Senin, 16 Januari 2012

Menelusuri Jejak Sastra Indonesia di NTT

Menelusuri Jejak Sastra Indonesia di NTT

Oleh Yoseph Yapi Taum
Dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Inisiatif dan upaya Yohanes Sehandi, pemerhati bahasa dan sastra Indonesia dari  Universitas Flores, Ende untuk  “Melacak Sastra dan Sastrawan NTT” (Flores Pos, 10 dan 11 Januari 2012) patut disambut dan diapresiasi. Di beberapa wilayah lain di Kawasan Timur Indonesia, inisiatif dan upaya seperti itu sudah dilakukan. 
Micky Hidayat, misalnya, menulis sebuah risalat yang panjang dengan judul Sepintas Sastrawan dan Komunitas Sastra di Kalimantan. Secara kronologis, dengan mengikuti periodisasi sastra Indonesia, ia mengungkap sastrawan-sastrawan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat. Dalam ulasannya, semua putra-putri Kalimantan yang menerbitkan karya sastranya dan yang berdomisili di mana pun di seluruh Indonesia dikategorikannya sebagai Sastrawan Kalimantan. Tidak ada kriteria dalam menentukan seseorang sebagai sastrawan. Berapapun karya sastra yang dihasilkannya, ia berhak diklasifikasikan sebagai sastrawan, suka atau tidak suka.
Hal yang dilakukan Micky Hidayat di atas dilakukan pula oleh Komunitas Sastra Manado, Sulawesi Utara. Apa yang dilakukan oleh Komunitas Sastra Manado ini lebih sederhana lagi.  Mereka mendata semua sastrawan-sastrawan Manado dan karya-karyanya, tanpa membuat rumusan pengertian dan kriteria. Yang penting bagi mereka, nama-nama sastrawan Manado, Sulawesi Utara dapat terdata dan diketahui masyarakat umum.  
Dalam tulisannya di Flores Pos itu, Yohanes Sehandi mengangkat lima agenda dalam proyek  “Melacak Sastra dan Sastrawan NTT.” Ada dua agenda penting yang secara akademis menimbulkan persoalan. Kedua agenda itu adalah (1) rumusan pengertian dan kriteria sastra NTT dan sastrawan NTT, dan (2) kajian tentang local genius sastra NTT. Agenda yang kedua memiliki kaitan yang erat atau menjadi dasar untuk agenda yang pertama.
Sastra Indonesia di NTT
            Ada dua pertanyaan akademis yang berkaitan dengan kriteria sastra NTT dan sastrawan NTT. Pertama, apakah ada karakteristik yang menunjukkan dan membedakan sastra NTT dari sastra daerah lainnya di Indonesia?  Kedua, apa sajakah local genius NTT yang mewarnai sastra NTT dan sastrawan NTT itu?
Pertanyaan pertama kiranya paralel dengan perdebatan nasional tentang kriteria film Indonesia. Jika kita menonton film-film India, Cina, Korea, dan Jepang kita mungkin segera memahami pola-pola ekspresi dan struktur-struktur yang khas dari negara-negaranya. Tetapi jika kita menonton film Indonesia, rasanya tidak mudah bagi kita sendiri, apalagi bagi orang asing, menangkap karakteristik film Indonesia. Film Indonesia bisa berjalan tanpa identitas.         Perbandingan ini tidak hendak menyederhanakan persoalan karakteristik sastra NTT dan sastrawan NTT: seolah-olah bisa diabaikan begitu saja. Ini sekadar menunjukkan bahwa di level nasional saja kita tidak peduli dengan upaya membangun identitas. Sebuah bangsa yang beradab seharusnya dapat membangun identitasnya sendiri dan tidak hanya meniru budaya-budaya luar.  
Identitas sastra NTT dan sastrawan NTT menurut saya seharusnya ada. Kalaupun belum jelas, maka diperlukan sebuah “strategi kebudayaan” (semacam social-engineering) untuk merumuskannya. Beberapa pertanyaan panduan dapat diajukan. Apakah NTT sebagai propinsi kepulauan beridentitaskan Sastra Laut? Apakah NTT yang kaya akan kehidupan huma dan ladang di padang savannah beridentitaskan Sastra Savannah? Apakah NTT yang merupakan propinsi dengan penduduk beragama Kristiani terbesar di Indonesia beridentitaskan Sastra Kristiani? Lebih lanjut, apakah identitas itu perlu dibangun berdasarkan ciri-ciri itu secara otonom ataukah campuran antara ciri-ciri tersebut? Secara akademis, pertanyaan ini dapat saja dijawab, tetapi dalam praktiknya dapat menimbulkan “debat kusir.” Jika, misalnya, ada putra NTT menulis karya sastra dan mengabaikan berbagai kriteria yang mengikat itu, apakah dia tidak berhak disebut sebagai sastrawan NTT? 
Pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang paling sukar. Local genius NTT apa sajakah yang mewarnai sastra NTT dan sastrawan NTT itu? Local genius berkaitan dengan akar tradisi dan kearifan lokal orang NTT. Beberapa studi tentang struktur puisi ritual dan naratif dari berbagai daerah di NTT telah menunjukkan adanya “pola estetika khas NTT” yang indah dan mengagumkan dengan struktur diad dan paralelisme bentuk maupun isi. Pola-pola itu bahkan terbukti telah mempengaruhi cipta sastra orang NTT.
Studi-studi teologi dan filsafat pada beberapa wilayah di NTT pun telah menyimpulkan metode berpikir dan pola pemujaan Ilahi yang mirip satu dengan yang lain. Dari studi-studi itu, sebenarnya sudah dapat disimpulkan local genius yang dapat dijadikan sumber inspirasi bagi sastrawan NTT. Persoalannya sama dengan di atas. Apabila muncul sastrawan muda dari NTT yang tidak mengindahkan local genius dalam karya-karyanya, masih berhak-kah dia disebut sebagai sastrawan NTT?
Agenda Praktis ke Depan
Frans Mido dalam tulisan Yohanes Sehandi itu telah mengajukan saran yang tepat dan bijaksana, yaitu memasukkan kriteria “bahasa Indonesia.”  Kutipan selengkapnya berbunyi sebagai berikut. “Dengan dimasukkannya kriteria “bahasa Indonesia” dalam rumusan pengertian sastra NTT dan sastrawan NTT, maka kita dapat membedakan  sastra NTT (yang menggunakan bahasa Indonesia) dengan sastra daerah NTT (yang menggunakan bahasa-bahasa daerah di NTT). Usulan ini diterima dengan senang hati. Dengan demikian, maka rumusan pengertian sastra NTT disempurnakan. Sastra NTT adalah “sastra tentang NTT atau sastra yang dihasilkan orang NTT dengan menggunakan media bahasa Indonesia!”
Jika usulan ini diterima, dan bagi saya sebaiknya diterima, maka “agenda ke depan” menjadi lebih sederhana. Kita cuma akan menginventarisasi nama-nama sastrawan NTT dan karya-karya sastranya. Sastrawan NTT itu bisa kelahiran NTT, berdarah NTT, ataupun yang menulis tentang NTT dengan menggunakan “media bahasa Indonesia” ataupun ada terjemahan bahasa Indonesianya.
Jika ada penyair dari TTS yang menulis puisi dalam bahasa Dawan dan ada terjemahan bahasa Indonesia-nya, maka dia juga berhak disebut sebagai sastrawan NTT. Sastrawan NTT itu jadinya bukan sebuah kelas yang sangat eksklusif. Sekalipun dia tidak mengindahkan berbagai kriteria, hukum, dan persyaratan yang diharapkan, dia tetap berhak disebut sebagai sastrawan NTT. Memang diperlukan sebuah standar minimal untuk menyebut seseorang sebagai sastrawan, dan hal ini menjadi tugas kritikus sastra seperti Yohanes Sehandi. Bahwa pengarang yang bersangkutan merasa risih dan tidak pantas disebut sebagai sastrawan, itu tentu bukan urusan kritikus sastra.
Menelusuri jejak sastra Indonesia di NTT awalnya menjadi sebuah pekerjaan sejarah sastra. Semua karya sastra orang NTT, termasuk yang berdomisili di luar NTT, diinventarisasi, diklasifikasikan menurut periode dan aliran kesusastraannya. Sumbangan sejarah sastra ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kritik sastra dan teori sastra NTT. *
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 17 Januari 2012).  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar