 1931. Gerson Poyk lahir pada 16 Juni 1931. Memilih tahun 1931 sebagai pangkal tolak periodisasi sejarah sastra NTT terkandung maksud sebagai bentuk rasa hormat dan penghargaan kepada Gerson Poyk yang berjasa besar dalam mengangkat citra NTT dalam panggung sastra Indonesia modern.
Dalam melakukan pengelompokan terhadap para sastrawan, tinggal diurutkan nama-nama sastrawan NTT itu berdasarkan usia atau umur sastrawan. Dimulai dari yang berusia tua sekali (sangat senior), yang sudah tua (senior), sampai dengan yang masih muda (yunior). Dalam pengelompokan sastrawan atau periodisasi sastra secara sederhana ini, saya memilih istilah “lapis,” sehingga menjadi Sastrawan NTT Lapis Pertama (lahir tahun 1931-1950), Sastrawan NTT Lapis Kedua (lahir tahun 1951-1970), Sastrawan NTT Lapis Ketiga (lahir tahun 1971-1990), Sastrawan NTT Lapis Keempat (lahir tahun 1991-2010), dan seterusnya.
Rentang jangka waktu antara lapis (generasi) yang satu dengan lapis yang lain 19 tahun. Berdasarkan usia (tanggal dan tahun kelahiran) setiap sastrawan NTT dengan gampang dimasukkan dalam lapis ke berapa. Kiranya pengelompokan sastrawan berdasarkan usia ini lebih netral dibandingkan dengan cara dan sudut pandang yang lain. Cara pengelompokan sastrawan NTT ini dapat dengan mudah diteruskan oleh siapa saja di kemudian hari untuk puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke depan.
Dalam usia sastra NTT yang ke-53 tahun pada akhir tahun 2014, sastrawan-sastrawan NTT telah mempersembahkan 135 judul buku sastra untuk masyarakat NTT, masyarakat Indonesia, dan masyarakat dunia. Adapun perinciannya, 56 judul buku novel, 37 judul buku kumpulan cerpen, dan 42 judul buku kumpulan puisi. Sastrawan NTT yang paling poduktif dan berkarya sastra selama 53 tahun terus-menerus sampai dengan akhir tahun 2014 adalah Bapak Gerson Poyk, sang perintis sastra NTT. Yang sedikit mengikuti jejak Geson Poyk dari segi produktivitas adalah Maria Matildis Banda, John Dami Mukese, dan Mezra E. Pellondou.
Dilihat dari segi kreativitas dan produktivitas (sebagai produk budaya intelektual) masyarakat NTT yang beragam dan multikultural dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta orang pada akhir tahun 2014, dalam rentang jangka waktu selama 53 tahun, angka 135 judul buku sastra yang dihasilkan para sastrawan NTT ini, menurut saya “belum berarti apa-apa.  Apalagi, sebagian buku sastra NTT ini pada saat ini sulit ditemukan di pasaran buku, karena tidak dicetak ulang oleh penerbit maupun pengarangnya. Saya sendiri masih penasaran untuk mendapatkan semua buku sastra itu. Pada saat ini saya baru memiliki 60-an judul dari 135 judul buku sastra NTT itu, yang saya kumpulkan sejak tahun 1981 sampai dengan saat ini. *

DAFTAR PUSTAKA
Esten, Mursal. 1988. Sastra Jalur Kedua, Sebuah Pengantar. Padang: Angkasa Raya.
Mahayana, Maman S. 2012. Pengarang Tidak Mati, Peranan dan Kiprah Pengarang Indonesia.  Bandung: Nuansa.
Pitono, Djoko (Editor).  2007. Bahasa, Sastra, dan Budi Darma. Surabaya: JP Books.
Sehandi, Yohanes. 2012. Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Yogyakarta: Universitas Sanata   Dharma.
Sehandi, Yohanes. 2013a. “Melacak Jejak Puisi dalam Sastra NTT,” dalam Majalah Loti   Basastra, Edisi I, Agustus 2013. Kupang: Kantor Bahasa Provinsi NTT.
Sehandi, Yohanes. 2013b. “Perjalanan Sastra NTT dari Masa ke Masa,” Makalah yang      Dipresentasikan dalam “Temu I Sastrawan NTT” di Kupang pada 30-31 Agustus 2013. Sumardjo, Jakob. 1982. Masyarakat dan Sastra Indonesia. Cetekan ke-2. Yogyakarta: Nur    Cahaya.
Sumardjo, Jakob. 1983. Pengantar Novel Indonesia. Jakarta: Karya Unipress.

(Telah dimuat dalam Majalah Ilmiah Indikator, Volume XVII, Nomor 1, Maret 2015, Penerbit UPT Publikasi dan Humas Universitas Flores, Ende).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar