Jumat, 27 Mei 2011

Memperingati Bulan Bahasa 2010 (3)

Memperingati Bulan Bahasa 2010  (3)
Gorys Keraf,
Tokoh Legendaris Bahasa Indonesia
Oleh Yohanes Sehandi
Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia

            Tahun 1970-an dan 1980-an, nama Gorys Keraf  adalah nama ilmuwan bahasa Indonesia yang paling banyak dikenal para pelajar dan mahasiswa Indonesia. Buku karyanya  yang pertama dan monumental, Tatabahasa Indonesia (1970), membuat namanya meroket cakrawala ilmu bahasa dan tata bahasa Indonesia. Gorys Keraf adalah tokoh legendaris bahasa Indonesia.
Namanya terus melambung menyusul terbit bukunya  yang kedua dan juga monumental,  Komposisi (1971), yang berisi pedoman penulisan karangan ilmiah bagi pelajar dan mahasiswa. Di kalangan pelajar dan mahasiswa tahun 1970-an dan 1980-an, kedua buku itu dianggap seperti kitab suci saja.
            Gorys Keraf adalah ilmuwan bahasa dan dosen sejati. Sejak meraih gelar Sarjana Sastra di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1964, Gorys Keraf memilih jadi dosen di almamaternya sampai akhir hayatnya tahun 1997. Selain dosen  pada Fakultas Sastra UI (program S1, S2, S3), juga dosen di FISIP UI, Pascasarjana Hukum UI, Universitas Trisakti, dan Universitas Tarumanegara, Jakarta.
Beliau juga pernah mengajar  bahasa Indonesia di SMAK Syuradikara Ende, SMA Seminari Hokeng, SMA Budhaya II Jakarta, SMA Santa Ursula, SMA Santa Theresia, Unika Atma Jaya Jakarta, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta, dan Jakarta Academy of Languages Jakarta. Pernah menjadi pengasuh tetap rubrik “Pembinaan Bahasa Indonesia” pada harian Surya, Surabaya, dan sesekali tampil di layar TVRI membawakan acara “Pembinaan Bahasa Indonesia.”
Gorys Keraf dikenal luas sebagai ilmuwan bahasa yang berbobot dan penulis buku serius. Buku Tatabahasa Indonesia yang diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende, pada 1970 adalah buku yang menurut Bambang Kaswanti Purwo (1987), “pengaruhnya begitu mendalam merasuki relung-relung pengajaran bahasa Indonesia.”  Buku yang beredar luas dan merata di seluruh wilayah Indonesia ini sampai dengan penulisnya meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 telah mengalami cetak ulang yang ke-15.
Bambang Kaswanti Purwo, seorang ilmuwan bahasa yang sangat cerdas dari Unika Atma Jaya, Jakarta, melakukan penelitian terhadap ratusan buku tata bahasa yang terbit tahun 1900-1982 (selama 82 tahun), baik buku yang (masih) ditulis dalam bahasa Melayu (1900-1928) maupun yang ditulis dalam bahasa Indonesia (1928-1982). Tujuan penelitian untuk mengetahui, mana buku tata bahasa Indonesia yang paling banyak dibaca dan berpengaruh luas di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia.
Sebanyak 174 buku tata bahasa yang diteliti Bambang. Dari 174 buku itu, yang ditulis dalam bahasa Indonesia/Melayu sebanyak 105, dalam bahasa Belanda 24, bahasa Inggris 29, dan bahasa-bahasa yang lain 16. Hasil penelitiannya dituangkan dalam artikel yang menarik berjudul  “Menguak Alisjahbana dan Keraf: Pengajaran Bahasa Indonesia,” dimuat dalam majalah  Basis (Nomor 12, Tahun XXXVI, 1987, hlm. 457-477).
Hasil penelitian Bambang menunjukkan, dari 174 buku tata bahasa Indonesia yang diteliti, ada dua buku yang paling banyak dibaca dan berpengaruh luas di kalangan pelajar dan mahasiswa Indonesia selama lebih dari 25 tahun.  Kedua buku itu adalah  (1) Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (jilid 1 dan 2) karangan Sutan Takdir Alisjahbana (diterbitkan Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 1949), dan  (2) Tatabahasa Indonesia  karangan Gorys Keraf  (diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende, 1970).
Buku tata bahasa Sutan Takdir Alisjahbana (STA) yang terbit pertama kali 1949, sampai dengan tahun 1981 (selama 32 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-43 (jilid 1) dan cetak ulang ke-30 (jilid 2). Sementara itu, buku tata bahasa Gorys Keraf yang terbit pertama kali 1970, sampai dengan tahun 1984 (selama 14 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-10, dan sampai beliau meninggal tahun 1997 (selama 27 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-15.
Jumlah buku tata bahasa Gorys Keraf yang beredar di masyarakat tentu jauh melampaui jumlah cetakannya, karena sebagian besar buku ini dijual secara ilegal di pasaran bebas.  Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tahun 1989  pernah mensinyalir bahwa  buku yang paling banyak dibajak dan dijual secara ilegal di pasaran bebas  pada kurun waktu 1970-an dan 1980-an adalah buku Tatabahasa Indonesia karangan Gorys Keraf. Keperkasaan buku tata bahasa Gorys Keraf ini mulai berkurang setelah Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen P dan K,  pada tahun 1988 (waktu Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta)  meluncurkan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesi (1988).
Karya tulis Gorys Keraf yang lain setelah buku Tatabahasa Indonesia  adalah  (1) Komposisi  (1971); (2) Eksposisi dan Deskripsi (1981); (3) Argumentasi dan Narasi (1982); (4) Diksi dan Gaya Bahasa (1984); (5) Linguistik Bandingan Historis (1984); (6) Linguistik Bandingan Tipologis (1990); (7) Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia (1991); (8) Cakap Berbahasa Indonesia (1995); (9) dan Fasih Berbahasa Indonesia (1996).
Hasil penelitiannya yang mendalam atas bahasa-bahasa Nusantara sebagaimana dipaparkannya dalam buku Linguistik Bandingan Historis (1984) membuahkan  “teori baru” yang mengejutkan banyak ahli antropologi, tentang asal-usul bahasa dan bangsa Indonesia. Teori Keraf  menyebutkan, nenek moyang bangsa Indonesia “berasal dari wilayah Indonesia sendiri,” bukan dari mana-mana, bukan pula dari Asia Tenggara Daratan atau dari Semenanjung Malaka sebagaimana dipahami masyarakat umum selama ini. Teorinya ini didasarkan pada tiga landasan tinjauan, yakni (1) situasi geografis masa lampau,  (2) pertumbuhan dan penyebaran umat manusia, dan (3) teori migrasi bahasa dan leksikostatistik. ***
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 29 Oktober 2010).





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar