Jumat, 27 Mei 2011

Halo ... Provinsi Flores (2)

Halo … Provinsi Flores ? (2)

Oleh Yohanes Sehandi
Lembaga Publikasi Universitas Flores                                                             

Ketentuan-ketentuan lain yang berkaitan dengan pembentukan daerah otonom baru (pemekaran daerah) tinggal disesuaikan dengan tuntutan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah.
Pemerintah Provinsi sebetulnya sudah sangat mahir mengurus pemekaran daerah ini dengan terbentuk banyaknya kabupaten baru di NTT. Kemahiran yang sama sebetulnya dilakukan untuk pembentukan Provinsi Flores, tetapi ternyata tidak dilakukan.
Dalam catatan saya, mencuat kembalinya isu pembentukan Provinsi Flores setelah Mubes Orang Flores 2003, terjadi pada dua momen politik penting tingkat Provinsi NTT. Pertama, pada momen politik kampanye Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTT bulan Juni 2008. Pada musim kampanye itu, pasangan Ibrahim A. Medah dan Paulus Moa (TULUS)  paling serius dan gencar menjanjikan perjuangan pembentukan Provinsi Flores. Bahkan pasangan ini, pada waktu kampanye di daratan Flores dan Lembata, menempatkan pembentukan Provinsi Flores sebagai program  utama atau prioritas, disusul  program pendidikan gratis dan kesehatan gratis.
Pasangan Frans Lebu Raya dan Esthon L. Foenay (FREN)  juga tidak kalah gencar menjanjikan perjuangan pembentukan Provinsi Flores, meski sempat diisukan lawan politiknya bahwa Frans Lebu Raya tidak mendukung Provinsi Flores. Dalam berbagai kesempatan kampanye di daratan Flores, Frans Lebu Raya mematahkan isu miring itu, dengan mengatakan bahwa sampai dengan tahun 2008 (saat itu)  satu-satunya Fraksi di DPRD NTT yang secara resmi dalam Rapat Paripurna DPRD NTT, menyatakan dukungan pembentukan Provinsi Flores hanyalah Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi lain tidak pernah (termasuk Fraksi Partai Golkar).  Pasangan Gaspar P. Ehok dan Yulius Bobo (GAUL) mendukung juga pembentukan Provinsi Flores, tetapi tidak segencar pasangan TULUS dan FREN.
Yang terpilih kemudian menjadi Gubernur dan Wakil Gubernu NTT adalah pasangan Frans Lebu Raya dan Esthon L. Foenay (FREN) untuk masa jabatan 2008-2013.  Kini  masa jabatan FREN tinggal dua tahun lebih. Masyarakat NTT, lebih khusus lagi masyarakat Flores dan Lembata, tentu bertanya-tanya, apa yang telah diperjuangkan FREN sampai sejauh ini untuk pembentukan Provinsi Flores?  Mana janji politikmu,  FREN?
Kedua,  momen politik Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Provinsi NTT pada 20 November 2009 di Kupang. Pada waktu Musda Golkar itu, dalam pidato politiknya, Ketua DPD I Partai Golkar NTT, Ibrahim A. Medah, yang kembali mencalonkan diri menjadi Ketua DPD I Partai Golkar NTT periode 2009-2014, menempatkan lagi perjuangan pembentukan Provinsi Flores sebagai program utama (prioritas) Partai Golkar NTT tahun 2009-2014, apabila dirinya terpilih kembali. Alhasil, 20 DPD II Partai Golkar dari 20 kabupaten/kota  se-NTT (Kabupaten Sabu Raijua belum terbentuk) ditambah dengan organisasi pendiri, organisasi yang didirikan, dan organisasi sayap Partai Golkar NTT, secara aklamasi memilih Ibrahim A. Medah menjadi Ketua DPD I Partai Golkar NTT. Terpilihlah Ibrahim A. Medah menjadi Ketua DPD I Partai Golkar NTT periode 2009-2014 berkat piawai memainkan isu politik strategis, yakni pembentukan Provinsi Flores  (lihat Pos Kupang, 21/11/2009).
Dalam Musda Partai Golkar itu, Ibrahim A. Medah memberi jaminan kepada para peserta Musda bahwa Provinsi Flores harus sudah terbentuk dalam kurun waktu 2009-2014, dan semua peserta Musda yang berasal dari 20 kabupaten/kota  di NTT mendukung sepenuhnya  perjuangan tersebut. Pada titik ini, isu Provinsi Flores benar-benar menjadi komoditi politik oleh Ibrahim A. Medah untuk meraih kursi Ketua DPD I Partai Golkar NTT.
Frans Bapa (Wakil Ketua DPD II Partai Golkar Sikka), di sela-sela Musda itu  menyatakan:  “DPD II mendukung perjuangan pembentukan Provinsi Flores. Kami berharap melalui Pak Medah, perjuangan itu  dapat ditindaklanjuti, karena jika dilihat dari sisi syarat, sudah terpenuhi. Tidak hanya untuk Flores, harapan masyarakat NTT harus dapat diperjuangkan Partai Golkar ke depan.” Sementara Marselus Petu (Ketua DPD II Partai Golkar Ende) menyatakan: “Kami juga berharap, melalui kepemimpinan Pak Medah, pembentukan Provinsi Flores akan menjadi kenyataan.”  Martin Bria Seran (Ketua DPD II Partai Golkar Belu) sebagai wakil dari Timor, Sumba, dan Alor menyatakan: “Kami berharap di tangan Pak Medah, kader partai ini semakin solid membangun partai, terutama dalam mengakomodir keinginan dan harapan masyarakat. Termasuk keinginan masyarakat Flores yang berjuang menjadikan Provinsi Flores. Kami di luar Flores pun telah mendukung hal itu” (Pos Kupang (21/11/2009).
Masa jabatan Ibrahim A. Medah sebagai Ketua DPD I Partai Golkar NTT tinggal tiga tahun lebih. Masyarakat NTT, lebih khusus lagi masyarakat Flores dan Lembata, ditambah lagi dengan  20 DPD II Partai Golkar se-NTT yang telah memilihnya, tentu bertanya-tanya, apa  yang telah diperjuangkan Ibrahim A. Medah bersama Partai Golkar NTT sampai sejauh ini untuk pembentukan Provinsi Flores? Mana janji politikmu, hai Iban Medah?
Frans Lebu Raya adalah  Gubernur NTT periode 2008-2013, merangkap Ketua DPD PDI Perjuangan NTT periode 2010-2015. Ibrahim A.Medah adalah Ketua DPRD NTT periode 2009-2014, merangkap Ketua DPD I Partai Golkar NTT periode 2009-2014. Kedua tokoh politik ini adalah orang kuat di NTT pada saat ini. Kedua tokoh ini juga adalah tokoh kunci dan pemegang palu politik untuk keputusan politik strategis semacam pembentukan Provinsi Flores. Tidak ada yang lebih berkuasa di Provinsi NTT pada saat ini, kecuali kedua tokoh ini.  
Sudah pasti, kedua tokoh politik ini adalah calon kuat Gubernur NTT pada Pilgub NTT 2013. Kedua tokoh ini pula menentukan kemenangan PDI Perjuangan dan Partai Golkar di NTT pada Pemilu 2014. Momen politik penting dan strategis tahun 2013 dan 2014, dari kacamatan perjuangan politik, bisa dinilai masih lama, bisa pula sudah dekat. Kalau sampai dengan tahun 2013 atau  2014, Provinsi Flores belum juga terbentuk, kita tidak bisa bayangkan, seperti apa sikap politik orang-orang  Flores dan Lembata? ***
(Telah dimuat harian Flores Pos (Ende) pada 12 April 2011).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar