Jumat, 27 Mei 2011

Memperingati Bulan Bahasa 2010 (2)

Memperingati Bulan Bahasa 2010  (2)
Flores, Sumber Ilmuwan Bahasa
Oleh Yohanes Sehandi
Pemerhati Bahasa dan Sastra Indonesia

            Apakah kita pernah menyadari bahwa Flores adalah lahan subur penyumbang ilmuwan bahasa di tingkat nasional?  Siapa di antara kita yang tidak mengenal nama Gorys Keraf, tokoh legendaris bahasa Indonesia? Selain Gorys Keraf, masih sederet lagi ilmuwan bahasa kelahiran Flores yang berkibar dan mengharumkan nama Flores di tingkat nasional, yakni Jos Daniel Parera, Stephanus Djawanai, dan Inyo Yos Fernandez – untuk sekedar menyebut beberapa nama.
Tentu masih banyak lagi ilmuwan bahasa kelahiran Flores yang tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, seperti Aron Meko Mbete, Mans Mandaru, Agus Semiun, dan Feliks Tans, namun karena keterbatasan saya untuk menemukan karya-karya tulis ilmiah mereka, baik berupa buku maupun artikel dalam berbagai majalah dan jurnal ilmiah, sehingga untuk kali ini  baru  empat nama ilmuwan bahasa dari Flores yang bisa saya  perkenalkan.
Pertama, Gorys Keraf. Lahir pada 17 November 1936 di Lamalera, Lembata. Meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 di Jakarta dalam usia 61 tahun. Setelah menyelesaikan SD di Lamalera, SMP di Seminari Hokeng (1954), SMAK Syuradikara Ende (1958), melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan meraih gelar Sarjana Sastra (1964). Gelar Doktor dalam bidang linguistik (ilmu bahasa) diraih tahun 1978 dengan promotor Prof. Dr. Amran Halim, Prof. Dr. J.W.M. Verhaar, dan Dr. E.K.M. Masinambouw. Judul disertasi Morfologi Dialek Lamalera (1978). Gelar profesor atau guru besar disandangnya pada tahun 1991. Tentang riwayat pekerjaan dan karya-karya  ilmiah Gorys Keraf akan dipaparkan secara khusus dalam edisi yang akan datang.
Kedua, Jos Daniel Parera. Dalam berbagai biodatanya, Jos Daniel Parera tidak pernah menyebut tanggal lahir dan tempat (kampung) kelahirannya di Flores. Biodatanya dimulai dengan keterangan sebagai Sarjana Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1964). Aktif sebagai dosen tetap pada IKIP Negeri Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) pada jurusan (program studi) bahasa Indonesia dan bahasa Jerman. Pernah mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Jerman di SMAK Syuradikara Ende (1957), SMA Santa Ursula Jakarta, SMA Santa Theresia, SMA Regina Pacis, dan SMAK Budhaya  Jakarta (1960-1968).
Karya-karya tulis Jos Daniel Parera yang sempat ditelusuri, antara lain  (1) Pengantar Linguistik Umum: Bidang Umum (1977); (2) Pengantar Linguistik Umum: Bidang Morfologi (1977); (3) Pengantar Linguistik Umum: Bidang Sintaksis (1977); (4) Pengantar Linguistik Umum: Bidang Fonetik dan Fonemik (1983); (5) Belajar Mengemukakan Pendapat (1982); (6) Riset Pola Klausa Bahasa Indonesia Buku-Buku Sekolah Dasar (1977); (6) Riset Kemampuan Membaca dan Menulis Siswa SMP Se-Jakarta Raya (1978); (7) Metode Penulisan Ilmiah (1981); (8) Metode Penelitian Pengajaran Bahasa (1981); (9) Linguistik Bandingan Nusantara (1981); (10) Linguistik Terapan (1982); (11) Menulis Tertib dan Sistematis (1983); (12) Keterampilan Bertanya dan Menjelaskan (1983); (13) Psikolinguistik (1982); dan (14) Linguistik Edukasional (1987).
Ketiga, Stephanus Djawanai. Lahir pada 10 Oktober 1943 di Bajawa, Ngada. Menyelesaikan Sekolah Rakyat di Bajawa (1955), SMP Seminari Mataloko (1958), SMAK Syuradikara Ende (1962), Sarjana Sastra Inggris dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan (kini Fakultas Ilmu Budaya)  UGM, Yogyakarta (1970), Master of Arts (MA) linguistik  (1976),  dan Doktor (PhD) linguistik dari University of Michigan, USA (1980). Dikukuhkan sebagai profesor di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM pada 4 November 2009 dengan judul pidato ilmiah  Telaah Bahasa, Telaah Manusia (2009).
Aktif sebagai dosen tetap pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (S1, S2, S3)  sejak 1973, Koordinator Program S2 Kajian Amerika UGM, Pembantu Dekan I, Sekretaris Jurusan, Koordinator mata kuliah bahasa Inggris untuk  non-jurusan Inggris (21 Fakultas di UGM),   Ketua Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA, Yogyakarta,  dan sejumlah jabatan penting lain.
Disertasi doktornya yang berjudul Ngadha Text Tradition: A Linguistic Investigation Into The Collective Mind of The Ngadha People, Flores (1980) telah diterbitkan oleh Pacific Linguistics, ANU, Canbera, Australia (1983).
Karya tulis ilmiah  dari tangan Djawanai, antara lain  (1) Teori Tagmemik, dalam Teori dan Metode Linguistik (1985); (2) Teori Fungsi, Kategori, dan Peran (2001); (3) Bahasa dan Kesadaran: Kajian Humaniora dalam Integrasi, Moral Bangsa, dan Perubahan (2002).  Artikel-artikel ilmiahnya  tersebar di berbagai majalah dan jurnal ilmiah, tentang bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun  dalam bahasa Inggris. Pada saat ini Profesor Djawanai berkantor di Universitas Flores, Ende, dalam rangka membantu program peningkatan mutu  Universitas Flores.
Keempat, Inyo Yos Fernandez. Lahir pada 21 September 1946 di Larantuka, Flores Timur. Setelah  menamatkan SD dan SMP di Larantuka melanjutkan studi ke SMA Seminari dan Seminari Tinggi di Ledalero (1968). Meraih gelar Sarjana Sastra pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, Yogyakarta (1977). Aktif sebagai dosen tetap pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM sejak 1980, Pascasarjana UGM, Universitas Sam Ratulangi Manado, dan Universitas Padjadjaran Bandung. Pernah mengajar di SMAK Giovani dan Undana Kupang (1972-1975).
Gelar doktor linguistik diperoleh di UGM (1988) dengan judul disertasi Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores: Kajian Linguistik Historis Komparatif Terhadap Sembilan Bahasa di Flores dengan promotor Prof. Dr. Anton M. Moeliono, Prof. Dr. Bernd Nothofer, dan Prof. Drs. M. Ramlan. Disertasi yang telah diterbitkan dalam bentuk buku oleh Penerbit Nusa Indah, Ende  (1996) ini menelaah kekerabatan sembilan bahasa di Flores, yakni bahasa Manggarai, Rembong, Komodo, Ngadha, Palu’e, Lio, Sikka, Lamaholot, dan Kedang. Penelitian kebahasaan Inyo Yos Fernandez sebagian besar dilakukan terhadap bahasa-bahasa (daerah) di Flores, Timor, dan Timor Timur (kini Timor Leste). ***
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 28 Oktober 2010).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar