Kamis, 26 September 2013

Melacak Jejak Puisi dalam Sastra NTT


Melacak Jejak Puisi dalam Sastra NTT

Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Universitas Flores, Ende,
Penulis Buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT

Tentu kita menyadari bahwa tidak gampang melacak jejak puisi dalam sastra NTT, apalagi pelacakan itu dilakukan sejak awal mula kelahiran sastra NTT sampai dengan saat ini. Di samping karena rentang jangka waktunya yang panjang, juga karena terbatasnya informasi, data, dan fakta yang tersedia sebagai modal dasar. Namun, kita harus segera sadar bahwa kalau tidak dilakukan sekarang, terus sampai kapan kita menelantarkan persoalan mendasar ini, sementara pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT terus meningkat dari tahun ke tahun.
Saya coba mengambil tantangan ini dengan melacak jejak puisi dalam sastra NTT walau penuh keterbatasan. Saya menyadari bahwa hasil pelacakan ini tidak memuaskan banyak pihak, diwarnai kelemahan yang tak terhindarkan. Inilah resiko sebuah upaya perintisan. Jejak puisi dalam sastra NTT ini dilacak sejak awal mula orang NTT menulis puisi sampai dengan perkembangannya saat ini. Semoga hasil pelacakan awal ini dapat membentuk semacam jalan setapak sejarah puisi dalam sastra NTT yang bisa dilanjutkan atau dikembangkan oleh siapa saja pada masa yang akan datang.

Sastra dan Sastrawan NTT
Sastra NTT yang dimaksudkan di sini adalah sastra Indonesia warna daerah (lokal) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan menggunakan media bahasa Indonesia. Atau sastra yang dihasilkan orang-orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia. Sastrawan NTT adalah pengarang karya sastra kelahiran NTT atau keturunan orang NTT yang mengarang dengan menggunakan bahasa Indonesia (lihat Yohanes Sehandi dalam Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT, 2012, halaman 12 dan 15). Sedangkan penyair adalah sastrawan yang mengarang syair atau sajak atau puisi. Tentang pengertian sastrawan sendiri saya mengambilnya dari rumusan Kamus Besar Bahasa Indonesia (terbitan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2001, halaman 1002) yang menunjukkan arti “sastrawan” sebagai (1) ahli sastra, (2) pujangga, pengarang prosa dan puisi, dan (3) orang pandai-pandai, cerdik cendekia. Jadi, sastrawan termasuk juga pemerhati, pengamat, dan kritikus sastra, dengan syarat mempunyai keahlian di bidang sastra atau susastra.
            Dalam upaya pelacakan ini ada beberapa pertanyaan sebagai penuntun. Pertama, sejak kapan orang NTT menulis puisi dan dipublikasikan di media massa mana? Kedua, siapa saja orang NTT yang menulis puisi pada masa awal kelahiran sastra NTT? Ketiga, siapa-siapa sastrawan NTT (penyair NTT) yang bergelut di bidang penciptaan puisi sejak awal mula sampai dengan saat ini?
            Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya coba menelusuri jejak puisi dalam sastra NTT lewat berbagai media massa cetak yang terjangkau, antara lain sebagai berikut.  Petama, puisi-puisi para penyair NTT yang dimuat Majalah Dian (terbitan Ende, Flores, NTT) selama 9 tahun, yakni dari edisi 24 Oktober 1974 s.d. edisi 10 Desember 1983. Majalah Dian adalah majalah pertama yang terbit di NTT. Kedua, puisi-puisi para penyair NTT yang dimuat harian Pos Kupang (terbitan Kupang, NTT) selama 5 tahun terakhir, yakni dari edisi awal Januari 2008 s.d. edisi akhir Juni 2013. Pelacakan jejak puisi NTT sebelum Oktober 1974 tidak bisa dilakukan karena tidak ada data dan informasi yang tersedia. Pelacakan jejak puisi NTT dari tahun 1984 sampai 2007 (selama 23 tahun) juga tidak bisa dilakukan karena alasan yang sama. Ketiga, puisi-puisi para penyair NTT yang diterbitkan dalam bentuk buku selama 39 tahun terakhir ini, yakni dari tahun 1974 sampai Juni 2013.

Lewat Majalah Dian (1974-1983)
            Pelacakan jejak puisi karya para penyair NTT lewat Majalah Dian dilakukan mulai tahun kedua penerbitan majalah tersebut, yakni edisi 24 Oktober 1974 s.d. edisi 10 Desember 1983, selama 9 tahun. Majalah Dian sendiri terbit tahun pertama pada Oktober 1973. Majalah Dian adalah majalah satu-satunya yang terbit di Provinsi NTT pada waktu itu, milik Serikat Sabda Allah, sebuah Serikat Religius dan Misionaris Katolik yang secara internasional dikenal  dengan nama Societas Verbi Divini, disingkat SVD.
            Selama 9 tahun itu, lebih dari 200 judul puisi karya dari 50-an penyair NTT yang berhasil diorbitkan Majalah Dian. Data ini saya peroleh dari Pastor John Dami Mukese, mantan Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Dian yang menghimpun puisi-puisi Majalah Dian tersebut dalam bentuk bundelan berjudul Parade Puisi Nusa Tenggara Timur 1974-1983.     Setelah saya membaca puisi-puisi itu, ada puisi yang sangat bagus kualitasnya sehingga  dikelompokkan sebagai karya sastra, ada yang setengah bagus, ada pula yang tidak bagus. Dari 50-an nama penyair itu, ada nama yang berasal dari luar NTT sehingga namanya tidak dimasukkan di sini. Kita perlu menyebut dan menaruh hormat kepada para penyair awal ini karena mereka telah berkarya dengan potensi dan kemampuan terbaik yang mereka miliki pada waktu itu, dan kini baru kita sadari bahwa mereka telah memberikan warna tesendiri dalam perjalanan sejarah sastra NTT.
            Adapun nama-nama penyair NTT yang diorbitkan Majalah Dian, antara lain (1) M.E. Carvallo (puisinya terbit pada edisi 1974); (2) Hendrik Berybe (pada edisi 1975, 1976); (3) Frans W. Hebi (1977, 1978); (4) Dami N. Toda (1977); (5) Yosef Pati Wenge (1978); (6) Mikhael B. Beding (1978, 1979, 1980, 1981); (7) Nico Ladjadjawa (1978, 1980); (8) Edu Mikhael Dosi (1978, 1979, 1980); (9) Yohanes Don Bosco Blikololong (1978, 1980, 1981, 1982); (10) Willis C. Naoe (1978, 1979); (11) David Siwa Balla (1978); (12) John Dami Mukese (1979, 1980, 1981, 1982); (13) Marthen ML. Duan (1979); (14) Valens Sili Tupen (1979); (15) Bernard Tukan (1978, 1980); (16) Kleden Suban Simon (1979, 1981, 1982); (17) Kornelis Hugo Parera (1980); (18) Osy Bataona (1980, 1981, 198); (19) Paulus Lete Boro (1981, 1982, 1983); dan (20) Umbu Landu Paranggi (1982).
            Kalau diperhatikan, nama-nama penyair ini didominasi nama-nama Lamaholot (Flores Timur dan Lembata), diikuti nama-nama Sumba, kemudian satu dua nama (dari) Timor, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Dari 20 nama tersebut, ada beberapa nama yang tampil ke permukaan bahka melejit di tingkat nasional, antara lain Dami N. Toda, Hendrik Berybe, Mikhael B. Beding, John Dami Mukese, Yohanes Don Bosco Blikololong, Paulus Lete Boro, dan Umbu Landu Paranggi.
            Dari generasi Majalah Dian sebagai generasi awal penulisan puisi dalam sastra NTT,  penyair pertama yang menerbitkan buku antologi puisi adalah Dami N. Toda (bersama 3 penyair Indonesia yang lain) dengan judul antologi adalah Penyair Muda di Depan Forum (Dewan Kesenian Jakarta, 1976). Penyair kedua yang menerbitkan buku kumpulan puisi adalah John Dami Mukese yang berjudul Doa-Doa Semesta (Penerbit Nusa Indah, Ende, cetakan ke-1, 1983, cetakan ke-2, 1989). Nama John Dami Mukese melejit di tingkat nasional pada 1980-an tatkala puisi panjangnya berjudul “Doa-Doa Semesta” (20 bait) dimuat empat halaman dalam Majalah Horison (Nomor 2, Tahun 1983, halaman 86-89).

Lewat Harian Pos Kupang (2008-2013)
            Pelacakan jejak puisi karya para penyair NTT lewat harian Pos Kupang (terbitan Kupang, NTT) dilakukan sejak tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012 sampai dengan Juni 2013. Jadi, pelacakan selama 5,5 tahun terakhir, yakni dari edisi Januari 2008 s.d. Juni 2013. Lebih dari 400 judul puisi karya 150-an penyair NTT yang telah diorbitkan Pos Kupang. Kalau diperhatikan, nama-nama 150-an penyair ini tidak lagi didominasi oleh suku-suku tertentu, tetapi menyebar merata di hampir semua kabupaten yang ada di NTT, sebagian besar usia mahasiswa.
            Setelah saya membaca puisi-puisi itu, ada puisi yang kualitasnya bagus, ada yang setengah bagus, ada yang tidak. Dari 150-an nama penyair NTT ini, ada sebagian nama berasal dari luar NTT sehingga namanya tidak dimasukkan di sini. Kita perlu menyebut dan manaruh hormat kepada mereka karena telah berkarya sastra sehingga memberi warna tersendiri dalam perjalanan sejarah sastra NTT.
            Adapun nama-nama penyair NTT yang diorbitkan Pos Kupang selama 5,5 tahun terakhir ini, antara lain (1) Magdalena Ina Tuto; (2) Gobin DD; (3) Gerard Bibang; (4) Pion Ratulolly; (5) Dody Kudji Lede; (6) Vinsen Making; (7) Inosensius Nahak Berek; (8) Esisabeth A. Sulastri; (9) Florensius Marsudi; (10) Ferdy Mello; (11) Viktorius P. Feka; (12) Mario F. Lawi; (13) Dion Tunti; (14) Soleman Febe Maria; (15) Trasianus Golo; (16) Cosmas Kopong Beda; (17) Holang Odorikus; (18) August Kani; (19) Januario Gonzaga; (20) Jimmy Meko Hayong; (21) Selamat Frans; (22) Valens Daki Soo; (23) Willem B. Berybe; (24) Rosalia Dolu; (25) Lambert Lalung Namang; (26) Ishack Sonlay; (27) Ninu Ecko; (28) Arie Putra; (29) Chintia Devi Yurensi; (30) Sisilia Semilia Seran; (31) Tinus Tamo Ama; (32) Bara Pattyradja; (33) Abdul M. Djou; (34) Amanche Franck; (35) Charlemen Djahadael; (36) Cyrilus B. Engo; (37) Felisianus Sanga; (38) Gusty Fahik; (39) Hengky Ola Sura; (40) Ivan Nestorman; (41) Jefta Atapeni; (42) Kristo Ngasi; (43) Siprianus Koda Hokeng; (44) Sipri Senda; (45) Sr. Wilda Wisang, CI; (46) Umbu Spiderno; (47) Ve Nahak; (48) Yohanes F.H. Maget; (49) Yohanes Manhitu;  (50) Yoseph Lagadoni Herin.

Lewat Penerbitan Buku (1974-2013)
            Pelacakan terakhir lewat penerbitan buku-buku puisi karya para penyair NTT selama 38,5 tahun terakhir, yakni sejak 1974 s.d. Juni 2013. Penerbitan buku kumpulan puisi merupakan kemajuan yang cukup berarti dalam sejarah sastra NTT. Mulai semaraknya penerbitan buku sastra NTT ini terhitung sejak tahun 2011.
Adapun buku-buku kumpulan puisi karya para penyair NTT selama 38,5 tahun terakhir, antara lain adalah (1) Penyair Muda di Depan Forum (Dami N. Toda, dan kawan-kawan, 1974); (2) Doa-Doa Semesta (John Dami Mukese, Nusa Indah, Ende, cetakan ke-1, 1983, cetakan ke-2, 1989); (3) Puisi-Puisi Jelata (John Dami Mukese, Nusa Indah, Ende, 1991); (4) Doa-Doa Rumah Kita (John Dami Mukese, 1996); (5) Kupanggil Namamu Madonna (John Dami Mukese, Obor, Jakarta, 2004); (6) Puisi Anggur (John Dami Mukese, 2004); (7) Ziara Anggur (Willy A. Hangguman bersama Mudji Sutrisno,  Indonesia Tera, Magelang, 2004); (8) Buru Abadi (Dami N. Toda, Indonesia Tera, Magelang, 2005);  (9) Bermula dari Rahim Cinta (Bara Pattyradja, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2005); (10) Protes Cinta Republik Iblis (Bara Pattyradja, 2006);  (11) Bunga Pasir (Usman D. Ganggang, 2006); (12) Matahari untuk Nusa Bunga (Wilda, CIJ, 2006); (13) Serumpun Madah di Pintu Janji (Wilda, CIJ, 2007); (14) Suara Sang Penyair di Gang Alamanda (Yoss Gerard Lema, Gita Kasih, Kupang, 2008); (15) Rembulan dalam Jaring Laba-Laba (Jefta H. Atapeni, 2008); (16) Riwayat Negeri Debu (Jefta H. Atapeni, Kiara Creative Publishing, Bandung, 2011); (17) Pukeng Moe Lamalera (Bruno Dasion, Lamalera, Yogyakarta, 2011);  (18) Yesus dan Tiga Paus Lamalera (Ivan Nestorman, Lamalera, Yogyakarta, 2011); (19) Cerah Hati (Christian Dicky Senda, Indie Book Corner, 2011); (20) Ketika Cinta Terbantai Sepi (Usman D. Ganggang, 2011); (21) Antologi Puisi Lonceng Sekolah (Arnoldus Ola Aman, 2011); (22) Poetae Verba (Mario F. Lawi, Bajawa Press, Yogyakarta, 2011); (23) Nyanyian Pesisir (Marsel Robot, 2012);  (24) Virgin, di Manakah Perawanmu? (Santisima Gama, Karmelindo, Malang, 2012); (25) Fatamorgana Langit Sabana (Sipri Senda, Lima Bintang, Kupang, 2012); (26) Kalau Tidak Bobo Digigit Sepi (Bara Pattyradja, 2012); (27) Kartini (Fanny J. Poyk, 2012); (28) Negeri Sembilan Matahari (Fanny J. Poyk, 2013); (29) Pesona Indonesiaku (Antologi Puisi Anak SD Kota Ende, Nusa Indah, Ende, 2013); dan (30) Mengalirlah Sunyi (Wilda, CIJ, Nusa Indah, Ende, 2013).

Penyair Perintis Sastra NTT
Siapa nama sastrawan NTT yang layak disebut sebagai penyair perintis sastra NTT? Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya coba meniru cara kerja pengamat dan kritikus sastra Indonesia dalam menentukan penyair perintis dalam sastra Indonesia. Dalam sastra Indonesia, nama Muhammad Yamin (1903-1962) diterima sebagai penyair perintis dalam sastra Indonesia.
Alasannya, setelah dilacak, Muhammad Yaminlah penyair pertama yang menulis puisi. Puisi pertamanya berjudul “Tanah Air” yang dimuat dalam majalah Jong Sumatra (edisi Juli 1920). Puisi ini sudah berbeda dengan puisi lama, seperti syair, pantun, dan gurindam. Muhammad Yamin pulalah sastrawan Indonesia pertama yang menerbitkan buku kumpulan puisi, dengan judul Tanah Air (terbit tahun 1922), yang merupakan pengembangan puisi awalnya  “Tanah Air” (lihat Maman S. Mahayana dalam Pengarang Tidak Mati: Peranan dan Kiprah Pengarang Indonesia, 2012, halaman 196-218).
Berdasarkan hasil pelacakan saya sebagaimana telah dikemukakan di atas, sastrawan  NTT pertama yang menulis puisi dalam bahasa Indonesia adalah Dami N. Toda. Beliau pulalah sastrawan NTT pertama yang menerbitkan buku kumpulan puisi. Dami N. Toda lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, lahir di Cewang, Todo-Pongkor, Manggarai pada 29 September 1942, meninggal dunia di Hamburg, Jerman, pada 10 November 2006.
Dami N. Toda menulis puisi pertama pada tahun 1969 berjudul “Sesando Negeri Savana” dimuat dalam Majalah Sastra (Nomor 7, Tahun VII, 1969). Kalau kita sepakat, maka tahun 1969 adalah tahun kelahiran puisi dalam sastra NTT. Puisi Dami N. Toda yang kedua ditulis tahun 1973 berjudul “Epitaph Buat Daisia Kecil” dimuat dalam Majalah Horison (Nomor 12, Tahun VIII, 1973). Selanjutnya, kumpula puisi Dami N. Toda pertama terbit tahun 1976 dalam bentuk antologi bersama penyair Indonesia yang lain berjudul Penyair Muda di Depan Forum (diterbitkan Dewan Kesenian Jakarta, 1976). Puisi-puisinya yang lain terdapat dalam antologi puisi Tonggak: Antologi Puisi Indoesia Modern III (Gramedia, Jakarta, 1987) editor Linus Suryadi AG. Tahun 2005 terbit buku kumpulan puisi pribadinya berjudul Buru Abadi (Indonesia Tera, Magelang, 2005). Dengan demikian, kiranya dapat disepakati bahwa “penyair perintis” dalam sastra NTT adalah Dami N. Toda. Dalam perjalanan karier kepengarangannya, Dami N. Toda memang jauh lebih banyak menulis telaah dan kritik sastra (sebagai kritikus sastra) dibandingkan dengan menulis puisi.
Pada bagian akhir artikel ini, kita perlu memikirkan bersama sejumlah agenda pelacakan puisi para penyair NTT yang perlu dilakukan oleh siapa saja. Pertama, pelacakan puisi-puisi yang diterbitkan Majalah Fox (terbitan STFK Ledalero, Maumere, Flores) yang termasuk majalah awal yang terbit di NTT (izin penerbitan oleh Jawatan Penerangan NTT pada 19 Mei 1970, izin pencetakan pada 9 Oktober 1974). Kedua, pelacakan puisi-puisi para penyair NTT yang pernah dimuat di berbagai surat kabar dan majalah tingkat nasional, misalnya di harian Kompas, Suara Karya, Sinar Harapa, Suara Pembaruan, Majalah Hidup, Horison, Kalam, Basis, dan lain-lain. Sedikit catatan, puisi “Surat untuk Tuhan” karya Pastor Leo Kleden yang dimuat harian harian Kompas, pernah terpilih menjadi puisi terbaik Indonesia pilihan Kompas pada tahun 2008. *

Yohanes Sehandi
Lahir pada 12 Juli 1960 di Dalong, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, NTT. Pendidikan formal diselesaikan di SDK Dalong (1973), SMPK Rekas (1976), SPP/SPMA Boawae (1980) ketiganya di Flores, Sarjana (S1) bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Semarang (kini Universitas Negeri Semarang, 1985), dan  Magister (S2)  bidang  Sosiologi di UMM Malang (2003).
Sejak Oktober 2010 sampai sekarang dosen di Universitas Flores (Uniflor), Ende, mengasuh mata kuliah Teori Sastra, Menulis Artikel, Bahasa Indonesia, dan Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD). Sejak Februari 2012 menjadi Kepala Lembaga Publikasi Uniflor, dan sejak Maret 2012 menjadi Ketua Dewan Penyunting Majalah Ilmiah Indikator terbitan Uniflor.       Telah menerbitkan beberapa judul buku, yakni (1) Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT (Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2012); (2) Bahasa Indonesia dalam Penulisan di Perguruan Tinggi (Widya Sari Press, Salatiga, 2013); (3) Pengantar Ilmu Sosial & Budaya Dasar bersama kawan-kawan (Widya Sari Press, Salatiga, 2013); dan (4) Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (Gita Kasih, Kupang, 2010). *
(Telah dimuat Majalah Loti Basastra, Edisi I, Agustus 2013, terbitan Kantor Bahasa NTT, Kupang).



Mengenal Artikel Opini


Mengenal Artikel Opini

Oleh Yohanes Sehandi
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Flores, Blog www.yohanessehandi.blogspot.com

Kita tentu sudah terbiasa membaca surat kabar (koran) dan majalah. Kalau kita  perhatikan, tulisan-tulisan yang terdapat di dalamnya dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok berita (news) dan  kelompok pendapat (views). Jenis tulisan yang kedua yang berisi pendapat (views) itulah yang dikenal umum dengan sebutan “artikel opini.”
Istilah artikel berasal dari bahasa Inggris article. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat KBBI), “artikel” diartikan sebagai “karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai dalam majalah, surat kabar, dan sebagainya” (KBBI, 2001, hlm. 66), sedangkan “opini” diartikan sebagai “pendapat, pikiran, pendirian” (KBBI, 2001, hlm.  800). Dengan demikian, artikel opini adalah sebuah karya tulis lengkap yang berisi pendapat, pikiran atau pendirian seseorang yang dimuat dalam surat kabar atau majalah.
Dalam buku Mahir Menulis (2009, hlm. 67-68), Mudrajad Kuncoro menyatakan, artikel opini adalah “tulisan yang menyajikan pemikiran, pendapat, ide, dan pandangan penulisnya tentang berbagai fakta dan kejadian.” Artikel opini biasanya diterbitkan dalam koran atau majalah. Karena tempatnya terbatas, artikel opini tidak terlalu panjang, hanya sekitar 4-6 halaman kuarto spasi ganda.
Menurut Slamet Soeseno dalam Teknik Penulisan Ilmiah Populer (1993, hlm. 4), artikel opini adalah “tulisan tentang suatu masalah, berikut pendapat dan pendirian penulis tentang masalah itu.” Artikel opini seringkali disebut sebagai tulisan ilmiah populer. Slamet Soeseno juga membedakan artikel opini dengan artikel ilmiah.
Yang membedakan artikel opini dengan artikel ilmiah terletak pada dua hal. Pertama, artikel opini dimuat dalam surat kabar (koran) dan majalah berita, sedangkan artikel ilmiah dimuat dalam majalah ilmiah atau jurnal ilmiah. Kedua, artikel opini kadar keilmuannya longgar, disajikan dalam ragam bahasa ilmiah populer, sedangkan artikel ilmiah disajikan dalam ragam bahasa ilmiah, penuh istilah teknis keilmuan, membahas bidang keilmuan tertentu, dan mengikuti norma penulisan karya ilmiah.   
Kita di Provinsi NTT ini mempunyai peluang untuk mempublikasikan artikel-artikel opini kita lewat berbagai surat kabar yang terbit di NTT. Yang terbit di Ende, Flores, ada Flores Pos (milik SVD) harian kebanggaan orang Flores. Yang terbit di Kupang, ada Pos Kupang (Grup Kompas-Gramedia), Timor Express (Grup Jawa Pos), dan Victory News (Media Grup).
Pada era informasi dan komunikasi sekarang ini, artikel opini mempunyai daya sihir (pikat) yang luar biasa. Artikel opini termasuk jenis tulisan favorit di banyak media massa, digemari banyak pembaca di manapun. Tulisan jenis ini juga sangat efektif  dalam menyebarluaskan gagasan atau pandangan kepada masyarakat umum.
Menulis opini di media massa sungguh membanggakan dan mendatangkan kepuasan batin yang tak tergantikan. Mereka yang tulisannya sering tembus media massa, apalagi media itu oplahnya besar dan jangkauan peredarannya luas, tentu dibaca banyak orang dengan beragam latar belakang sosial dan tingkat pendidikan. Wacana publik pun terbentuk setelah orang membaca artikel opini seseorang di media massa. 
Artikel opini berperan besar dalam membentuk opini publik. Artikel opini dapat menawarkan solusi guna memecahkan masalah krusial yang tengah dihadapi masyarakat. Artikel opini bisa menyatukan pendapat yang berbeda, bisa pula mengundang kontroversi. Artikel opini bisa menyulut perang, bisa pula mendatangkan perdamaian antara sesama, bangsa, dan negara. Artikel bisa mengalahkan pedang, senjata, bom, dan lain-lain. Ingatlah kita akan ungkapan: “Pena bisa lebih tajam daripada pedang!” Pena maksudnya adalah tulisan atau artikel.
Secara garis besar, artikel opini dibagi menjadi dua jenis, yakni artikel opini umum dan artikel opini khusus. Artikel opini umum ditulis oleh masyarakat umum, dari mana dan oleh siapa saja, yang dikirim ke redaksi media massa untuk dipublikasikan. Artikel opini khusus ditulis oleh orang-orang khusus yang mempunyai keahlian khusus dalam bidangnya. Artikel opini khusus, antara lain editorial, esai, kolom, dan resensi.
Untuk artikel opini umum, kita lihat beberapa contoh. Harian Kompas (terbitan Jakarta), pada saat ini (Agustus 2013) artikel opini dimuat pada halaman 6 dan 7, berdampingan dengan Tajuk Rencana (editorial) dan Surat kepada Redaksi (surat pembaca). Harian Pos Kupang (terbitan Kupang) artikel opini pada halaman 4 bersama dengan Salam (editorial) dan Hotline Public Service (surat pembaca). Harian Victory News (terbitan Kupang) artikel opini pada halaman 4 bersama dengan News Forum (surat pembaca). Sedangkan Flores Pos (terbitan Ende) artikel opini pada halaman 12 bersama Bentara (editorial) dan Aspirasi (surat pembaca) halaman 13.
Ada surat kabar yang mencantumkan ketentuan panjang artikel opini yang diterimanya. Misalnya, panjang 600 kata, 750 kata, 1.000 kata, atau 1.500 kata. Pos Kupang mencantumkan ketentuan panjang artikel 600 kata, Flores Pos dan Victory News 1.000 kata. Sebagai penulis kita menyiapkan panjang artikel sesuai dengan ketentuan  setiap media massa. * (Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada Sabtu, 14 Agustus 2013).