Kamis, 21 Juni 2012

Menemukan Sastra dan Sastrawan NTT


Menemukan Sastra dan Sastrawan NTT

Yohanes Sehandi
Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia
dari Universitas Flores, Ende

MELACAK sastra dan sastrawan NTT ternyata tidak gampang. Butuh waktu, tenaga, dan kesabaran khusus. Ini terjadi karena sampai sejuah ini belum pernah dilakukan pengkajian serius dan komprehensif tentang sastra dan sastrawan NTT oleh para pemerhati, pengamat, dan kritikus sastra NTT, baik di NTT maupun di luar NTT. Untuk memulainya saja serba gelap, karena tidak ada buku referensi yang tersedia.
Setelah berdiskusi dengan berbagai kalangan dan setelah membaca sejumlah buku referensi tentang perkembangan sastra Indonesia (warna lokal atau warna daerah) di berbagai daerah provinsi dan kabupaten lain di Indonesia, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tantangan ini, yakni melacak sastra dan sastrawan NTT. Pelacakan dimulai  awal tahun 2010.
Bagaimana menemukan sastra dan sastrawan NTT? Tidak ada metodologi yang dijadikan  pegangan. Saya melakukannya dengan modal akal sehat dan kemauan kuat. Kemauan untuk mengangkat citra sastra dan sastrawan NTT ke tingkat yang lebih tinggi agar dikenal secara luas di tingkat nasional atau internasional. Adapun mekanisme dan standar kerja saya dalam melacak dan menemukan sastra dan sastrawan NTT sebagai berikut.
Langkah pertama, saya mengumpulkan berbagai informasi dan data tentang sastra dan sastrawan NTT, terutama dari media massa cetak, baik yang terbit di NTT maupun di luar NTT, juga  media online. Informasi lain juga saya peroleh dari kalangan sastrawan kreatif dan pemerhati, pengamat, dan kritikus sastra.
Dari kerja pengumpulan informasi dan data ini, sampai akhir Januari 2012, saya berhasil mengumpulkan data 107 judul buku sastra NTT karya para sastrawan NTT. Sebagian buku sastra itu telah saya miliki secara pribadi yang saya kumpulkan selama 31 tahun terakhir, sejak kuliah S1 di Semarang (1981) sampai kini (2012). Buku-buku sastra ini berupa kumpulan puisi, kumpulan cerpen, naskah drama, buku novel, dan buku telaah dan kritik sastra.
Selanjutnya saya mengumpulkan data cerita pendek (cerpen) dan puisi. Untuk cerpen, saya memiliki data berupa cerpen-cerpen yang diterbitkan harian Pos Kupang edisi Minggu, selama tahun 2008, 2009, 2010, dan 2011. Harian Victory News belum terbit.  Jumlah cerpen Pos Kupang yang saya miliki 180 judul (rata-rata satu tahun 45 judul cerpen) yang berasal dari 128 cerpenis NTT (rata-rata satu tahun 32 cerpenis).
Untuk puisi, saya memiliki data puisi Pos Kupang edisi Minggu, tahun 2008, 2009, 2010, dan 2011. Jumlah puisi Pos Kupang yang saya miliki 360 judul (rata-rata satu tahun 90 judul puisi) yang berasal dari 140 penyair NTT (rata-rata satu tahun 35 penyair) yang diorbitkan harian Pos Kupang.
            Di samping bersumber dari Pos Kupang, puisi-puisi juga saya himpun dari Majalah Dian (terbitan Ende, kini tidak terbit lagi) selama 9 tahun, dari Oktober 1974 sampai Desember 1983. Lebih dari 200 judul puisi dari 50-an penyair NTT diorbitkan Majalah Dian yang dikumpulkan Pater John Dami Mukese dalam sebuah dokumen berharga yang berjudul Parade Puisi Nusa Tenggara Timur 1974-1983.
Langkah kedua, setelah menghimpun buku-buku sastra, cerpen, dan puisi, serta  naskah drama dan film, saya membaca ulang karya-karya sastra NTT itu dan memberi penilaian.  Kriteria penilaian difokuskan pada unsur-unsur intrinsik (unsur dalam) karya sastra, sedangkan unsur-unsur ekstrinsik (unsur luar) hanya dijadikan sebagai pelengkap.
Dalam memutuskan hasil penilaian, tentu saja bisa mengundang perdebatan. Mengapa karya-karya si A dimasukkan sebagai karya sastra, sementara karya-karya si B dan si C tidak. Di sinilah titik peliknya. Sebagai karya imajinatif, menilai karya sastra selalu berhimpitan unsur objektif dan unsur subjektif. Unsur objektif berupa bobot literer unsur-unsur intrinsik karya sastra, sedangkan unsur subjektif berupa bobot kepekaan mata batin pembaca (kritikus sastra) dalam menilai karya sastra.
            Langkah ketiga, setelah mendapatkan hasil penilaian, saya telusuri biografi satu per satu sastrawan NTT. Setiap sastrawan ditelusuri data biografi (riwayat hidup) dan data-data karya sastra yang telah dipublikasikan lewat berbagai media massa. Artinya, karya-karya sastra NTT yang saya kaji telah melewati seleksi tahap pertama oleh Editor (penerbit buku) atau Redaktur Sastra (surat kabar dan majalah).
Itulah ketiga mekanisme dan standar kerja saya dalam menemukan sastra dan sastrawan NTT. Kerja panjang ini saya dapatkan hasilnya yang membuat saya merasa berbahagia, sebagai berikut.
Pertama, saya dapat merumuskan definisi dan kriteria sastra NTT dan sastrawan NTT. Adapun rumusan  sastra NTT adalah “sastra tentang NTT atau sastra yang dihasilkan orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia.” Sastra NTT dalam pengertian ini adalah sastra Indonesia warna lokal NTT atau warna daerah NTT. Jadi, sastra NTT di sini tetap dalam bingkai sastra Indonesia, atau sastra NTT sebagai bagian atau “warga” sastra Indonesia. Sedangkan sastrawan NTT adalah “pengarang karya sastra kelahiran NTT atau keturunan orang NTT.” Sastrawan NTT di sini adalah juga sastrawan Indonesia yang lahir di NTT atau keturunan orang NTT.
Kedua, saya dapat mengidentifikasi nama-nama sastrawan NTT beserta karya-karya sastra yang dihasikannya. Hasilnya, ditemukanlah 64 nama sastrawan NTT. Dari 64 nama itu, ada 22 nama sastrawan NTT yang definitif, yang sudah lengkap data biografi dan data karya-karya sastranya. Karya-karya sastra mereka berbobot secara literer. Selain 22 nama, ada 42 nama lagi yang tengah ditelusuri data biografi dan data karya-karya sastranya.
Ke-64 nama sastrawan NTT ini saya masukkan dalam buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT. Ada tiga bagian buku ini, yakni Mengenal Sastra NTT, Mengenal Sastrawan NTT, dan Menyelisik Sastra NTT. Buku ini tengah diproses tahap akhir penerbitannya oleh Penerbit Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Dari 22 nama sastrawan NTT definitif di atas terdapat sejumlah nama besar, seperti Gerson Poyk, Dami N. Toda, Umbu Landu Paranggi, Julius R. Sijaranamual, Ignas Kleden, John Dami Mukese, Maria Matildis Banda, Marsel Robot, Vincentcius Jeskial Boekan, dan Mezra E. Pellondou.
Di samping 22 nama sastrawan NTT, terdapat 42 nama sastrawan NTT yang tengah ditelusuri data biografi dan data karya-karya sastranya. Di antaranya, terdapat nama Abdul M. Djou, Amanche Franck, Aster Bili Bora, Bruno Dasion, Charlemen Djahadael,  Cyrilus B. Engo, Even Edomeko, Felisianus Sanga, Frans Piter Kembo, Frans W. Hebi, Inyo Soro, Ishack Sonlay, Jefta Atapeni, Jimmy Meko Hayong, Jose Wasa, Leo Kleden,  Michael B. Beding, Robert Fahik, Ruben Paineon, Sipri Senda, Sr. Wilda Wisang, Umbu Spiderno, Ve Nahak, Vinsen Making, Willem B. Berybe, Yohanes F.H. Maget, Yohanes Don Bosco Blikololong,  Y.T.P. Daman, dan  Yoseph Lagadoni Herin. * (Telah dimuat harian Victory News (Kupang) pada 10 Juni 2012).





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar